26 Maret 2015

Wisuda= Tenggat Waktu Yang Tercapai

di 23.22
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini
Cepat sekali waktu berlalu. Jadi ingat logo di tembok kos vida, 
“Jangan mengira waktu berlalu begitu cepat, mungkin kau yang bergerak begitu lambat”. 
Kurang lebih begitulah bunyinya. Tapi saya pun mengamini, cepat sekali waktu di lalui di kampus UIN ini. Masuk bulan September 2013, kini kami sudah harus di wisuda ahad besok. Antara senang, bangga, serta galau jadi penyempurna rasa ini. Ya, strata magister menuntut kami memiliki kompetensi yang lebih dari sebelumnya. Itulah yang membuat saya takut, takut melangkah karena beban di pundak semakin berat. Takut menatap karena di depan banyak ranjau menanti. Takut ini, takut itu. Mungkin perasaan yang wajar dialami para wisudawan. Bahkan banyak yang bilang, “Wisuda adalah gerbang pengangguran”. 
sumber
Pemeo ini tidak begitu saya fikirkan. Sebagai muslim yang baik kita percaya bahwa :

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberinya rezeki (QS. Hud: 6)
Jadi bisa-bisa ikut musyrik seseorang bila ikut meyakini bahwa wisuda adalah gerbang pengangguran, karena ia tidak percaya Allah Ar Rozzaq. Bahwa rezeki adalah rahasia sebagaimana ajal, lahir, jodoh, bahagia dan sedih. Kita hanya harus menggapainya dengan usaha keras. Bahwa rezeki bukan hanya pekerjaan dibalik kursi yang penuh formalitas, tidak ada definisi pekerjaan termulia dalam kitab manapun dan tidak ada satu pekerjaan tercela disudut dunia manapun. Tinggi rendahnya seseorang bukan karena pekerjaan yang dimilikinya. Hanya soal persepsi saja, bagi tiap mata punya hak melihat mana yang terbaik diantara yang baik.
Ketakutan para wisudawan bukanlah takut hanya sedikit risau dengan berbagai anggapan masyarakat dan orang tua yang terlalu berharap banyak pada anaknya. Untuk itulah sebagai teman, kakak, sahabat, adik, orang tua dari teman-teman yang di wisuda  selayaknya jangan memberi pertanyaan yang menjustifikasikannya bahkan menyudutkan, parahnya mengecilkan hatinya. Besarkan asanya untuk menyempurnakan daftar mimpinya. Sesungguhnya ia pun tidak bisa menjawab pertanyaan itu, “Akan jadi apakah engkau setelah ini?, Hanya Allah lah yang sanggup menjawab. Untuk itu, jangan jadikan wisuda adalah akhir belajar. Ia hanya tenggat waktu belajar yang tercapai dan maut lah batas seseorang belajar.
                                                                                                                         -Jumat, Jelang Gladi Bersih

