13 Januari 2012

Guru dan Pendidikan karakter

di 08.45 0 komentar

              Pengalaman adalah guru yang terbaik. Peribahasa tersebut menunjukkan bahwa sebenarnya dalam belajar kita tidak harus mencari guru, lalu muncul pertanyaan apakah guru itu  harus orang atau pengalaman (dalam artian alam, lingkungan baru dan lain-lain) dalam pembelajaran? Ini memang pertanyaan fislosofis yang mengecohkan/ memiliki banyak tafsir. Tapi sejatinya guru/ pendidik adalah sarana transformasi ilmu kepada abak didik. Itulah mengapa guru dituntut memiliki sejumlah keahlian (professional) dalam mengajar agar dapat menyampaikan ilmunya dengan tekhnik yang benar bukan asal-asalan. Mengapa penting? Karena anak didik kelak diharapkan menjadi penerus bangsa yang benar , merekalah yang melanjutkan kehidupan.   
            Jika mereka terdidik dengan baik, harapannya bangsa ini menjadi bangsa yang baik.  Memiliki murid yang cerdas, santun dan taat beragama merupakan cita-cita luhur seorang pendidik atau lebih akrabnya kita sebut guru. Namun, untuk mewujudkannya  tidak seperti membalikkan telapak tangan. Perlu usaha keras, semangat tinggi serta kompetensi yang memadai sebagaimana persyaratan menjadi seorang guru. Tugas yang diemban memang memang tidak ringan namun tidak mustahil untuk diwujudkan bila ada kesungguhan dan kerja keras.
Guru dan pendidikan karakter merupakan sebuah kesatuan yang butuhkan untuk mewujudkan bangsa yang berkarakter pula.

Pendidikan karakter
           pengertian pendidikan dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam pasal Pasal 1 butir 1 UU Nomor 20 Tahun 2003 dijelaskan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.
         Menurut Thomas Lickona pendidikan karakter adalah sebagai berikut: “Character education is the deliberate effort to help people understand, care about, and act upon core ethical values”. “Pendidikan karakter adalah usaha sengaja (sadar) untuk membantu manusia memahami, peduli tentang, dan melaksanakan nilai-nilai etika inti”. Berkenaan dengan pentingnya pendidikan ini, kita diingatkan bahwa “Education comes from within; you get it by struggle and effort and thought” (Napoleon Hill). Pendidikan datang dari dalam diri kita sendiri, kita memperolehnya dengan perjuangan, usaha, dan berfikir.
Dari gabungan pengertian tersebut kita memahami bahwa pendidikan karakter merupakan usaha yang dijalankan terus menerus (mulai dari anak memasuki sekolah sampai ke jenjang berikutnya) guru/ pendidik mempunyai tugas menanamkan karakter, nilai-nilai luhur, memahami, memupuk dan membiasakan baik untuk guru itu sendiri dan meluas pada murid yang tentu harapannya manfaat yang diberikan akan sampai pada masyarakat.

Unsur-unsur pendidikan karakter
     Thomas Lickona mengatakan ada 7 (tujuh) unsur pendidikan karakter, yaitu:
  1. ketulusan hati atau kejujuran (honesty);
  2. belas kasih (compassion);
  3. kegagahberanian (courage);
  4. kasih sayang (kindness);
  5. kontrol diri (self-control);
  6. kerja sama (cooperation);
  7. kerja keras (deligence or hard work).
            Tujuh karater inti (core characters) itulah, menurut Thomas Lickona, yang paling penting dan mendasar untuk dikembangan pada peserta didik selain sekian banyak unsur-unsur karakter yang lain. Jika kita analisis dari sudut kepentingan restorasi kehidupan bangsa kita menurut istilah Ir. Sutawi, M. P, maka ketujuh karakter tersebut memang benar-benar menjadi unsur-unsur yang sangat esensial. Katakanlah unsur ketulusan hati atau kejujuran, bangsa saat ini sangat memerlukan kehadiran warga negara yang memiliki tingkat kejujuran yang tinggi. Membudayanya ketidakjujuran merupakan salah satu tanda dari kesepuluh tanda-tanda kehancuran suatu bangsa menurut Lickona.
Selain tujuh unsur karakter yang menjadi karakter inti menurut Thomas Lickona tersebut, para pegiat pendidikan karakter mencoba melukiskan pilar-pilar penting karakter dalam gambar dengan menunjukkan hubungan sinergis antara keluarga, (home), sekolah (school), masyarakat (community) dan dunia usaha (business).
            Tentu kita mengharapkan ketujuh nilai tersebut dapat tertanam kuat dalam jiwa anak sehingaa tertancam kuat dalam dirinya. Dengan mencuatnya kasus Siami bocah SD dari Surabaya yang berteriak lancang membongkar praktek contek masal kita makin bertanya-tanya, apakah bisa merubah sistem UN dengan adanya pendidikan karakter lalu lebih mengedepankan kejujuran?, belum lagi masalah kekerasan, tawuran antar sekolah, bahkan pelecehan dalam kendaraan yang sekarang marak terjadi. Apakah cukup hanya guru yang berperan dalam pendidikan karakter?

