13 Februari 2014

Lamaran sering ditolak ortu, Mengapa?

di 11.09 0 komentar
google.com
Hew-hew..tema yang seksi untuk diuraikan, paling tidak sedikit pengalaman saya orang-orang dekat yang kebetulan saya tau ceritanya.
Lebih spesifik pasti sudah ditebak lelaki yang melamar perempuan (ada juga kasus perempuan melamar lelaki). Dibanyak referensi sudah banyak dibahas, tulisan ini sekedar melengkapi mengapa sih masih ada juga lelaki yang ditolak camer untuk menikah, padahal bukan mengajak pacaran anaknya lo ya, catet.
Mengingat surat An-Nur
“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih sendiri (belum menikah) di antara kalian, demikian pula orang-orang yang shalih dari kalangan budak laki-laki dan budak perempuan kalian. Bila mereka dalam keadaan fakir maka Allah akan mencukupkan mereka dengan keutamaan dari-Nya.” (An-Nur: 32)
Dari beberapa cerita teman ternyata ada beberapa hal yang menjadikan lamaran ditolak:
  • Datang tanpa wali/orang tua
Ada orang tua yang menilai apabila datang tidak membawa wali berarti anak ini coba-coba/belum serius. Tetapi adapula yang justru bangga dengan keberanian si laki-laki. Perlu mengenali calon mertua lebih dalam, bisa dengan tanya orang sekitar atau calon istri sebelum meminang
  • Bahasa kurang tertata
Sudah datang sendiri, tak bisa ngomong lancar pula, dipastikan orang tua bakal bingung dan kesan pertama kurang menggoda :D, sebaiknya memang dipersiapkan dengan baik. Jika akan datang sendiri persiapkan dengan baik apa saja yang akan dibahas, apa yang akan ditanyakan dan bagaimana tekhnik menjawabnya. Perlu banyak bertanya pada orang yang sudah menikah untuk menambah pengalaman. Memang kesannya berlebihan seperti mau interview kerja saja, namun dengan bahasa yang lugas, tegas orang tua yang notabene tidak mengenal kita akan muncul keyakinan juga dan mantap meneruskan pembicaraan. Kalau anda termasuk orang yang pendiam sebaiknya memang mengajak wali/ teman untuk menyampaikan maksud tujuan agar tidak dikira mempermainkan orang tua. Sekali lagi penting juga mengetahui latar belakang orang tua (pendidikan, pekerjaan) sesuaikan tingkat bicara, jangan terlalu bicara sok intelek padahal camer tidak paham. Kenali dulu camer dengan baik.
  • Gaya bak presenter bola
Pernah lo, datang-datang tanpa ba-bi-bu langsung melamar, menjelaskan kerjanya, punya rumah di daerah A, punya motor beli sendiri, saat ini gajinya berapa, dan pengen nikah kapan. Otomatis camer akan melongo dan membuka pintu lebar-lebar untuk segera beranjak
  • Tau jam kunjung (bertamu)
Dikatakan oleh shahabat Anas :

كَانَ رَسُولُ اللهِ لاَ يَطْرُقُ أَهْلَهُ لَيْلاً وَكَانَ يَأْتِيْهِمْ غُدْوَةً أَوْ عَشِيَّةً
“Rasulullah tidak pernah mengetuk pintu pada keluarganya pada waktu malam. Beliau biasanya datang kepada mereka pada waktu pagi atau sore.” (Muttafaqun ‘Alaihi)
       
Intinya jika serius ingin melamar segera bulatkan tekad untuk sungguh-sungguh melewati semua tantangan dan rintangan yang ada. 
singkatnya sih jika sudah serius
  • Istikhoroh 
Bicarakan dengan orang tua (camer) kehendak yang diinginkan, jalani semua sebisanya semisal ortu mempersyaratkan harus mapan, ilmu agama harus mumpuni dan sebagainya. Jikapun kita merasa berat, kembalikan semua pada Allah. Kalaupun merasa kita tidak mampu lagi menjalani segala persyaratan karena bumi Allah sangat luas, Yakinlah janji Allah bahwa semua sudah ada jodohnya. Jikapun tidak berjodoh di dunia, maka bidadari surga sudah menanti di surga-Nya.
Pernah ya kita mendengar kisah heroik seorang lelaki yang berjuang sangat keras untuk dapat memiliki wanita yang dia idam-idamkan. Tidak ada salahnya selagi tetap pada koridor yang Islam ajarkan, tidak menyulitkan dan jangan sampai menyusahkan.
  • Persiapkan semua sebaik mungkin
Sebagai laki-laki yang mengaku sudah siap menikah haruslah mempunyai perencanaan yang baik, baik dari segi fisik maupun materi. Bukan masalah sebera banyak gaji atau apa saja yang sudah kita siapkan namun seberapa siap kita menjelaskan pada orang tua.
Berbahagialah dengan kondisi anda saat ini, jangan risau, galau apalagi sampai mau bunuh diri. Hidup lebih indah bukan harus menikah dengan si A tapi berbuat yang terbaik untuk saat ini dan selamanya. Dan tidak ada syarat masuk surga harus menika. 