23 Maret 2015

Pengalaman Mengirim Opini Mahasiswa Ke Harian Jogja

di 21.54
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini
Hai, kali ini saya ingin membagi tips menulis serta mengirim opini ke media massa. Saya bukan orang yang ahli tapi Cuma ingin berbagi pengalaman saja yang alhamdulillah beberapa kali lolos tayang. Opini yang saya bidik adalah kolom aspirasi mahasiswa halaman 6 yang tayang setiap selasa. Sebenarnya sudah lama tahu kalau setiap selasa harjo menerima opini dari mahasiswa. Sempat was-was juga karena dengar dari banyak senior bahwa untuk mengirim opini akan dilihat titel dan kedudukan di dunia akademik. Misalnya peneliti di Asosiasi X, dosen bidang Y, atau pakar bidang XY. Maka jangan sia-siakan ketika kamu masih duduk  di bangku mahasiswa, KTM adalah senjata ampuh untuk menunjukan jati dirimu.
Kenapa menulis?
Pertanyaan klasik ini mengusik beberapa orang yang seakan meragukan keseriusan kita untuk menulis. Setiap orang bebas memilih alasan termasuk alasan mengapa ia menulis. Jujur saya mulai menulis ketika ada lecutan semangat dari dosen. Ceritanya saat mata kuliah tersebut, dosen saya yang aktif menulis di koran selalu membagikan artikel yang ia tulis kemudian diterbitkan oleh koran. Dari materi koran itu kemudian kami di minta menganalisis. Keren kan. Dosen ini sempat melontarkan kalimat yang menanyakan siapa yang pernah menulis di media (tanpa tanya terbit gak ya?) Hehe. Spontan saya jawab, “Wah, nulis tapi gak pernah muncul di opini umum pak”. Bapak itu langsung mengatakan, “Setidaknya kamu sudah menulis, nih buku untuk kamu”. OMG seneng banget plus bertekad buat nulis.
Dosen S1 saya dulu pun tak kalah hebatnya, julukannya saya Pena Hebat yang berhasil menulis 30 buku dalam 2 tahun. Beliau membuat sebuah kesepakatan bahwa ketika ada tulisan yang muncul di media massa maka nilai mata kuliah tersebut akan diberi nilai A. dengan catatan semua tugas beres, absen full dan patuh tata tertib. Yah, teori motivasi pun mengatakan demikian bahwa semakin besar imbalan yang didapatkan maka semakin semangat pula kita dalam mengerjakan sesuatu.
Gimana mulainya?
Oke. HarianJogja menyediakan kolom untuk mahasiswa pada halaman 6 setiap hari selasa. Temanya berganti setiap minggu, jadi kita harus beli korannya. Kalau dulu ada epapernya sehingga kita hanya cukup buka webnya dan mencatat apa tema minggu ini. Saya sendiri hanya beli koran di hari selasa, untuk melihat tema sekaligus mengecek tulisan kita muncul tidak.
Melihat perkembangannya, koran ini sangat kompetitif. Tulisan yang dimuat bervariasi dari setiap kampus yang ada. Tidak ada diskriminasi kampus negri atau swasta sehingga terbuka siapapun yang ingin mengirim.
Teman saya pernah komentar ketika saya beri tahu tema mingguannya, “Wah apaan tu, kaga ngarti sama istilah itu (sambil menunjuk tema yang cukup rumit)”. Kalau saya sih, zaman internet begini jangan bikin nyali menulis jadi ciut. Googling aja kata yang sulit itu lalu telusuri apa yang terjadi. Dari berbagai versi koran di internet lalu sarikan dengan kalimatmu sendiri. Bisa juga dengan melihat koran edisi cetak yang ada di mading kampus (kamu pasti lebih rajin dari saya).
Urutannya: 
  • Mulai telusuri tema tadi sambil mencari referensi buku, televisi, hingga obrolan di warung mi ayam (warga sekarang melek media). Sarikan dengan kalimatmu. Atau bisa juga cuplik kutipan penting dari koran yang kamu suka, diutamakan milih Harjo sendiri loh ya. Tapi jangan sekali-kali lupa menyebutkan sumbernya. Tulis dalam kurung sumber beserta tanggal terbitnya. Jika memang itu media online maka cantumkan alamat webnya. Ingat copas itu dosa ya, plus mencoreng nama baik kita sebagai warga akademisi.
  • Alinea pertama bisa ditulis opini koran yang menguatkan. Alinea kedua berisi teori yang pakem. Misalnya undang-undang, Perda, teori kepemimpinan dalam buku Pak X dan lainnya. Alinea ketiga lalu ramu dengan mengutarakan solusi serta saran untuk perbaikan dari masalah yang muncul. Tulis sekitar 2 halaman spasi 1.5 
  • Ada baiknya memberi sudut pandang yang unik. Misalnya semua orang kontra tapi kamu memilih pro dengan alasan-alasan serta bukti yang lebih otentik. 
  • Endapkan. Deadline harjo pada hari jumat, sebaiknya hari rabu sudah kau tuliskan opinimu (mengejar deadline, bayangkan tiba-tiba listrik mati, internet lambat atau hal2 yang menyita waktu). Hari kamis kau baca lagi 2-3x lalu perbaiki ejaan, tanda baca, cek lagi referensi yang dipakai serta fikikan lagi judulnya. Apakah cukup menggoda editor untuk memilihmu. Saya terbiasa menulis judul diawal namun bisa juga diubah begitu dibaca lagi ternyata tidak pas. 
    • Kamis pukul 10.00 pagi segera kirimkan ke alamat email aspirasi@harianjogja.com. Tulisan disertai identitas dan foto santai/resmi. Baik juga sertakan scan KTM yang menandakan kamu benar-benar mahasiswa
    • Kamis sore cek lagi emailmu. Kadang pending bahkan gagal terkirim. Saya sering begini akibat koneksi yang tidak stabil
Well, jangan sungkan bahkan menghabiskan masa mahasiswamu tanpa sekalipun menggunakan fasilitas wifi kampus untuk berkirim email dengan media massa. Perhitungkan juga masa-masa menjadi mahasiswa yang hanya terbatas 4 tahun atau 2 tahun untuk S2. Setelah itu KTM mu akan off selamanya.
Oiya, honor dari Harjo lumayan untuk sekedar mengganti biaya fotokopi tugas kuliah. Hanya dengan menulis 1.5-2 halaman kita akan diberi Rp.100.000,-
Eits..bukan uangnya besar atau kecil. Namamu yang muncul di media akan terkenang sampai kapanpun bahwa kau berhasil menakhlukan sebuah media dengan menorehkan namamu di daftar penulisnya. Untuk kampus UIN SUKA, di S1 bagi teman-teman yang berhasil menulis di media kemudian menyertakan nama mahasiswa Uin Suka, tunjukkan hasil tulisanmu ke bag kemahasiswan. Akan diberi reward sekitar Rp.100.000,-. Lumayan kan, bisa buat bensin sebulan kalau saya. Di S2 pun, bagi mahasiswa yang bisa menulis dengan syarat yang sama dengan S1 maka akan diberi sekitar Rp.100.000,- untuk yang media lokal. Nasional sekitar Rp.250.000,- (kalau tidak salah) dan internasional Rp.500.000,-.
Jangan ciut, ah cuma 100rb doang, lumayan loh kalau yang lolos 17 artikel lokal? Emang masih dikit sih. Tapi kan lumayan, siapa coba yang mau ngasih duit segitu. Cobain deh, beda loh pegang duit hasil menulis sama nodong dari orang tua. Trust me ^_^

