Tampilkan postingan dengan label OPINI KORAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OPINI KORAN. Tampilkan semua postingan

19 Februari 2014

Salak Pondoh, Dari Sleman Untuk Dunia

di 12.38 0 komentar
google.com

Jika ada Apel Fuji, Jeruk Mandarin, Pir dan buah impor terkenal lainnya dipasaran berdampingan dengan jeruk lokal, apel malang, atau bahkan salak, manakah yang akan kita beli? Sesuai hukum ekonomi jual beli pasti orang akan senang membeli barang yang bagus (kemasan dan bentuk) dengan harga murah dari pada membeli harga yang sama untuk barang yang biasa. Ya, pesona buah impor memang tak tertandingi, dengan kemasan menarik, segar dan kesan “fresh” yang diberikan supermaket menjadikan masyarakat cenderung menyukai buah impor dari pada lokal.


Tahun 2012 kemarin khalayak sempat dikagetkan dengan penemuan buah impor yang mengandung residu bahkan pengawet mayat pada buah-buah impor dari China, Thailand, Amerika, New Zealand, dan beberapa negara lainnya. Buah lokal yang dipelihara tanpa pestisidan dan hanya menggunakan pupuk kandang memanglah kurang menarik namun rasa dan kualitasnya sebenarnya lebih tinggi dari buah impor.


Di Indonesia sendiri khususnya di daerah Tempel Sleman dan kabupaten Sleman sekitarnya berpotensi luar biasa, di dukung dengan hawa sejuk, dekat dengan merap menghasilkan buah bernama salak pondoh. Komoditi salak adalah potensi yang terkalahkan dengan daerah manapun. Kekhasan salak pondoh hanya ada di Tempel Sleman adalah suatu anugerah bagi masyakarat disana. Salak akan tumbuh dengan baik di daerah dengan curah hujan rata-rata per tahun 200-400 mm/bulan. Curah hujan rata-rata bulanan lebih dari 100 mm sudah tergolong dlm bulan basah. Berarti salak membutuhkan tingkat kebasahan atau kelembaban yg tinggi. Tanaman salak tidak tahan terhadap sinar matahari penuh (100%), tetapi cukup 50-70%, karena itu diperlukan adanya tanaman peneduh.Suhu yg paling baik antara 20-30°C. Salak membutuhkan kelembaban tinggi, tetapi tidak tahan genangan air.


Olahan salakpun kini beragam tidak hanya dijual dalam bentuk buah namun sudah dikreasikan menjadi dodol salak, manisan salak, kripik salak, dan aneka makanan lainnya. Bahkan area perkebunan salak dijadikan tempat wisata seperti di Dusun Trumpon, Desa Merdikorejo, Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman. Desa wisata Trumpon merupakan desa wisata dengan dengan obyek agrowisata yaitu perkebunan salak pondoh.
Masalah yang kerap dialami masyarakat adalah ketika menghadapi musim panen harga salak bisa anjlok sangat murah. Teman saya yang tinggal di daerah Tempel sering sekali menawarkan untuk membelikan salak, dengan harga Rp.1500,- bahkan untuk 1 kg salak pondoh. Teman tersebut juga banyak bercerita tentang usaha perkebunan salak orang tuanya, disaat panen besar maka petani banyak merugi diakibatkan harga salak yang terus anjlok. Di pasar pun demikian, harga normal Rp. 4000,- bisa hanya menjadi Rp. 2.500,- saat musim salak tiba dan ini harus dicari solusinya. Karena semua petani pasti menginginkan keuntungan dan tidak ingin merugi.


