25 Oktober 2012

PPL KKN di MAN 1 Yogyakarta 251012

di 22.25 0 komentar
Alhamdulillah..........
segala puji bagiMu Ilahi Rabbi...
sang Pemberi nikmat walau aku sering lalai bersyukur...
Penjaga disetiap saat.....

Akhirnyaaaaa....
semua amanah sudah beberapa terlaksana, kadang suka berpikir ya.. belajar koq amanah? menurutku iya, selain belajar memang kebutuhan kita jangan lupa ada orang-orang disekitar kita yang menanti partisipasi kita dalam hidup ini...
jadi hidup ini amanah,

waaaw..
tak terasa, kini kuliah mencapai semester 7 kayaknya baru aja jadi maba (mahasiswa baru) udah mau selesai ajaa... :D
bahagia... sedih.. haru.. tangiiis
keluargaku di Mansa

mulai dari PPLKKN di MAN Yogyakarta 1.. 3 bulan usai juga mulai dari juli-oktober, pembuatan laporan macam2 dan agenda penting mahasiswa semester akhir SKRIPSI..
7 huruf yang bikin ketar-ketir... bisa nggak yaa??

jadi ingat pesan dosen saya Dr. Muqowim, Life is choice.. kita bebas menentukan pilihan namun tak bebas menentukan akibat.. bener to??
banyak suara sumbang yang sering berkata, "ngapain koq cepet2 lulus, mau nikah ya? (Iyaaaaaaa *mbatin dg semangat'45), atau mo jadi sarjana karbitan ya, nambah2i pengangguran ajaa .. hduuh ini yang kadang bikin nyesek...
hehe, biarlah kucing mengeong.. guk..gukk..kafilah tetap berlalu


hanya berpikir saja "mangnya kalo aq nunda2 kamu mo bantu?" nggak kan ya, tetep aku juga yang memulai dan aku yang mengakhiri #kaya lagu jaman emakq,, kau yang mulai..kau yang mengakiri.. ups.. beda :D

241012... dag-dig-dug
jadwal sudah terpampang 12 hari sebelumnya.. munaqosyah, #ritual wajib jelang penganugerahan bla..bla..bla... :D
sempet stres, takut, bingung tapi nasihat dari ibunda dan orang2 terdekat "udah jalani aja.. sidang pasti berlalu" ternyataa.. tidak seseram yang kupikirkan.. hehe
resep ibuku cuma "kalau bisa ya jawab kalo ndak ya bilang saya belum tahu.." #simple..

udah lama banget ga nulis2 gini,,, jadi agak ngawur nulisnya...
kirain blog dah exp, ternyata masih bisaaa :D


malam ini takkbbiran.. besok qurban 1433 H,
harapanku
- pengen naik haji bareng orang tua dan keluargaa #amiiiiiiiiiiin
- pengen berkurban dengan hasil sendiri #slma ni masih minta ortu

"Belajar dari Ibrahim....  belajar tulus, ikhlas, menerima takdir apapun itu, patuh, sabar, qonaah.. dan lain2..

wah numpang buang unek2 ni sekalian ngetes blogq. ^^
selamat idul adha 1433 H


2 Juni 2012

nostalgila-watiiii ^^

di 11.26 0 komentar
buka  fb lihat ada notes dari teman.
jadi teringat kunjungan kamis lalu ke rumah tmn yg lagi main k jogja. alhamdulillah hari itu setelah seminar proposal 2 temanku yg bkin aku ikut deg2an akhirnya suskses juga. tidak menunggu lama setelah tmnq si Naz dtg kita langsung meluncur ke TKP.. Jl. Golo tamsis 
wah betapa berdebar-debar jantung ini ketika akhirnya bertemu dengan kawan lama, seperjuangan, senasib sepenanggungan se.. Indonesia raya.. haha
imah, naz, nof, ning
Kebiasaan kami yang jelek yaitu lupa menanyakan kabar, ketika bertemu langsung A-Z keluar semua, mulai dari obrolan2 ga penting,  gosip2 mulai dr presiden sampe pedagang d pasar smua keluar.. ups.. lebay bgt padahal tmnq satu ini niat kjogja buat check up bukan liburan.. tapi kami tak peduli yang penting hari itu jadi pertemuan penting untuk kami.
rebutan biskuit

yang moto lum makan
        asikkkkk.. di traktir yang pulang kampung ni...