Sambal Galafea

di 13.43
Reaksi: 
1 komentar Link ke posting ini
Doyan sambel?
Wuh..seneng banget kemarin ini saat ngubek-ngibek kulkas nemu ikan galapea. Kalau di Jogja apa ya namanya mungkin ada yang tau. Pastinya ikan kering ini enak banget buat dijaadikan bahan baku sambal super maknyus..
Googling gak nemu juga apa namanya ikan galapea ini. Asal ikan ini dari kiriman om di Gorontalo yang super baik juga.. Klo di google namanya Galafea.. Tpi kita biasa sebut galapea,, ah gpp lah ya 😂
Gak perlu lama-lama inilah ikan yang di maksud plus bumbu-bumbu untuk bikin sambalnya..

si Galapea
Bahan-Bahan:
2 biji Bawang merah dan putih
5 cabe kriting
5 cabe rawit
3 tomat masak (tomat buah) biar gak kecut
5 biji ikan galapea
garam, gulmer dan penyedap

Cara membuat:
- kupas ikan, goreng kulit dan kepalanya sebentar lalu tumbuk (halus atau kasar boleh)
- ulek semua bahan
- campur semua bahan sambil di goreng dengan minyak agak banyak. Setelah meletup-letup lalu angkat
- hidangkan dengan nasi hangat