Aplikasi Pendidikan Karakter Rasulullah SAW.

di 08.43 0 komentar

Polemik yang dihadapi Indonesia tak kunjung ditemukan titik akhirnya. Berbagai problem dalam segala aspek selalu menyita perhatian, mulai dari kemiskinan, sekolah roboh, tingginya biaya pendidikan, korupsi, kekerasan siswa mulai dari SMP sampai bangku kuliah pun marak terjadi. Sekolah yang menjadi tempat belajar, kini menjadi harapan besar bagi masyarakat untuk merubah keadaan yang sangat merugikan tersebut. Jika berharap banyak pada pemerintah sepertinya mustahil, mereka lebih fokus pada fluktuasi politik dan Negara. Padahal jika ingin serius merubah Indonesia menjadi lebih baik, yang harus mereka perhatikan betul adalah aspek pendidikan. Karena disinilah proses menempa diri dan menanamkan nilai-nilai positif sehiingga menghasilkan bibit yang unggul sebagai penerus bangsa.
  Kita pantas bertanya, mengapa Indonesia menghadapi krisis kronis dan mengalami erosi moralitas. Perilaku positif hilang termakan zaman digantikan produksi perilaku negatif yang cenderung destruktif. Harga diri seorang manusia sangat murah dan terbeli dengan kertas-kertas berangka, seakan tidak lagi mempedulikan penilaian orang demi mewujudkan cita-cita semunya.
Merespon fenomena itu, kita layak bertafakur dan merumuskan kembali sendi kehidupan agama dan kesalehan kolektif yang memudar. Salah satunya mengembalikan kembali posisi ajaran Islam yaitu Al – Qur’an dan Hadits Rasulullah secara proporsional, mengakar kuat dan mampu dirasakan sentuhannya dalam kehidupan masyarakat. Ada baiknya, kita juga kembali belajar membaca ulang bagaimana peri kehidupan teladan terbaik yaitu Rasulullah SAW. 