Benar2 acara makan yang beda, alhamdulillah semangat baru setelah kunjungan itu. banyak cerita yang tak tersampaikan,
nyam..nyam

kisah mengharu-biru yang tak jua terjawab hingga saat ini.
alhamdulillah kami msh tampak muda ^^
 sebenarnya tmnku ini usianya dibawahku, tapi karena Allah menakdirkan dia menemukan separuh jiwanya terlebih dulu maka kami seperti kalah eh bukan, maksudnya dia seperti kami tuakan.. aduh bukan begitu tapi yawdah lah sementara begitu.. :D

kata imah: boleh sih ngomongin orang tapi habis tu kita minta maaf ma orangnya ya.. kwkwkwkwk... ok2 pelajaran 1)
gpp ngomongin orang asal ada solusinya... pelajaran 2)

agak sorean dikit ketika hendak pulang, entah mengapa temanku ini mmemberi banyak petuah.. termassuk untuk kami2 yang belum menggenapkan "separu dien" hendak pulang.. diantaranya tentang makhluk asing yang turun dari planet Pluto, hehe.. makhluk pendamping hawa maksudnya....

berawal dari pertanyaan naz tntg bgm sih sosok mahkluk ini sebenarnya, aq menimpali bagaimana mengenali ketulusan yang belum diikat janji suci??
#njelimet pertanyaannya... sok gaya2 anak kmpus yg intelek...

yah.. bgini kawanku. *khas gaya dia menasehati
jangan percaya pada "mahluk asing" manapun, siapapun, kapanpun (5W+1H).. se'orang yang "asing" tsb bisa kau percaya setelah ia menjadi pendampingmu. "ketulusan bukan sembarang benda yang mampu ditunjukkan saat kau belum tau apa itu cinta". #dalem banget kata2 ini... 
rindu dan cinta akan terasa jika kalian telah menikah.. maka menikahlah #hduhh,, paling iri klo dia udh ngluarkan senjata ini..
ketulusan hanya akan muncul ketika ikatan itu suci, jangan mau tertipu... #singkat, padat dan kaya makna

ini yang aku suka dari temanku ketika dia menikah, kedewasaannya melampaui umurku *loh g nymbung
sampai dirumah kata2nya masih tergiang di otak ini...
sampai akhirnya di suatu pagi yang ceria.. ada notes fb ini deh.. copas loo
 
Ciri - Ciri suami Sholeh
1. Suami yang taat dalam melaksanakan perintah serta meninggalkan larangan Allah dan RasulNya dan dapat pula membimbing isterinya
2. Suami yang mampu memberikan nafkah sama ada zahir ataupun batin
3. Suami yang sedia memberikan nasihat, bimbingan , dorongan , didikan dan ajaran dalam melaksanakan tugas serta tanggungjawab rumah tangga dan juga terhadap Allah S.W.T.
4. Suami yang bijak dalam menyelesaikan permasalahan isteri yang timbul bersama tetangga atau sebagainya.
5. Suami yang dapat memberikan perhatian dalaam hal keselamatan, kebajikan dan kesehatannya.
6. Suami yang dapat menyediakan tempat tinggal, pakaian dan makanan yang sempurna sesuai kemampuannya
7. Suami yang penyabar dan tidak mengggunakan kekerasan dalam menyelesaikan sesuatu masalah atau untuk mendapatkan sesuatu.
8. Suami yang tidak cemburu buta tanpa asas terhadap isterinya yang mana boleh merusak keutuhan rumah tangga mereka.
9. Sentiasa memberikan kasih sayang, dan pergaulan yang baik terhadap isterinya.
10. Suami yang sentiasa menjaga rahasia isterinya dan tidak diberitahukan kepada orang lain.
11. Suami yang ikhlas dan jujur serta dapat menepati janji terhadap isteri dan anak-anak.
12. Suami yang menjauhkan diri dari perbuatan maksiat seeprti meminum minuman keras, berjudi, berzina, menipu, mencuri dan sebagainya.
13. Suami yang dapat memberikan penjagaan dan perhatian yang baik terhadap isterinya. Penjagaan ini meliputi semua hal termasuk kehormatannya.
14. Suami yang bijak memahami perasaan dan hati isteri dengan perbuatan atau perkataan, jangan biarkan dirinya dalam keadaaan bersedih.
15. Suami yang sentiasa mengutamakan kebersihan diri, zahir dan batin.
16. Suami yang menahan dirinya dari bergaul secara bebas dengan wanita lain.
17. Suami yang dapat menyelidiki secara cermat dan teliti segala hal yang disampaikan oleh orang lain yang berkaitan dengan isterinya.
18. Suami yang bijak dalam memimpin rumah tangganya dan melaksanakan tugas dengan penuh amanah serta bertanggungjawab.
 smg manfaat
haha.. mulai deh imah *,*