Ternyata pengolahan salak belum menyentuh seluruh elemen masyarakat, edukasi yang diberikan pemerintah seharusnya lebih ditingkatkan agar tidak ada lagi keluhan yang sejak lama tidak ditemukan solusinya.
Peran pemerintah untuk memperluas pemasaran juga dibutuhkan agar tidak lagi ada mempersulit izin untuk ekspor. Dan yang lebih penting edukasi agar masyarakat Indonesia mencintai buah lokal mutlak perlu digencarkan. Dengan adanya menteri perdagangan yang baru harapannya buah lokal seperti salak ini semakin meluas pemasarannya tidak hanya cina, Singapura, Hongkong, Amerika serikat tetapi seluruh dunia dapat mengenal kelezatan salak pondoh.
        -Harjo- (dan baru sadar emailnya tidak terkirim -_-)

Reklamasi Jangan Sekedar Reklame

di 12.32 0 komentar
           Kerusakan lingkungan yang terjadi di negara ini sangat beragam. Selama ini kita hanya menyaksikan lewat layar televisi atau mendengar dari berita radio. Seakan jika itu terjadi dibelahan pulau kalimantan atau sulawesi berarti bukan masalah kita. Namun akibat peristiwa di Pajangan Bantul, yang menenggelamkan 2 anak yang sekedar mencari duwet pun menjadi akhir kehidupan mereka barulah kita sedikit “melek” bahwa sedemikian parahnya kerusakan yang terjadi akibat kerusakan. Kepekaan kita memang sulit jika hal itu tidak terjadi disekitar tempat kita, padahal Indonesia ini milik siapa?
Tak heran jika tangan-tangan yang bilang peduli itu kemudian memanfaatkan kekayaan Indonesia untuk kemakmuran Negeri lain. Kita hanya mengamuk ketika tahu bahwa Freeport ternyata hanya sedikit sekali yang masuk ke kantong pemerintah, atau rakyat Porong Sidoarjo hingga saat ini tetap diselimuti lumpur lapindo sejak tanggal 29 Mei 2006. Semburan lumpur panas yang menyebabkan tergenangnya kawasan permukiman, pertanian, dan perindustrian di tiga kecamatan di sekitarnya, serta memengaruhi aktivitas perekonomian di Jawa Timur. Reklamasi atau pemulihan lahan pasca tambang sebenarnya keharusan untuk siapa?
Pemerintah yang punya andil pemegang kekuasaan daerah dalam hal ini haruslah tegas dalam menerapkan undang-undang tentang reklamasi. Peraturan tersebut termuat diantaranya pada UU No.4 Tahun 2009, PP No.78 Tahun 2010, dan Permen ESDM No.18 Tahun 2008. Disebutkan bahwa berdasarkan perundang-undangan yang berlaku, kegiatan pertambangan harus mempertimbangkan keseimbangan daya dukung lingkungan. Prinsip yang harus diperhatikan dalam reklamasi dan pasca tambang adalah : Lindungan Lingkungan, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, dan Konservasi Mineral dan Batubara. Hal ini dipertegas lagi melalui PP No.27 tahun 2012 tentang Perijinan Lingkungan bahwa IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi wajib melakukan pengelolaan lingkungan dan pemantauan lingkungan.
            Jelas sekali bahwa para penambang yang punya izin resmi itu harus bertanggung jawab setelah mengambil/mengeruk kekayaan alam tersebut. Pemerintah mempunyai fungsi kontrol dan harus memberikan sanksi tegas bila para penambang itu tidak bertanggung jawab, karena yang akan menerima akibat dari kerusakan lingkungan adalah masyarakat sekitar yang belum tentu mendapatkan keuntungan dengan adanya tambang didaerahnya. Jika pemerintah lalai dan membiarkan kerusakan terjadi, maka sampai kapan kerusakan ini dibiarkan?
Reklamasi Jangan Sekedar Reklame belaka, terlebih mendekati pemilu 2014 penghijauan dan kelestarian janganlah hanya menjadi senjata politik untuk memikat hati masyarakat. Terutama Yogyakarta yang asri ini janganlah sampai rusak akibat oknum tidak bertanggung jawab. Pemerintah harus tegas tidak melihat siapa yang melanggar dan memberi sanksi yang berat untuk mereka yang merusak lingkungan.
Berbeda dengan negara Jepang yang memang kondisi alamnya yang sering terjadi gempa, alamnya tidak sekaya kita dan butuh ratusa periset agar mereka bisa bertahan (survive), atau Israel yang tandus namun dengan tekhnologi apapun sekarang bisa tanam apa saja disana, Belanda yang merupakan laut namun dibendung jadi daratan dan lain sebagainya. Indonesia bisa dibilang tinggal perawatan dan mensyukuri dengan menjaga segala apa yang sudah Tuhan beri. Koes Plus bilang ‘Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman” adalah doa semoga tidak ada lagi perusakan lingkungan dan kekayaan Indonesia bisa menyejahterakan rakyat. Semoga pemerintah lebih peka dan sadar akan hal ini.
-Harjo-