Menumbuhkan Karakter Islami
Dalam kacamata kaum muslimin, gejala yang merusak di masyarakat akibat hilangnya karakter dan kepribadian Islami. Kita kecanduan produk Barat yang hedonistik, serba bebas dan berkiblat kesenangan duniawi. Konsep permissif itu berdampak rusaknya tatanan kehidupan sosial, kacaunya moralitas dan mengendurnya nilai kebersamaan antar individu.
Jelas, ini konsepsi yang bertentangan dengan nilai Islam yang mengatur tawazun (keseimbangan) kehidupan dunia dan akhirat. Rasulullah SAW dalam membentuk generasi pilihan sangat mengintensifkan tiga kecerdasan yaitu emosional, spritual dan intelektul. Hasilnya dapat dirasakan dimana banyak dilahirkan pejuang Islam hebat seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan sahabat lainnya.
Ada beberapa prinsip strategis pembentukan karakter Rasulullah kepada para sahabat sebagai generasi penerusnya.
Pertama, Rasulullah SAW sangat fokus kepada pembinaan dan penyiapan kader. Fakta itu dapat dilihat sejak beliau mulai mendapatkan amanah dakwah. Tugas menyebarkan Islam dijalankan dengan mencari bibit kepemimpinan unggul berhati bersih. Dakwah beliau fokus tidak menyentuh segi kehidupan politik Makkah. Selain faktor instabilitas dan kekuatan politik, perjuangan dakwah memang difokuskan nilai pembinaan.
Dirinya berusaha menanamkan karakter kenabian yaitu siddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan) dan fatonah (cerdas). Rumah Arqam bin Abil Arqam menjadi saksi bagaimana ahirnya kepemimpinan Islam dilahirkan. Point penting pertama pendidikan karakter adalah fokus, bertahap dan konsisten terhadap pembinaan sejak dini.
Kedua, mengutamakan bahasa perbuatan lebih baik dari perkataan. Aisyah menyebut Rasulullah SAW sebagai Al-Qur’an yang berjalan. Sebutan itu tidak salah, mencermati Sirah Nabawiyah menjadikan kita menuai kesadaran rekonstruksi pemikiran dan tindakan Rasulullah SAW. Beliau berbuat dulu, baru menyerukan kepada kaumnya untuk mengikutinya. Kesalehan individu berhasil membentuk kesalehan kolektif di masyarakat Makkah dan Madinah.
Sesungguhnya pada diri Rasulullah saw. terdapat contoh tauladan bagi mereka yang menggantungkan harapannya kepada Allah dan Hari Akhirat serta banyak berzikir kepada Allah” (QS 33 : 21)
Ketika berdakwah di masyarakat Thaif dirinya mendapat perlakuan buruk dilempari kotoran. Pada saat itu datanglah Malaikat Jibril menawarkan jasa. “Hai muhammad jika engkau kehendaki gunung yang ada dihadapanmu ini untuk aku timpahkan kepada penduduk Thaif, niscaya sekarang juga aku lakukan.” Nabi menjawab “Jangan Jibril, semua itu dilakukan mereka karena ketidaktahuan mereka” kemudia nabi berdo’a “allâhumahdî qaumî fainnahû lâ ya’lamûn” “Ya Allah berikanlah hidayah kepada kaumku sesungguhnya mereka tidak mengetahui” Alhamdulillah, Allah SWT mendengar doanya, masyarakat Thaif banyak menjadi pengikut Islam. Point penting kedua, berikan keteladanan baru mengajak orang lain mengikuti apa yang kita lakukan.
Ketiga, menanamkan keyakinan bersifat ideologis sehingga menghasilkan nilai moral dan etika dalam mengubah masyarakatnya. Beliau meluruskan kemusyrikan mereka dengan mengajarkan kalimat tauhid yakni meyakini Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Karakter tauhid menghasilkan pergerakan manusia yang dilandasi syariat Islam dalam menjalankan kehidupan. Mengutip Nur Faizin (Republika, 13/10)
Pendidikan karakter yang terpenting adalah pendidikan moral dan etika. Rasulallah SAW sendiri pun menegaskan hal itu dalam sabdanya, "Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak karimah." (HR Ahmad dan yang lain). Menumbuhkan kembali akhlak karimah haruslah menjadi kompetensi dalam proses pendidikan karakter setiap bangsa.
karakter itu harus memadukan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Rasulullah SAW sudah memberikan teladan itu dengan membangun pendidikan berbasis moral dan etik. Pembangunan pendidikan dapat dimulai dari Pesantren, Kampus dan Sekolah sebagai tempat subur pembinaan sekaligus pemberdayaan karakter generasi muda. Karena dengan moral yang baik dan etika yang berlandaskan ideologi yang benar akan membentuk komunitas masyarakt bangsa yang rahmatan lil alamin.
            Utamanya yang bertugas menanamkan karakter ini bukan semata guru/ pendidik. Tapi yang paling penting adalah keluarga, sejak kecil anak telah merekam nilai-nilai yang ia terima melalui memorinya karena ingatan seorang anak sangat kuat. Anak juga memiliki waktu lebih banyak bersama keluarga dibanding waktu dia di sekolah. Maka sangat tidak tepat bila kegagalan penanaman karakter hanya disandarkan ke guru. Penanaman karakter membutuhkan waktu yang sangat lama dan akan menjadi kebiasaan/ aktifitas rutin. Disinilah poin penting mengenai penanaman karakter/ akhlak yaitu menjadi tugas bersama antara keluarga (terutama ayah dan ibunya) dan guru/ pendidik.