13 Januari 2012

Guru dan Pendidikan karakter

di 08.45 0 komentar

              Pengalaman adalah guru yang terbaik. Peribahasa tersebut menunjukkan bahwa sebenarnya dalam belajar kita tidak harus mencari guru, lalu muncul pertanyaan apakah guru itu  harus orang atau pengalaman (dalam artian alam, lingkungan baru dan lain-lain) dalam pembelajaran? Ini memang pertanyaan fislosofis yang mengecohkan/ memiliki banyak tafsir. Tapi sejatinya guru/ pendidik adalah sarana transformasi ilmu kepada abak didik. Itulah mengapa guru dituntut memiliki sejumlah keahlian (professional) dalam mengajar agar dapat menyampaikan ilmunya dengan tekhnik yang benar bukan asal-asalan. Mengapa penting? Karena anak didik kelak diharapkan menjadi penerus bangsa yang benar , merekalah yang melanjutkan kehidupan.   
            Jika mereka terdidik dengan baik, harapannya bangsa ini menjadi bangsa yang baik.  Memiliki murid yang cerdas, santun dan taat beragama merupakan cita-cita luhur seorang pendidik atau lebih akrabnya kita sebut guru. Namun, untuk mewujudkannya  tidak seperti membalikkan telapak tangan. Perlu usaha keras, semangat tinggi serta kompetensi yang memadai sebagaimana persyaratan menjadi seorang guru. Tugas yang diemban memang memang tidak ringan namun tidak mustahil untuk diwujudkan bila ada kesungguhan dan kerja keras.
Guru dan pendidikan karakter merupakan sebuah kesatuan yang butuhkan untuk mewujudkan bangsa yang berkarakter pula.

Pendidikan karakter
           pengertian pendidikan dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam pasal Pasal 1 butir 1 UU Nomor 20 Tahun 2003 dijelaskan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.
         Menurut Thomas Lickona pendidikan karakter adalah sebagai berikut: “Character education is the deliberate effort to help people understand, care about, and act upon core ethical values”. “Pendidikan karakter adalah usaha sengaja (sadar) untuk membantu manusia memahami, peduli tentang, dan melaksanakan nilai-nilai etika inti”. Berkenaan dengan pentingnya pendidikan ini, kita diingatkan bahwa “Education comes from within; you get it by struggle and effort and thought” (Napoleon Hill). Pendidikan datang dari dalam diri kita sendiri, kita memperolehnya dengan perjuangan, usaha, dan berfikir.
Dari gabungan pengertian tersebut kita memahami bahwa pendidikan karakter merupakan usaha yang dijalankan terus menerus (mulai dari anak memasuki sekolah sampai ke jenjang berikutnya) guru/ pendidik mempunyai tugas menanamkan karakter, nilai-nilai luhur, memahami, memupuk dan membiasakan baik untuk guru itu sendiri dan meluas pada murid yang tentu harapannya manfaat yang diberikan akan sampai pada masyarakat.