Maknyus,, kurang dari 10 menit jadi juga sambelnya



Rias Wisuda S1 dan S2

di 09.40
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini
Postingan kali ini ingin membagi tentang pengalaman rias wisuda S1 dan S2 saya yang sangat sederhana dan ingin minimal budget.
Wisuda S1 saya dilaksanakan April 2013 di Multi Purpose UIN Sunan Kalijaga. Sebenarnya rencana awal saya bisa wisuda bulan Desember 2012. Singkat cerita karena dosbing yang bertindak sebagai ketua sidang tidak bisa hadir di batas terakhir pelaksanaan sidang yaitu 19 Oktober maka sidang saya di tunda hingga 22 Oktober 2012. Sempat kesal sebentar namun yakin bahwa ini Qadarullah.
Nah, menjelang wisuda banyak sekali yang harus di urus setelah menyelesaikan pritilan syarat melakukan wisuda. Kesulitan pertama yaitu:
  1. Mencari Tempat Rias untuk wisuda
    Yups, mungkin gegara tidak punya banyak informasi jadi galau sendiri hingga suatu saat ketika main-main di kos teman terjadi obrolan berujung bahwa ia biasa merias. Alhamdulillah, senang banget tentu karena gak usah repot-repot cari tempat rias. Agak was-was juga ke tampat rias biasa nanti terlalu menor kaya manten gitu yang bikin males.
    Teman ini menggunakan Wa*dah kosmetik yang katanya cocok untuk semua kulit, juga yang paling penting adalah harga bersahabat. Saat itu dia hanya minta Rp. 50.000,- tanpa embel-embel. Teman lainnya bilang kalau di salon bisa 100 belum sama jilbabnya.

    Untuk S2 ini saya milih dekat rumah ternyata ada salon yang setelah ngobrol-ngobrol beberapa saat ternyata cukup pas di kantong. Rp. 100.000,- plus jilbabnya. Teman saya yang S1 merias dulu harus pulkam karena menunggu HPL (doakan smg lahirannya lancar). Salonnya juga biasa merias GS di UIN yang merupan paduan suara yang mengiring saat prosesi wisuda. So far sih dari koleksi foto-fotonya not bad, tapi patut di coba. Plusnya lagi, gak perlu pusing-pusing berangkat jam 4 subuh kayak pas S1 untuk mendekat ke Papringan. Hehe
    Tipsnya sih yang penting sebelum mencari riasan utamakan tempat yang dekat rumah, knp? selain harga miring juga kesepakatan mudah dilakukan. Sampaikan juga keinginan kita misal ingin riasan yang bagaimana, model jilbab seperti apa, apakah ia bisa model jilbab tertentu yang kita inginkan, jam berapa kita harus datang, apakah ke salon atau perias kerumah. dan lainnya.
  2. Kebaya/ Baju wisuda
    Ini yang bikin bingung juga, banyak tempat sewa kebaya namun mencari tempat yang pas di kantong mahasiswa agak sulit juga. Saat S1 teman yang ikut rias bareng bajunya sewa juga, lumayan harganya yaitu setengah dari harga beli loh.
    S1 kemarin saya sederhana banget, saya tidak pilih kebaya tapi gamis sederhana yang saya suka warnanya. Sampai-sampai temen yang rias pikir saya belum ganti baju. Well, gak pengen berlebihan gara-gara sudah kesel wisudanya mundur -_- . Mungkin teman-teman yang gak pengen ribet bisa meniru langkah ini yaitu menggunakan gamis yang kita punya. Toh juga saya males buka-buka rompi hitamnya. Yakin deh, namanya wisuda itu melelahkan. Setelah sekian jam di rias, laluu duduk manis mendengarkan seremonial upacara hingga menunggu antrian pemindahan kucir banyak teman yang mengantuk dan lemes gara-gara belum sarapan. Maka begitu keluar gedung, yang terfikir pertama yaitu ingin cepat pulang dan tidur. Trust me, hehe
    Untuk S2 ini pengen membahagiakan ibu, okelah tidak pakai kebaya tapi pakai yang agak bagusan dikit gak kayak pas S1. Inisiatif muncul untuk jalan-jalan ke pasar mencari baju yang pantas, niat memang cari jadi aja gak ribet nentukan mode dan irit.
    perbandingan menjahit dan beli sendiri kurang lebih begini.
    Ibu saya beli kain kebaya, brokat, selempang dan roknya habis sekitar 300an, tambah jahitnya 175rb
    Saya cuma melirik sebuah baju cantik yang di pajang di toko, harga nya 200rb.
    Modelnya ini