10 Februari 2014

FOKUS, No Wang Sinawang ^^

di 09.34 0 komentar
Belum satu teori pun yang saya temukan mengenai kapan batas 'labil' seseorang bisa hilang. Labil disini saya maksudkan untuk memiliki kemapanan sikap, berfikir dan lebih mantapnya adalah punya prinsip.
Saya pribadi merupakan orang yang tidak cukup baik dalam memegang prinsip, baik dalam cita-cita, hubungan sosial maupun kemapanan berfikir. 
Diusia 'matang' ini pun saya merasa belum bisa menghalau fikiran itu. Sederhananya begini: 'Saat ini saya sedang s2 lalu ada teman yang sukses dibisnisnya, adapula yang sukses dengan bimbel atau usaha kecil-kecilan miliknya, ada juga teman yang menceritakan dunia kerjanya yang dilingkupi orang-orang hebat, dimana mereka sama sekali bukan golongan akademisi namun bisa sukses.
Hal-hal ini lalu 'menggoncang' fikiran saya, akan apa yang sudah dan akan saya lalui kedepannya.
'Galau' tapi saya kurang suka dengan istilah ini. 'Wang sinawang' istilah yang sedang saya dalami dan unik saja, sederhana dan tetap merunduk rasanya.
Pasti tidak hanya saya yang mengalami hal ini karena siapapun kita mempunyai naluri untuk menjadi baik bahkan terbaik dari yang baik. Namun yang suka kita lupakan adalah kita lupa start and finish kita, yups kita tidak fokus.
Sedikit cerita di asrama dulu (karena saya 'mantan' santri jadi boleh lah cerita ulang-ulang tentang kisah hidup saya), masa-masa MTs-MA yang merupakan usia-usia mencari jati diri adalah dorongan terbesar untuk menjadi lebih dari orang-orang sekitar. Saat itu yang sedang booming adalah guru bahasa inggris karena cara mengajar beliau yang very interesting bagi kami yang sangat-sangat asing dengan bahasa inggris.
Beliau mengajarkan bahasa Inggris dengan hal-hal yang 'aneh' out of box untuk saat itu. Bagaimana tidak untuk merangsang keaktifan kami beliau membuat beberapa strategi seperti nonton film bersama, sering menginap dikamar kami lalu menceritakan dunia perkuliahannya atau aktifitas-aktifitas menyenangkan (menurut kami) yang ia alami di luar sana. Decak kagum itu wajar mengingat kami tak tahu apa yang ada diluar sana, point-nya adalah beliau sukses besar menjadi guru yang menyenangkan.
Imbas dari kekaguman itu berlanjut hingga beberapa dari kamipun sangat menggandrungi bahasa Inggris (terlihat positif bukan) ya walaupun melenceng dari tujuan utama sih karena yang kami gandrungi itu adalah film koreanya, hehee... tapi positif lo, saat itu prounonceation kami lumayan baik.
Suatu kali Ibu pengasuh tercinta saya ingat betul beliau mengatakan "Otak kita ini hanya bisa mengerjakan 1 hal saja (kudu FOKUS), jadi pilihan bagi kalian apakah ingin menjadi 'ahlul injliziyah' atau 'ahlul Qur'an'. Kalau hafal Qur'an dunia-akhirat saya jamin kalian selamat, kalau bisa bahasa Inggris apa semua santri-santri Ibu mau ke LN, mau jd TKW. (Saat itu belum bisa n berani jawab apa-apa hanya menunduk khusyuk)
Makjleb juga tuh saya dengernya, nyaris mulai hari itu porsi kegandrungan saya akan miss English yang menggoda saya kurangi. dan efek 'terjebak' harus menyelesaikan hafalan (saa itu). Tapi saya menghargai betul Pengasuh Pondok, walaupun background beliau bukan psikologi tapi nasehatnya hingga saat ini masih nempel. Saya yakin ini fadhilah Qur'an, seperti doa Nabi Musa di surat Maryam
Nah, kini setelah tak ada lagi Ibu Pengasuh jadi 'ngambang' lagi. Sedari awal sudah merancang cita mau ini dan itu, namun ketika mendengar orang lain sukses dengan cara 'A-B-C-D'nya saya jadi gamang lagi.
Hehe... katanya sih wajar 
Wang sinawang..
Beberapa hal yang menjadikan saya seperti ini sejak mengenal FB (bukan menyalahkan FB lho), yah tapi karena fasilitas upadate status dan bertambahnya teman-teman menjadikan FOKUS saya kabur, seakan Kompas yang saya pegang mulai kehilangan medan magnet kemana menuju. dan ini yang ingin saya obati. Nasihat Ustadzah saya diatas bahwa kita hanya bisa menekuni satu hal, Jika Qur'an yang FOKUS qur'an dulu, kalau Inggris ya Inggris dulu, Kalau nulis ya nulis dulu rupanya ada dalam Al Qur'an “Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain”. (QS. Al Insyirah: 7).
Mengapa? karena kita butuh FOKUS, tekun untuk menjalankan satu persatu. Baru saya fahami bagaimana ketika dulu kami diwajibkan hafal Qur'an sekaligus faham bhs Inggris, Arab, pinter menjahit, menyulam,  memasak, dan kreatifitas lainnya pasti hasilnya juga setengah-setengah.