Contoh Pengalaman Penyelenggaraan Pendidikan Non-Formal Melalui Radio

di 00.30 0 komentar


             Pengalaman-pengalaman ini sengaja diambil dari sejumlah  pengalaman yang tidak dilaporkan oleh WilburSchramm dan kawan-kawan dalam New Educational media In Action, sekedar untuk ilustrasi titik tolak pembahasan.
  A. Radio Jawatan Pendidikan Masyarakat
            Pada tahun 1951  Jawatan Pendidikan Masyarakat pada Kementrian Pendidikan dan Pengajaran, menyelenggarakan suatu program siaran radio untuk pendidikan masyarakat yang sasarannya adalah pelajar demobilisan, yang setelah masa kemerdekaan mengalami banyak masalah baik untuk kembali kebangku sekolah maupun untuk menyesuaikan diri dengan masyarakat.
            Siaran dipancarkan dari pemancar jawatan sendiri di Jakarta dengan radius pemancar efektif 10 km. isi siaran diambil dari pelajaran SMA dan bahan-bahan actual dalam masyarakat. Pada mulanya siaran ini mendapat respon bagus dari masyarakat. Namun, hanya dapat bertahan 2 tahun.
Kesulitan-kesulitan yang dihadapi diantaranya: 
1. Kurang baiknya perencanaan karena hanya dibuat rencana jangka pendek dan tidak melibatkan semua pihak.
2. Kurang berjalannya koordinasi yang ada dengan jawatan-jawatan lain. 
3. Kurangnya tenaga terlatih baik pada produksi maupun penggunaan.
4. Kurangnya bahan penyerta siaran sehingga radio lebih banyak berdiri sendiri.
5. Kurangnya dana untuk pembinaan. 
       B. Radio Sutatenza di Columbia
            Usaha ini dimulai pada tahun 1947 dan mulai secara terbatas oleh dana dan keperluan suatu misi keagamaan. Program ini ditujukan untuk para petani-petani di desa. Melalui Radiophonic Schools of Sutatenza ini disiarkan pelajaran-pelajaran dalam: 
1. Dasar-dasar kesehatan
2. Kemampuan baca tulis
3. Berhitung 
4. Perhatian dan keagamaan.
            Dalam pelajaran baca tulis, radio terutama berfungsi untuk menimbulkan motivasi untuk belajar baik sendiri maupun berkelompok. Dengan keberhasilan ini maka sasaran dan program diperluas dan timbullah masalah dan kenyataan baru, antara lain:
  1. Kedudukan petani yang terpencar dan perbedaan latar belakang kebudayaan mereka menyebabkan berbedanya tingkat penerimaan dan reaksi mereka. 
  2. Diperlukan radio lebih banyak lagi untuk kelompok kecil. 
  3. Bahan pelajaran yang kurang sesuai dengan tingkat pengetahuan dan kecerdasan pendengar.
  4. Kurangnya pemimpin awam 
  5. Kurang khusus dan jelasnya kebutuhan yang ada pada masyarakat pendengar 
  6. Kurang sesuainya metode pengajaran. 
Pelajaran Yang dapat ditarik:
  • pendidikan melalui radio harus merupakan kebulatan sistem penyajian (total delivery system). beberapa komponen penting dalam sistem penyampaian ini adalah: 
  1. kurikulum (segala kegiatan yang diberikan kepada anak didik)
  2. acara dan metode siaran yang diatur
  3. tempat kegiatan belajar yang dilengkapi dan diawasi oleh seorang Pembina Pendidikan.
  4. monitoring kegiatan dan kemajuan anak.
  5. evaluasi kemajuan
  • isi pendidikan non-formal merupakan response dari kebutuhan khusus dan umumnya jangka pendek, jadi meihat kebutuhan dan mnyesuaikan dengan target, tujuan dan kurikulum.
 dari uraian diatas maka untuk menemukan apa yang dapat dilakukan  melalui radio dalam pendidikan non-formal, kita perlu memutuskan:\
  1. komponen apa yang diperlukan adanya
  2. tujuan khusus yang akan dicapai 
  3. cara pembawaan isi (treatmen of program content) bagaimana yang akan dilakukan.
makin sederhana putusan dan pilihan kita, makin sederhana kegiatan yang dilakukan dan makin sederhana pula (kurang efektif) hasil yang kita capai. sekali lagi mengambil keputusan kita harus terikat (commited) sampai diperoleh umpan balik (feedback) dan pelajaran dari pengalaman

    Beberapa bentuk sistem belajar mandiri

    di 00.15 0 komentar

              a. Belajar bebas (Independent study)
              Kegiatan yang dilaksanakan oleh siswa tanpa kewajiban mengikuti kegiatan belajar  di kelas formal. Siswa diberi kesempatan untuk berkonsultasi  secara berkala kepada seorang guru atau lebih untuk memperoleh pengarahan atau bantuan. Seringkali kegiatan ini digunakan siswa untuk menyelesaikan tugas perorangannya. 