Kurikulum 2013 Tanpa TIK, Mungkinkah Pendidikan Maju?

di 12.29 0 komentar
Menyusul adanya peraturan akan diberlakukannya kurikulum 2013 resmi pada Juli 2014 mendatang, sejumlah pihak merasa resah. Guru Tekhnologi dan Informasi dan Komunikasi (TIK) yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) TIK Kulonprogo resah. Mapel TIK tidak masuk dapalm kurikulum 2013. Para guru TIK mempertanyakan nasibnya karena akan diberlakukannya kurikulum 2013 bagi sekolah yang telah melaksanakannya, guru TIK harus mengajar mapel yang bukan bidangnya (KR Jumat 8/11).
Bahkan yang lebih meresahkan adalah bagaimana masa depan mahasiswa yang sedang kuliah atau berencana masuk kuliah jurusan TIK? Tentu jadi polemik bagi kampus dan mahasiswa itu sendiri teutama orang tua yang punya harapan besar anaknya menjadi guru.
Pada kurikulum 2013, sejumlah pelajaran dijenjang SMP akan dihapus, misalnya biologi dan fisika akan menjadi satu dalam mata pelajaran IPA. Sedangkan geografi dan sejarah akan dilebur menjadi IPS. Tidak hanya IPA dan IPS yang dilebur menjadi satu tetapi mata pelajaran TIK akan ditiadakan di jenjang SMP dan SMA.
Mengapa dihilangkan
Menurut Menteri Pendidikan bapak M Nuh bahwa pelajaran yang dihilangkan sebenarnya sudah terintegrasi pada mata pelajaran yang lain. Padahal kurikulum sekolah per-mata pelajaran itu sudah punya beban masing-masing bagi guru, sangat di sangsikan bila setiap guru harus mengajarkan TIK dalam lingkup pembelajarannya yang sudah padat materi. Mungkin memang bisa seorang guru memasukkan pelajaran TIK dalam materinya tetapi pasti sangat berbeda bila diampu langsung oleh guru yang memang ahli dan kompeten dalam TIK.
Yang jadi pertimbangan selanjutnya adalah masalah usia psikologis anak. TIK dihilangkan pada anak usia SMP dan SMA. Sejatinya usia SMP (12 atau 13 tahun) merupakan masa-masa pubertas peralihan dari SD yang masih anak-anak menuju ke masa remaja yang butuh dukungan bukan hanya dari guru agama di sekolah tetapi adanya panduan dari guru TIK menjadi penting mengenai bagaimana mereka beretika dengan tekhnologi. Miris sekali mendengar berita di TV maupun media cetak seperti KR ini yang memberitakan pelecehan seksual anak SMP, penyebaran video asusila oleh anak SMP juga yang notabene mereka jiwa-jiwa polos yang mencari jati diri dan ini butuh di rangkul oleh guru TIK.

Menghadapi globalisasi tanpa TIK
TIK adalah pelajaran penting menurut saya sebagai kunci menembus globalisasi. Bangsa kita baru saja kebakaran jenggot akibat AS membobol sistem informasi beberapa negara termasuk Indonesia. Nah, apabila anak bangsa dijauhkan dari teknologi dengan tidak adanya bimbingan khusus di kelas apakah masih boleh bermimpi untuk menguasai dunia sedangkan informasi saja masih kebobolan?
Pemerintah selalu menggaungkan agar anak bangsa maju, mampu berprestasi hingga ke tingkat Internasional dengan berbagai karya mereka dan ini susah sekali bila tak ditopang oleh tekhnologi.
Teknologi dan Informasi terus berkembang, bahkan setiap detiknya bermunculan gadget baru yang menyuguhkan berbagai fitur bagi anak. Siapa lagi yang diharapkan dapat mengontol anak karena tidak semua orang tua paham dengan tekhnologi, beberapa mungkin sibuk dan tidak sempat atau yang lebih parahnya orang tua tidak begitu paham dengan teknologi yang ada sekarang sehingga tidak ada kontrol yang baik.
Pernah diramalkan ditahun-tahun berikutnya semua pekerjaan akan dilakukan oleh robot, Jepang sendiri sudah memunculkan berbagai robot yang dirancang menggantikan peran manusia. Lalu Indonesia bagaimana menyiapkan diri menghadapi globalisasi?
-KR-
 