Unsur-unsur pendidikan karakter
     Thomas Lickona mengatakan ada 7 (tujuh) unsur pendidikan karakter, yaitu:
  1. ketulusan hati atau kejujuran (honesty);
  2. belas kasih (compassion);
  3. kegagahberanian (courage);
  4. kasih sayang (kindness);
  5. kontrol diri (self-control);
  6. kerja sama (cooperation);
  7. kerja keras (deligence or hard work).
            Tujuh karater inti (core characters) itulah, menurut Thomas Lickona, yang paling penting dan mendasar untuk dikembangan pada peserta didik selain sekian banyak unsur-unsur karakter yang lain. Jika kita analisis dari sudut kepentingan restorasi kehidupan bangsa kita menurut istilah Ir. Sutawi, M. P, maka ketujuh karakter tersebut memang benar-benar menjadi unsur-unsur yang sangat esensial. Katakanlah unsur ketulusan hati atau kejujuran, bangsa saat ini sangat memerlukan kehadiran warga negara yang memiliki tingkat kejujuran yang tinggi. Membudayanya ketidakjujuran merupakan salah satu tanda dari kesepuluh tanda-tanda kehancuran suatu bangsa menurut Lickona.
Selain tujuh unsur karakter yang menjadi karakter inti menurut Thomas Lickona tersebut, para pegiat pendidikan karakter mencoba melukiskan pilar-pilar penting karakter dalam gambar dengan menunjukkan hubungan sinergis antara keluarga, (home), sekolah (school), masyarakat (community) dan dunia usaha (business).
            Tentu kita mengharapkan ketujuh nilai tersebut dapat tertanam kuat dalam jiwa anak sehingaa tertancam kuat dalam dirinya. Dengan mencuatnya kasus Siami bocah SD dari Surabaya yang berteriak lancang membongkar praktek contek masal kita makin bertanya-tanya, apakah bisa merubah sistem UN dengan adanya pendidikan karakter lalu lebih mengedepankan kejujuran?, belum lagi masalah kekerasan, tawuran antar sekolah, bahkan pelecehan dalam kendaraan yang sekarang marak terjadi. Apakah cukup hanya guru yang berperan dalam pendidikan karakter?

Aplikasi Pendidikan Karakter Rasulullah SAW.

di 08.43 0 komentar

Polemik yang dihadapi Indonesia tak kunjung ditemukan titik akhirnya. Berbagai problem dalam segala aspek selalu menyita perhatian, mulai dari kemiskinan, sekolah roboh, tingginya biaya pendidikan, korupsi, kekerasan siswa mulai dari SMP sampai bangku kuliah pun marak terjadi. Sekolah yang menjadi tempat belajar, kini menjadi harapan besar bagi masyarakat untuk merubah keadaan yang sangat merugikan tersebut. Jika berharap banyak pada pemerintah sepertinya mustahil, mereka lebih fokus pada fluktuasi politik dan Negara. Padahal jika ingin serius merubah Indonesia menjadi lebih baik, yang harus mereka perhatikan betul adalah aspek pendidikan. Karena disinilah proses menempa diri dan menanamkan nilai-nilai positif sehiingga menghasilkan bibit yang unggul sebagai penerus bangsa.
  Kita pantas bertanya, mengapa Indonesia menghadapi krisis kronis dan mengalami erosi moralitas. Perilaku positif hilang termakan zaman digantikan produksi perilaku negatif yang cenderung destruktif. Harga diri seorang manusia sangat murah dan terbeli dengan kertas-kertas berangka, seakan tidak lagi mempedulikan penilaian orang demi mewujudkan cita-cita semunya.
Merespon fenomena itu, kita layak bertafakur dan merumuskan kembali sendi kehidupan agama dan kesalehan kolektif yang memudar. Salah satunya mengembalikan kembali posisi ajaran Islam yaitu Al – Qur’an dan Hadits Rasulullah secara proporsional, mengakar kuat dan mampu dirasakan sentuhannya dalam kehidupan masyarakat. Ada baiknya, kita juga kembali belajar membaca ulang bagaimana peri kehidupan teladan terbaik yaitu Rasulullah SAW. 