               b. Pembelajaran suai diri (Individual instruction)
              Suatu tipe pembelajaran yang mempunyai 6 unsur dasar sebagai berikut: (1)
    kerangka waktu yang luwes, (2) adanya tes diagnostik yang diikuti pembelajaran perbaikan, yaitu kegiatan pembelajaran yang dimaksudkan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dibuat siswanya atau kesempatan bagi siswa untuk memilih bahan ajar yang sesuai, (4) penilaian kemajuan belajar siswa dengan menggunakan bentuk-bentuk penilaian yang dapat dipilih dan penyediaan waktu pengerjaan yang luwes, (5) pemilihan lokasi belajar yang bebas, (6) bentuk-bentuk kegiatan belajar yang dapat dipilih.

    c. Pembelajaran perorangan suai lajur (individually paced instruction).
           Teknik pembelajaran dengan cara mengelola kegiatan belajar sedemikian sehingga siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran sesuai dengan pelajuan belajar masing-masing.


             d. Pembelajaran perorangan tertuntun (individually prescribed instruction)
             Sistem pembelajaran yang didasarkan pada prinsip-prinsip pembelajaran terprogram. Dalam sistem ini setiap siswa mengarahkan program belajar masing-masing berdasarkan rencana kegiatan yang telah disiapkan oleh guru atau oleh guru bersama siswa berdasarkan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dan dirumuskan secara operasional. Rencana kegiatan belajar ini berkaitan dengan materi pelajaran yang harus dipelajari atau kegiatan yang harus dilakukan siswa. Kemajuan siswa dicatat melalui observasi dan tes.


    Daftar pustaka:
    Yusuf Hadi Miarso dkk. 1986. Tekhnologi komunikasi pendidikan.. Jakarta: Rajawali

    12 Januari 2012

    Ciri dan Pengembangan Media

    di 09.34 0 komentar
       Gerlach & Ely (1971) mengemukakan tiga ciri media yang digunakan dalam pendidikan
    • Ciri Fiksatif (Fixative Property)
    Ciri ini menggambarkan kemampuan media merekam, menyimpan, melestarikan, dan    merekonstruksikan suatu peristiwa atau obyek
    • Ciri Manipulatif
    Transformasi suatu kejadian atau obyek dimungkinkan karena media memiliki ciri manipulatif. kejadian yang memakan waktu berhari-hari dapat disajikan kepada siswa dalam waktu dua atau tiga menit dengan teknik pengambilan gambar time-lapse recording.
    • Ciri Distributif (Distributive Property)
    Ciri distributif dari media memungkinkan suatu obyek atau kejadian ditransportasikan melalui ruang, dan secara bersamaan kejadiaan tersebut disajikan kepada sejumlah besar siswa denganstimulus pengalaman yang relatif sama mengenai kejadian itu.


    PENGEMBANGAN MEDIA
         Salah satu kriteria yang sebaiknya di gunakan dalam pemilihan media adalah dukungan terhadap isi bahan pelajaran dan kemudahan memperolehnya. Apabila media yang sesuai belum tersedia maka guru berupaya untuk mengembangkannya sendiri. Oleh karena, pada bagian ini akan diuraikan teknik pengembangan media berbasis visual (yang meliputi gambar, chart, grafik, transparansi, dan slide), media berbasis audio visual (video dan audio tape), dan media berbasis komputer (komputer dan video interaktif).
    Sebelum membahas tentang pengembangan media pengajaran tersebut perlu dikemukakan prinsip umum yang perlu dikemukakan prinsip umum yang perlu diperhatikan pada saat mencari dan menentukan jenis media yang akan digunakan dalam proses belajar mengajar. Prinsip-prinsip itu disajikan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut.
    1. Sudahkah anda mengidentifikasi dan mengungkapkan dengan jelas gagasan anda membatasi topik bahasan ?
    2. Apakah program yang dikembangkan memiliki tujuan untuk menginformasikan, memotivasi, atau instruksional ?
    3. Apakah anda sudah merumuskan tujuan yang akan dicapai melalui program ini ?
    4. Sudahkah anda mengevaluasi karakteristik siswa yang akan menggunakan program ini ?
    5. sudahkah anda siapkan kerangka (outline) isi pelajaran ?
    6. Sudahkah dipertimbangkan bahwa media apasaja yang paling sesuai untuk mencapai tujuan ?
    7. Sudahkah anda membuat storyboard untuk paket pelajaranini, jika diperlukan ?
    8. Apakah anda telh menyiapkan naskah untuk frame per frame untuk dijadikan penuntun pada saat mengambil gambar.
    9. Jika perlu, sudahkah anda menentukan orang tertentu yang ahli dibidang masing-masing untuk membantu anda dalam mempersiapkan materi pelajaran.