Manfaatkan Hasil Penelitian Kampus

di 12.17 0 komentar



Jepang merupakan negara yang tidak bisa hidup tanpa riset, kata seorang alumnus beasiswa Jepang di UGM beberapa waktu lalu. Kondisi alam sekitar memang rawan bencana, tidak sesubur Indonesia yang merupakan daerah khatulistiwa. Matahari di Indonesia rutin bersinar tidak seperti matahari yang melintasi daerah lain. Dengan tekanan sedemikian rupa, tidak heran negara Jepang hanya bisa bertahan hidup dengan adanya riset. Sekolah di Jepang terbiasa melakukan penelitian, dan hampir semua aspek kehidupan (sandang, pangan, papan) dihasilkan melalui tekhnologi.

Tidak heran agaknya ketika 1945 Jepang dijatuhi bom atom yang membunuh sebanyak 140.000 orang di Hiroshima dan 80.000 di Nagasaki pada akhir tahun 1945. Sejak itu, ribuan telah tewas akibat luka atau sakit yang berhubungan dengan radiasi yang dikeluarkan oleh bom tersebut. Yang membuat seluruh dunia kagum adalah ketangkasan Jepang dalam penanganan setelah penyerangan. Jepang tidak butuh waktu lama untuk segera bangkit dan menguasai keadaan. Hanya dalam kurun waktu 30 tahun, jepang segera menjadi salah satu jantung perekonomian dunia.
Sempat ada kelakar jika Jepang tidak dijatuhi bom, mungkin mereka tidak akan semaju sekarang ini. Dan hanya ada satu cara menyamai Jepang, dengan memintanya untuk berhenti sejenak menunggu kita bangkit. Indonesia sejak 1945 hingga saat ini 68 tahun merdeka masih merupakan negara berkembang yang harapannya jangan hanya kembang kempis. Sebenarnya Indonesia ini tidak begitu terpuruk kok, lihat saja jumlah kampus yang ada di Indonesia ada sekitar 2.647 kampus, swasta 2.435 dan Negri 212. Tidak untuk memperdebatkan hitungan ini benar atau tidak tetapi yang lebih hakiki adalah kemana hasil pemikiran dan penelitian mahasiswa/dosen?

Mahasiswa wajib membuat skripsi, tesis bahkan disertasi untuk tiap jenjang akademiknya, belum lagi banyaknya lembaga penelitian (lemlit), berbagai jurnal disetiap fakultas dan call for paper yang bejibun setiap tahunnya. Lalu kemana semua itu? Hasil-hasil riset selama ini tidak bisa dibilang sedikit dan biasanya hanya berakhir di perpustakaan, hanya orang-orang tertentu  yang mau mengaksesnya . Dana yang digelontorkan pemerintah atau kampus sendiri pun tidak bisa dibilang sedikit. Lalu mengapa tidak diberdayakan?