    Teman saya yang S2 sedang bingung juga mencari baju kebaya, di daerah Jogja banyak sekali pilihan namun yang pas di hati tentu beda. Kata dia untuk sewa saja sudah 150rb padahal harga bajunya 300rb, itu baru kebaya belum ada roknya. So, gunakan kesempata waktu yang tersisa untuk sebanyak-banyaknya minta referensi orang yang sudah kenal Jogja atau punya teman pemilik butik. Kalau saya sih lebih suka ke pasar atau pertokoan sekitar pasar aja. Karena harga miring tadi, mereka tidak di pungut pajak tinggi seperti di toko besar jadi harganya pun bervariasi.
  3. Foto Kenangan
    Nah, satu hal yang tak boleh di lupakan adalah foto kenangan. Rugi dong ya udah pakai kebaya bagus, make up kece eh lupa gak di foto. Lumayan bisa untuk cerita ke anak cucu betapa indahnya pengorbanan kita ini. Hehe
    Urusan foto, untuk S1 kemarin saya mempercayai Fuj* F*lm. Ceritanya yang menghadiri wisuda saya cuma bapak dan ibu. Nah pengen punya kenangan dengan dua adek saya makanya foto di rumah saja. Saya pikir mending ke tukang foto yang ahli deh, kebetulan di Jalan Solo ada. Harga cukup bagus cuma hbis 100rb untuk 3 buah foto 10R. Tapi hasilnya kurang memuaskan karena editan background dan teknik foto kurang bagus. Editan foto terlalu over sehingga tampak seperti tembok (riasan alami malah gak nampak). Yah, pengalaman deh. Yang penting dapat moment foto bareng.
    Sebenarnya menggunakan kamera apapun hasilnya bagus tergantung yang foto bisa teknik atau tidak (Kata teman saya :D)
    Jadi S2 ini teman saya usul kalau mengambil paket yang ditawarkan tempat rias di Jetis itu. Kebetulan suaminya fotografer. Untuk 4 orang hasilnya 40 foto dan kameramen ikut ke lokasi wisuda dan ke rumah dia hanya minta 250rb. Temanku langsung heran sekaligus heboh..Oke ning ambil aja.. Haaduh

    Nah, itulah beberapa hal yang sering jadi pikiran saat menghadapi prosesi wisuda. Siapapun pasti pengen maksimal di moment tak terlupakan itu. Wisuda bisa menjadi tanda resmi perpisahan kita dengan sahabat, teman, kampus dan suasana akademik yang dulu kita anggap menjemukan. Wisuda menjadi momentum penting bahwa usahamu kini terbayar sekaligus persembahan buat orang tua tercinta yang mendamba kelulusan anaknya.



19 Maret 2015

Pertemuan Cici dan Koko

di 09.21
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini
Alhamdulillah ala kull halin
sudah lama banget ga coret2 blog sendiri..
beberapa hari ini banyak banget kejadian yang bikin ketar ketir sendiri. 
pengen lagi menulis banyak hal mengenai kucing, kuliah, tesis dan masa depan... 
mau berbagi tentang kucing dulu lah, 