Menumbuhkan Karakter Islami
Dalam kacamata kaum muslimin, gejala yang merusak di masyarakat akibat hilangnya karakter dan kepribadian Islami. Kita kecanduan produk Barat yang hedonistik, serba bebas dan berkiblat kesenangan duniawi. Konsep permissif itu berdampak rusaknya tatanan kehidupan sosial, kacaunya moralitas dan mengendurnya nilai kebersamaan antar individu.
Jelas, ini konsepsi yang bertentangan dengan nilai Islam yang mengatur tawazun (keseimbangan) kehidupan dunia dan akhirat. Rasulullah SAW dalam membentuk generasi pilihan sangat mengintensifkan tiga kecerdasan yaitu emosional, spritual dan intelektul. Hasilnya dapat dirasakan dimana banyak dilahirkan pejuang Islam hebat seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan sahabat lainnya.
Ada beberapa prinsip strategis pembentukan karakter Rasulullah kepada para sahabat sebagai generasi penerusnya.
Pertama, Rasulullah SAW sangat fokus kepada pembinaan dan penyiapan kader. Fakta itu dapat dilihat sejak beliau mulai mendapatkan amanah dakwah. Tugas menyebarkan Islam dijalankan dengan mencari bibit kepemimpinan unggul berhati bersih. Dakwah beliau fokus tidak menyentuh segi kehidupan politik Makkah. Selain faktor instabilitas dan kekuatan politik, perjuangan dakwah memang difokuskan nilai pembinaan.
Dirinya berusaha menanamkan karakter kenabian yaitu siddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan) dan fatonah (cerdas). Rumah Arqam bin Abil Arqam menjadi saksi bagaimana ahirnya kepemimpinan Islam dilahirkan. Point penting pertama pendidikan karakter adalah fokus, bertahap dan konsisten terhadap pembinaan sejak dini.
Kedua, mengutamakan bahasa perbuatan lebih baik dari perkataan. Aisyah menyebut Rasulullah SAW sebagai Al-Qur’an yang berjalan. Sebutan itu tidak salah, mencermati Sirah Nabawiyah menjadikan kita menuai kesadaran rekonstruksi pemikiran dan tindakan Rasulullah SAW. Beliau berbuat dulu, baru menyerukan kepada kaumnya untuk mengikutinya. Kesalehan individu berhasil membentuk kesalehan kolektif di masyarakat Makkah dan Madinah.
Sesungguhnya pada diri Rasulullah saw. terdapat contoh tauladan bagi mereka yang menggantungkan harapannya kepada Allah dan Hari Akhirat serta banyak berzikir kepada Allah” (QS 33 : 21)
Ketika berdakwah di masyarakat Thaif dirinya mendapat perlakuan buruk dilempari kotoran. Pada saat itu datanglah Malaikat Jibril menawarkan jasa. “Hai muhammad jika engkau kehendaki gunung yang ada dihadapanmu ini untuk aku timpahkan kepada penduduk Thaif, niscaya sekarang juga aku lakukan.” Nabi menjawab “Jangan Jibril, semua itu dilakukan mereka karena ketidaktahuan mereka” kemudia nabi berdo’a “allâhumahdî qaumî fainnahû lâ ya’lamûn” “Ya Allah berikanlah hidayah kepada kaumku sesungguhnya mereka tidak mengetahui” Alhamdulillah, Allah SWT mendengar doanya, masyarakat Thaif banyak menjadi pengikut Islam. Point penting kedua, berikan keteladanan baru mengajak orang lain mengikuti apa yang kita lakukan.
Ketiga, menanamkan keyakinan bersifat ideologis sehingga menghasilkan nilai moral dan etika dalam mengubah masyarakatnya. Beliau meluruskan kemusyrikan mereka dengan mengajarkan kalimat tauhid yakni meyakini Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Karakter tauhid menghasilkan pergerakan manusia yang dilandasi syariat Islam dalam menjalankan kehidupan. Mengutip Nur Faizin (Republika, 13/10)
Pendidikan karakter yang terpenting adalah pendidikan moral dan etika. Rasulallah SAW sendiri pun menegaskan hal itu dalam sabdanya, "Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak karimah." (HR Ahmad dan yang lain). Menumbuhkan kembali akhlak karimah haruslah menjadi kompetensi dalam proses pendidikan karakter setiap bangsa.
karakter itu harus memadukan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Rasulullah SAW sudah memberikan teladan itu dengan membangun pendidikan berbasis moral dan etik. Pembangunan pendidikan dapat dimulai dari Pesantren, Kampus dan Sekolah sebagai tempat subur pembinaan sekaligus pemberdayaan karakter generasi muda. Karena dengan moral yang baik dan etika yang berlandaskan ideologi yang benar akan membentuk komunitas masyarakt bangsa yang rahmatan lil alamin.
            Utamanya yang bertugas menanamkan karakter ini bukan semata guru/ pendidik. Tapi yang paling penting adalah keluarga, sejak kecil anak telah merekam nilai-nilai yang ia terima melalui memorinya karena ingatan seorang anak sangat kuat. Anak juga memiliki waktu lebih banyak bersama keluarga dibanding waktu dia di sekolah. Maka sangat tidak tepat bila kegagalan penanaman karakter hanya disandarkan ke guru. Penanaman karakter membutuhkan waktu yang sangat lama dan akan menjadi kebiasaan/ aktifitas rutin. Disinilah poin penting mengenai penanaman karakter/ akhlak yaitu menjadi tugas bersama antara keluarga (terutama ayah dan ibunya) dan guru/ pendidik.