Sebagai contoh untuk pelatihan kurikulum 2013 dikti mengalokasikan 50 juta perprovinsi dan pelatihan yang harusnya 2 bulan disingkat menjadi 2 minggu. Dana yang belum habis itu kemudian dikembalikan lagi ke Pusat karena masa pelatiahan selesai dana belum juga habis. Jika dilihat memang Indonesia ini lebih banyak ilmu sosial dari pada ilmu alamnya, sehingga memang penelitian yang dilakukan terkesan diulang-ulang dan seputar opini saja, masih jarang yang sampai pada penemuan produk (Research and Development).
Permasalahan lain, adalah turunnya anggaran setiap tahunnya dibulan oktober padahal bulan desember sudah harus laporan ke pusat (menjelang akhir tahun tutup buku). Dugaan ini yang menjadikan penelitian kurang bermutu karena ketergesa-gesaan. Bayangkan hanya dalam waktu 2-3 bulan saja peneliti bisa melakukan hal besar apa? Karena dalam penelitian butuh survey awal (observasi), pengumpulan data hingga proses penelitian yang bervariasi kebutuhan dananya. Ada penelitian yang memang butuh dana besar sehingga ketika menunggu dana turun ia kalang kabut kerja cepat sehingga hasilnya tidak maksimal. Ada juga dengan idealisme tinggi ingin membuat hal besar namun pupus dan hanya membuat sesuatu yang biasa-biasa saja hanya karena minim dana dan harus pakai kantong pribadi. Jadi saat ini masalah yang dihadapi Indonesia bukan lagi dana karena alokasi 20% ini sangat besar hanya realisasinya yang perlu dibenahi, dan profesionalitas dan komitmen pemimpin yang mempunyai otoritas yang punya kuasa. Kembali lagi niat kita apakah sekedar menggugurkan tanggung jawab meneliti atau memang berniat mengubah Indonesia dengan riset-riset yang bermutu? Kita tunggu capres dan jajarannya di 2014 ini semoga lebih mengedepankan integritas dan kesungguhan kerja untuk memajukan rakyat dari pada pamor partainya. Terlebih kita dihadapkan pada area pasar bebas ASEAN 2015 dimana tidak ada sekat antar negara. Semoga    