Ceritanya kan sekitar bulan puasa tahun kemarin (2014) teman ibu tu ngasih kucing peranakan gitu (Anggora, Persia dan Jawa) kucing turunan ini kemudian kawinlah dengan kucing Jawa yang saya kira pertemuan mereka tidak perlu saya jabarkan panjang lebar ya. 
Mungkin aja sih, namanya juga jodoh, walaupun dia tinggal di sebuah desa di pelosok Jogja, ternyata dia berjodoh dengan si bule yang cantik jelita. Entah alasan menjalankan sunnah atau insting semata maka muncullah benih-benih cinta diantara keduanya. Sebut saja Koko, pria yang sepanjang hidupnya menjadi pria rumahan kemudian hampir putus asa. Di suatu sore, tanpa sengaja ia berjalan-jalan bermaksud mencari jajan buat buka puasa, bertemulah dengan Cici, tetangga kompleks yang cantiknya masyhur hingga ke telinga Koko.
Koko selalu menjaga pandangannya dan ingin menempuh cara yang di ridhai Tuhannya. Tak sekalipun ia berusaha menggoda apalagi ikut-ikutan dengan teman lainnya untuk merayu Cici. Rindunya ia pendam sendiri dan berusaha menumpuknya dalam bait-bait doa di sepertiga malamnya. Bahkan dalam helaan nafasnya, ia sertakan nama Cici agar kelak bersanding dengannya. Singkat cerita entah memang sudah jalan takdirnya, di suatu malam yang temaram Koko teramat gelisah dan ingin jalan-jalan ke taman Kota. Hingga pukul 11.00 malam kopi yang ia beli dari angkringan masih saja utuh hanya seteguk ia minum, otaknya sibuk memikirkan suatu hal yaitu keluarganya di kampung. Ya, koko adalah salah satu pemuda yang tergiur pindah ke kota dengan iming-iming mencari makan lebih mudah karena orang kota terkenal kaya dan dan butuh banyak pekerja. 
Satu dua jam ia hanya termenung sambil menyadari kesalahannya karena melarikan diri begitu saja tanpa menghiraukan isak tangis ibunya. Lamunannya buyar, seketika ia meloncat mendengar suara teriakan seorang wanita paruh baya. Ia teringat kembali pada Ibunya. Suara itu semakin jelas dan terdengar sangat jelas. Larinya dipercepat menuju arah suara yang semakin nyaring menjerit. Ternyata seorang Nenek yang baru saja turun dari taksi meraung-raung sendiri.
Seketika Koko mendekati Nenek itu, "Apa gerangan yang terjadi nek?" tanya Joko pada si Nenek.
"Aduh Nak, Saya habis nengok cucu di kampung. Pulang sudah larut begini. Tadi tas saya berisi dompet, serta kacamata dan tongkat masih tertinggal dalam taksi. Si tukang taksi langsung pergi begitu saya turun. Tolong nak, saya tidak tahu dimana arah ke rumah". Terang si Nenek
Dalam hatinya Koko seperti tidak asing dengan nenek ini, Ya.. ini salah satu nenek penghuni kompleks ingatnya tidak berapa lama. 
"Maaf Nenek tinggal di Kompleks Anggrek?" Tanya Joko dengan ragu.
"Iya Nak, rumah no. 15. Hanya saja tadi nenek salah ucap alamat pada sopir taksi". Jelas Nenek
"Sudah nek, mari saya antar, malam sudah sangat larut. kebetulan rumah saya belakang kompleks juga. Mari nek naik motor saya tapi  maaf motor butut". Terang Joko
"Aduh, masih ada anak baik ya semalam ini. Saya sangat ketakutan. Terima kasih banyak nak, ngomong-ngomong siapa namamu?". Tanya Nenek
"Koko nek, Supriyoko tapi di kampung suka di panggil Koko" Jelas Koko.
Setelah mengantar nenek pulang, Koko kembali ke rumahnya dengan hati bahagia. Ya dia membayangkan, apakah Ibunya sudah setua seperti nenek itu ya. Betapa malam itu ia ingin sekali pulang, bayangan Cici hilang sama sekali berganti dengan wanita tua yang baru ditemuinya mungkin tak jauh beda dengan keadaan ibunya saat ini.
**
Hari berganti, seseorang mengetuk pintu kamar kosnya. 
Seketika darahnya berhenti mengalir, keringatnya mengucur deras, bibirnya pucat serta matanya pun berhenti berkedip.
"Halo...dengan mas Supriyoko ya?" tanya tamu itu sambil melambai-laimbakna tangan di depanku. Sekitar 3 menit aku terdiam sambil terus memaksa untuk memastikan aku masih berpijak di Bumi.
"I..Iya..S..Saya..J..Jo..ko.." kataku sangat terbata" ucapku, hingga terlupa mempersilahkan tamu itu masuk
"Oke, saya mampir aja nih sambil bawa buah titipan nenek Esmeralda. Katanya seminggu kemarin kamu menolongnya ya. Makasih ya, nenek itu rabun dan sedikit pikun. Untung saja ketemu orang jujur kayak kamu. Oiya, dia bukan nenekku hanya saja kemarin aku main kerumahnya karena dulu ibuku pun berbuat begitu. Nenek Esmeralda sangat baik pada Ibu, dia menganggap Ibu adalah anaknya karena semua anaknya jauh di kampung yang selalu di kunjunginya tiap bulan. Sekali lagi terima kasih ya". Gadis itu tersenyum sambil berpamitan.
**