Contoh Pengalaman Penyelenggaraan Pendidikan Non-Formal Melalui Radio

di 00.30 0 komentar


             Pengalaman-pengalaman ini sengaja diambil dari sejumlah  pengalaman yang tidak dilaporkan oleh WilburSchramm dan kawan-kawan dalam New Educational media In Action, sekedar untuk ilustrasi titik tolak pembahasan.
  A. Radio Jawatan Pendidikan Masyarakat
            Pada tahun 1951  Jawatan Pendidikan Masyarakat pada Kementrian Pendidikan dan Pengajaran, menyelenggarakan suatu program siaran radio untuk pendidikan masyarakat yang sasarannya adalah pelajar demobilisan, yang setelah masa kemerdekaan mengalami banyak masalah baik untuk kembali kebangku sekolah maupun untuk menyesuaikan diri dengan masyarakat.
            Siaran dipancarkan dari pemancar jawatan sendiri di Jakarta dengan radius pemancar efektif 10 km. isi siaran diambil dari pelajaran SMA dan bahan-bahan actual dalam masyarakat. Pada mulanya siaran ini mendapat respon bagus dari masyarakat. Namun, hanya dapat bertahan 2 tahun.
Kesulitan-kesulitan yang dihadapi diantaranya: 
1. Kurang baiknya perencanaan karena hanya dibuat rencana jangka pendek dan tidak melibatkan semua pihak.
2. Kurang berjalannya koordinasi yang ada dengan jawatan-jawatan lain. 
3. Kurangnya tenaga terlatih baik pada produksi maupun penggunaan.
4. Kurangnya bahan penyerta siaran sehingga radio lebih banyak berdiri sendiri.
5. Kurangnya dana untuk pembinaan. 
       B. Radio Sutatenza di Columbia
            Usaha ini dimulai pada tahun 1947 dan mulai secara terbatas oleh dana dan keperluan suatu misi keagamaan. Program ini ditujukan untuk para petani-petani di desa. Melalui Radiophonic Schools of Sutatenza ini disiarkan pelajaran-pelajaran dalam: 
1. Dasar-dasar kesehatan
2. Kemampuan baca tulis
3. Berhitung 
4. Perhatian dan keagamaan.
            Dalam pelajaran baca tulis, radio terutama berfungsi untuk menimbulkan motivasi untuk belajar baik sendiri maupun berkelompok. Dengan keberhasilan ini maka sasaran dan program diperluas dan timbullah masalah dan kenyataan baru, antara lain:
  1. Kedudukan petani yang terpencar dan perbedaan latar belakang kebudayaan mereka menyebabkan berbedanya tingkat penerimaan dan reaksi mereka. 
  2. Diperlukan radio lebih banyak lagi untuk kelompok kecil. 
  3. Bahan pelajaran yang kurang sesuai dengan tingkat pengetahuan dan kecerdasan pendengar.
  4. Kurangnya pemimpin awam 
  5. Kurang khusus dan jelasnya kebutuhan yang ada pada masyarakat pendengar 
  6. Kurang sesuainya metode pengajaran. 
Pelajaran Yang dapat ditarik:
  • pendidikan melalui radio harus merupakan kebulatan sistem penyajian (total delivery system). beberapa komponen penting dalam sistem penyampaian ini adalah: 
  1. kurikulum (segala kegiatan yang diberikan kepada anak didik)
  2. acara dan metode siaran yang diatur
  3. tempat kegiatan belajar yang dilengkapi dan diawasi oleh seorang Pembina Pendidikan.
  4. monitoring kegiatan dan kemajuan anak.
  5. evaluasi kemajuan
  • isi pendidikan non-formal merupakan response dari kebutuhan khusus dan umumnya jangka pendek, jadi meihat kebutuhan dan mnyesuaikan dengan target, tujuan dan kurikulum.
 dari uraian diatas maka untuk menemukan apa yang dapat dilakukan  melalui radio dalam pendidikan non-formal, kita perlu memutuskan:\
  1. komponen apa yang diperlukan adanya
  2. tujuan khusus yang akan dicapai 
  3. cara pembawaan isi (treatmen of program content) bagaimana yang akan dilakukan.
makin sederhana putusan dan pilihan kita, makin sederhana kegiatan yang dilakukan dan makin sederhana pula (kurang efektif) hasil yang kita capai. sekali lagi mengambil keputusan kita harus terikat (commited) sampai diperoleh umpan balik (feedback) dan pelajaran dari pengalaman
     

    Lima Belas Menit Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review