 di Metro Riau tanggal sekian

27 Desember 2013

LAHIRKAN INDONESIA BARU LEWAT GURU HEBAT

di 09.12 0 komentar
Memperingati hari guru 25 November, sejak mari kita ingat sosok guru-guru yang mengajar kita baik sekolah formal maupun non formal. Pendidikan menjadi sorotan sebagai tolak ukur maju tidaknya suatu peradaban, ketika suatu keadaan dirasa tidak lagi seperti lazimnya maka sosok dibalik pendidikan yang dicari, guru.
Diantara suksesnya proyek sertifikasi, masih ada saja insan-insan mulia yang belum merasakan bahkan mendapatkan gaji yang kecil. Memang mereka bukan PNS namun, bukankah kewajiban mencerdaskan bangsa dalam undang-undang pun tak dikatakan hanya kewajiban PNS kan?
Jadi Guru Sukses, Walau Gaji Minim.
Ibu Pamela, pemilik seluruh usaha pamela mulai dari usaha retail, SPBU, toko besi, salon dan sebagainya. Beliau bercerita bahwa salah satu yang menjadi syarat sebelum menikah dari suaminya adalah bu Pamela mau diajak bekerja, namun tetap mengurus keluarga dengan baik.  Juga Ustad Sunadi berkeinginan untuk berdakwah tetapi  tidak menuntut bayaran, jadi harus ada pemasukan untuk memenuhi  kebutuhan hidup sehari-hari. Kisah ini saya dengar dari beliau sendiri saat mengisi acara Relawan dan Wirausaha di UIN Sunan Kalijaga kemarin bersama pak Heri Zudiyanto yang juga pengusaha. Pembagian tugas ini rata, saya yang cari dunia dan pak Sunardi cari akhirat untuk kita nikmati bersama di dunia-akhirat.
Konsep nrimo ing pandum rupanya sudah boleh kita singkirkan. Bagaimana mau mengajar dengan baik bila gaji pas-pasan, tugas sekolah banyak sedang rumah tangga kacau karena penghasilan tak cukup. Para guru tak dilarang berwirausaha, yang penting tidak melalaikan tugas utamanya untuk mengajar. Mengapa? Bila menunggu pemerintah memberi santunan ya sampai kapan menunggu hal yang tak pasti. Kalau PNS mungkin tidak lagi masalah, namun guru di Indonesia lebih banyak yang swasta dari pada pegawai negeri. Maka guru harus mandiri tak boleh hanya mengeluh.
Jadilah pengusaha. Negeri ini kebanyakan politikus dari pada pengusaha. Indonesia mungkin belum ada setengah persen yang jadi pengusaha dibanding negara lain yang jauh diatas kita,”kata Pak Heri Zudiyanto saat menjadi pembicara.
Betul memang, suguhan televisi setap harinya menayangkan perkembangan kasus-kasus yang melingkupi elit politik, tidak salah bila kita pun berasumsi politikus di negara ini sungguh banyak dibanding pengusaha.
Mengapa tak coba mengusut sebab Indonesia rendah jumlah pengusaha? Ternyata lagi-lagi pendidikan jawabannya. Pendidikan kita kurang mendukung adanya dunia usaha. Sejak TK kita telah disuguhi berbagai pelajaran yang cukup memberatkan otak  anak. Sejatinya anak kecil dibebaskan fikirannya tetapi TK pun sudah dibebani PR dan les-les lain karena tuntutan jenjang berikutnya  yang mensyaratkan anak harus sudah bisa baca, menguasai menghitung, menulis dan sebagainya. Sebagai bandingan tengkolah Jepang yang begitu menghargai usia emas anak TK, dibiarkan sambil diarahkan bakatnya mau apa tanpa harus dipaksa bisa membaca dan berhitung.
Memang jika memimpikan pengusaha Indonesia bermunculan, semua aspek harus turut mendukung. Terutama pendidikan yang terasa sekali sejak anak usia sekolah
Modal jadi pengusaha
Hal menarik dari yang disampaikan Pak Heri, mantan walikota Yogyakarta ini. “Saya ingin bagaimana dengan produk batik saya orang tampak gagah dan cantik, juga dengan jilbab yang ditoko saya, wanita terbantukan untuk menutup auratnya. Modal utama saya jualan batik bukan uang, hanya kepercayaan. Selama setahun menjadi karyawan saya bertekad tidak ingin menjadi karyawan selamanya, karena ada jatah menjualkan batik dengan sistem bayar dibelakang saya pun selalu membayar tepat waktu hingga pemilik usaha menjadi yakin bahkan meminta agar saya bawa lebih” jelas beliau. Sederhana, banyak yang berkata usaha butuh modal besar, namun beliau membuktikan bahwa kepercayaan adalah modal utama yang selalu dipegangnya hingga kini dan juga niat untuk bermanfaat bagi sesama. Ketika ada yang bertanya bagaimana menghadapi pesaing, “jangan takut, yang abadi didunia ini adalah perubahan, jadi terus berinovasi, berproses dan belajar.
Kalau rumus dari bu Pamela hanya 3 N, Niroke, Niteni, Nambahi atau mirip rumus ATM = Amati, Tiru, Modifikasi. Intinya siap jatuh bangun dan belajar dari pengalaman.
Guru Usaha Apa?
Banyak lahan yang bisa dimasuki guru, utamanya bermula dari hobi. Mungkin ada yang suka masak, suka menjahit, merajut dan sebagainya bisa membuat sesuatu yang mungkin sekarang dianggap remeh tapi siaa sangka kelak menjadi besar.
Manfaat yang saya bayangkan ketika guru “sosok yang digugu lan di tiru” ini berwirausaha, maka anak didik pun akan termotivasi. Ini strategi menambah jumlah pengusaha Indonesia, untuk Indonesia lebih baik. Jadi tidak ada lagi minset cita-cita jadi pegawai, jadi dokter, jadi pilot tapi cita-cita plus, dokter plus pengusaha, guru plus pengusaha, atau pegawai plus pengusaha. Sosok penuh arti inilah yang jadi acuan murid, guru.