Seminggu setelah kejadian itu, seorang imam masjid kompleks bertandang ke kosku. Menyampaikan suatu hal ganjil yang di luar bayanganku.
"Maaf mas Joko, saya kesini membawa amanat. Mungkin mas Joko sudah tau ya?" tanya Pak Ali, Imam masjid kompleks dengan senyum khasnya.
"Bapak ini, saya bukan paranormal pak. Gak bisa nebak-nebak". Balas Joko dengan senyum pula
"Begini nak, seminggu yang lalu ada seseorang yang minta ke saya untuk menyampaikan niatan dia melamar mas Joko ini". Jelas pak Ali.
Joko terdiam beberapa saat, antara bahagia, takut dan penuh heran ia tak sabar menunggu siapa gadis yang dimaksud si bapak. Bayangannya kembali pada Cici, gadis jelita idola teman-temannya. Berparas cantik, bermata jeli dan santun. Suara pak Ali menghalau lamunannya.
"Pasti mas Koko sudah tau ya?". tanya pak Ali menebak
"Siapa ya pak, saya kan hanya pemuda biasa. Kuli apa saja dan biasa kerja serabutan. Aneh, kok ada yang mau sama saya. Kalau bapak berkenan menyebutkan namanya saya akan sangat bahagia." Tanya Koko
"Ziza, gadis di rumah nomor 14 nak. Dia bercerita bahwa sekitar dua minggu lalu dia melihat dari balik jendela, mas Koko ini membonceng nenek Esmeralda, padahal si nenek biasanya naik taksi sendiri. Kesimpulannya dia sangat bertekad ingin melanjutkan hubungan dengan nak Koko yang menurut dia adalah lelaki baik hati dan tulus". Jelas pak Ali 
Seketika koko diam, jadi gadis kemarin yang datang ke rumah adalah Ziza, bahkan namanya pun baru terdengar ditelinganya. Ia sangat kaget saat gadis itu bertandang karena belum seorang gaddispun pernah menemuinya di kos seperti ini. Lalu bagaimana dengan Cici? bukankah yang merebut hatinya cuma Cici seorang? 
"Lalu, bagaimana nak Koko, apa yang harus saya sampaikan pada Ziza?" Tanya pak Ali.
"Mmmm...sebentar pak, saya butuh 3 hari untuk berfikir. Namun ya keadaan saya seperti ini tidak ada kelebihan apapun" Terang Koko.
Malam itu menjadi sangat panjang menurut Koko, tak biasanya ia gelisah seperti itu. Namun, fikirannya pada dua gadis cantik itu tak mampu ditepisnya.

Bersambung..hehe
#Aku niate mau cerita kucing, tapi malah bikin drama. Sorry sorry to read ya :D
  
Ada kesalahan di dalam gadget ini
 

Lima Belas Menit Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review