    MEDIA BERBASIS VISUAL
               Media berbasis visual (image atau perumpamaan) memegang peranan yang sangat penting dalam proses belajar. Mesdia visual dapat memperlancar pemahaman (melalui elaborasi struktur dan organisasi) dan memperkuat ingatan. Visual dapat pula menumbuhkan minat dan dapat memberikan hubungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata. Agar lebih efektif, visual ditempatkan pada konteks yang bermakna dan siswa harus berinteraksi dengan visual (image) itu untuk meyakinkan terjadinya proses informasi.
              Ada beberapa prinsip umum yang perlu diketahui untuk penggunaan efektif media berbasis visual sebagai berikut :
    a. Usahakan visual itu sesederhana mungkin dengan menggunakan gambar garis, karton, bagan, dan diagram. Gambar realistis harus digunakan secara hati-hati karena gambar yang amat rinci dengan realisme sulit diproses dan dipelajari bahkan seringkali mengganggu perhatian siswa untuk mengamati apa yang seharusnya diperhatikan.
    b. Visual digunakan untuk menekankan informasi sasaran (yang terdapat teks) sehingga pembelajaran dapat terlaksana dengan baik.
    c. Gunakan grafik untuk menggambarkan ikhtisar keseluruhan materi sebelum menyajikan unit demi unit pelajaran untuk digunakan.
    d. Ulangi sajian visual dan libatkan audience untuk meningkatkan daya ingat.
    e. Gunakan gambar untuk melukiskan perbedaan konsep-konsep, misalnya dengan menampilkan konsep-konsep, misalnya dengan menampilkan konsep-konsep yang divisualkan itu secara berdampingan.
    f. Hindari visual yang tidak berimbang ;
    g. Tekankan kejelasan dan ketepatan dalam semua visual.
    h. Visual yang diproyeksikan harus dapat terbaca dan mudah dibaca.
    i. Visual, khususnya diagram, amat membantu untuk mempelajari materi yang agak kompleks ;
    j. Visual yang dimaksudkan untuk mengkomunikasikan gagasan khusus akan efektif apabila (1) jumlah obyek dalam visual yang akan ditafsir dengan benar sebaiknya terbatas, (2) jumlah aksi terpisah yang penting pesan-pesannya harus ditafsirkan dengan benar, (3) semua obyek dan aksi yang dimaksudkan dilukiskan secara realistik sehingga tidak terjadi penafsiran ganda.
    k. Unsur-unsur pesan dalam visual itu harus ditonjolkan dan dengan mudah dibedakan dari unsur-unsur latar belakang untuk mempermudah pengolahan informasi.
    l. Caption (keterangan gambar) harus disiapkan terutama untuk (1) menambah informasi yang sulit dilukiskan secara visual, seperti lumpur, dan kemiskinan, (2) memberi nama orang, tempat, atau obyek, (3) menghubungkan kejadian atau aksi dalam lukisan dengan visual sebelum atau sesudahnya, dan (4) menyatakan apa yang orang dalam gambar itu sedang kerjakan, pikirkan, atau katakan.
    m. Warna harus digunakan secara realistik.
    n. Warna dan pemberian bayangan digunakan untuk mengarahkan perhatian dan membedakan komponen-komponen.
    Visualisasi pesan, informasi, atau konsep yang ingin disampaikan kepada siswa dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk, seperti foto, gambar / ilustrasi, sketsa / gambar garis, grafik, bagan, chart, dan gabungan dari dua bentuk atau lebih. Foto menghadirkan ilustrasi melalui gambar yang hampir menyamai kenyataan dari sesuatu obyek atau situasi. Sementara itu, grafik merupakan representasi simbolis dan artistik sesuatu obyek atau situasi.
    Keberhasilan penggunaan media berbasis visual ditentukan oleh kualitas dan efektifitas bahan-bahan visual dan grafik itu. Hal ini bisa dicapai dengan mengatur dan mengorganisasikan gagasan-gagasan yang timbul, merencanakannya dengan seksasama. Jika mengamati bahan-bahan grafis, gambar, dan lain-lain yang ada di sekitar kita, seperti majalah, iklan-iklan, papan informasi, kita akan menemukan banyak gagasan untuk merancang bahan visual yang menyangkut penataan elemen-elemen visual yang akan ditampilkan. Tataan elemen-elemen visual yang akan ditampilkan. tataan tersebut haruslah dapat dimengerti, terang / dapat dibaca, dan dapat menarik perhatian sehingga ia mampu menyampaikan pesan yang diinginkan oleh penggunaannya.

     

    Lima Belas Menit Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review