14 Desember 2013

Memutus Rantai Korupsi lewat Pendidikan

di 16.50 0 komentar


9 desember merupakan hari anti korupsi internsional. Seluruh negara memperingati dengan berbagai aksi, sejak kemarin sejumlah aktivis yang tergabung dalam Gerakan Pemuda Anti Korupsi peringati Hari Anti Korupsi seDunia di Bundaran HI, Jakarta, Ahad 8/12. Aksi kampanye tersebut dalam rangka menyambut peringartan Hari Anti Korupsi seDunia yang jatuh pada tanggal 9 Desember.
Korupsi mungkin menjadi lagu lama yang tak pernah usang. Bagaimana tidak Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat selama kurun waktu 2003-2013, sebanyak 296 kasus korupsi pendidikan dengan indikasi kerugian negara sebesar Rp619,0 miliar telah ditangani oleh pihak Kepolisian, Kejaksaan, dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ini baru melihat pendidikan saja, belum aspek lain seperti ekonomi, sosial, politik dan sebagainya. Dari penelusuran ICW, Dana Alokasi Khusus (DAK) merupakan sektor primadona yang paling sering dikorupsi dengan jumlah kasus sebanyak 84 kasus. Dari jumlah tersebut, kerugian yang dialami negara terbesar Rp265,1 miliar.
Yang menarik, dari tindak pidana korupsi di dunia pendidikan, baik di Kemendikbud maupun di perguruan Tinggi. setiap tahunnya jumlah kasus tidak pernah mengalami peningkatan, Namun, kerugian yang diderita negara luar biasa cukup besar. Untuk 2013, meskipun baru 16 kasus yang ditangani, namun kerugian negaranya sudah mencapai Rp121,2 miliar.(Okezone.com)
Bahkan beberapa media melansir Indonesi negara terkorup kedua. Lagi-lagi pendidikan yang jadi punggung perjuangan mencetak anak bangsa yang digerogoti tikus-tikus korupsi. Bagaimana mau maju?
 Pendidikan adalah senjata paling ampuh mengubah dunia (Nelson Mandela)
Itulah kata Nelson Mandela seorang pahlawan Apertheid yang baru saja berpulang namun jasanya tak kan hilang dimata rakyatnya. Benar memang, harusnya korupsi bisa diberantas dengan pendidikan. Jusuf Kalla pernah mengatakan: salah jika menganggap para koruptor adalah hasil dari pendidikan tinggi, ketika menyoroti banyaknya korutor yang sebagian besar merupakan orang berpendidikan tinggi bahkan kelas professor. Ibaratnya pisau, punya dua sisi. Satu sisi bisa membantu memudahkan pekerjaan dapur tapi lain sisi bisa sebagai alat kejahatan (membunuh, intimidasi) yang semuanya bergantung si pengguna pisau. Begitu pula pendidikan, tidak ada satu orangpun guru atau dosen yang mengajarkan perilaku korupsi.
Bagaimana harusnya pendidikan?
Pendidikan bukan untuk disalahkan tapi dikoreksi untuk dibenahi bersama. Tanggung jawab moral lebih besar karena pendidikan bukan sekedar pengajaran guru ke siswa, banyak aspek lain yang harus turut peduli dan membenahi. Karena sejatinya pendidikan bukan hanya sekolah. Sekali lagi, pendidikan bukan hanya sekolah. Jika ideologi selama ini pendidikan hanya sekolah dimana anak hanya sekitar 8 jam saja disekolah, lalu 16 jam yang lebih banyak ini kuasa siapa?
Koreksi pertama, sejak TK anak sudah di”paksa” untuk belajar baca, tulis, hitung (calistung). Beberapa penelitian neurosains memandang bahwa jika diusia ini anak sudah diharuskan membaca padahal otak mereka belum siap maka bisa “lelah” sebelum waktunya. Memang belum diteliti lebih lanjut bagaimana pola pendidikan para koruptor dimasa lalunya, tapi pasti ada pengaruh. Jika sejak awal otak sudah diperas bekerja sebelum siap maka kelelahan itu terwujud dari tidak maksimalnya kerja dan hasil yang direncanakan.  Pendidikan Jepang kita tahu sangat memperhatikan usia-usia ini, diikuti apa yang menjadi “passion” nya bukannya dipaksa mengikuti kurikulum. Tetapi pasti bertolak belakang dengan realita karena SD kelas 1 membaca seakan menjadi kewajiban ketika anak mendaftar, orang tua akan sigap mencari bimbingan belajar yang bisa membuat anaknya bisa membaca. Padahal kita telah merenggut kebebasannya.  
Aspek lain yang harus menjadi perhatian pun pendidikan dalam keluarga. Pendidikan terbaik anak adalah dari orang tua, tak terbantahkan bahwa pendidikan orang tua akan melekat sepanjang hidup anak. Pengalaman dalam keluarga pula yang akan dibawa anak di masa depannya. Untuk itu sinergi membangun keluarga yang perhatian terhadap pendidikan anak sangat penting untuk mewujudkan mimpi melihat Indonesia gemilang.

 

Lima Belas Menit Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review