So, untuk kembali mengaktifkan Fokus dalam fikiran ada beberapa tips! 
  • Rancang ulang rencana (cita-cita), pisahkan mana yang urgent dan mana yang kurang 
  • Bagian yang urgent segera dipecah mana yang paling prioritas dan mendesak dan mana yang tidak
  • Yang paling mendesak langsung di desain bagaimana cara kerjanya, misal ya: Saya ingin menulis buku dari skripsi S1 kemarin, lalu mulai menentukan langkah bagaimana mencari bahan tambahan, kemana? apa perlu surat izin atau tidak, temui kembali subjek yang diteliti, tambahkan hal yang perlu,  lalu susun sebaik-baiknya setelah jadi temui dosen psikologi bu A atau siapapun yag berkaitan. setelah mendapat saran coba ajukan kepenerbit.
  • Setelah proyek pertama cukup mendapat titik terang dan bisa dikatakan 90% beres lalu berlanjut pada rencana selanjutnya dan terus begitu. Intinya jangan ditinggalkan yang lebih urgent
  • Sekali lagi pakai "KACA MATA KUDA" jangan banyak melihat orang disekitar, FOKUS-FOKUS-FOKUS,
  • Perbanyak doa, dan jadikan list no. 1 adalah menghafal Qur'an. Jangan tanya apa manfaatnya bagiku? kerjakan saja dan tunggu keajabiannya.
Jangan habiskan waktumu untuk membuka-buka, membaca-baca status orang yang tidak penting, apalagi menambah pikiran negatif. Ingat, waktu yang Allah kasih untuk orang kafir dan orang muslim sama, kita yang mengolahnya. 
Jangan cemburu dengan rezeki orang lain, karena setiap kita ada jalannya. Wang sinawang, kita lihat orang lain rezekinya berlimpah ruah tetapi kita jua tak pernah tahu berpa limpahan ujian yang ia terima.
Jadilah orang bersyukur agar selalu Allah berikan rasa cukup dalam hati sehingga rezeki terus ditambah (QS.Ibrahim; 7). karena sifat manusia tidak akan puas sehingga tanah yang menutupinya (dikubur) sudah dapat 1 gunung emas tetap saja kurang pengennya 2-3 lagi
Terakhir mari berdoa 
'ALLAHUMMA A'INNI ALA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI IBADATIK'
Ya Allah, bantulah aku untuk selalu berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dg baik padaMu

للَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الْقَبْرِ
Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari sifat kikir, aku berlindung pada-Mu  dari hati yang lemah, aku berlindung dari dikembalikan ke umur yang jelek, aku berlindung kepada-Mu dari musibah dunia dan aku berlindung pada-Mu dari siksa kubur.”


Semangat 2014

di 08.00 0 komentar
gambr dari google
Telat banget bilang selamat anda masih sempat menghirup atmosfer 2014, tapi tak apa toh kesyukuran dan amal yang utama dilakukan.
Lama juga tidak memposting sesuatu? Sibuk? gak juga sih, mungkin lebih pada males dan suka ikut2 "ngepoin" status orang.. Yups.. ini yang mau saya bunuh diam2, haha
2014 adalah tahun spesial mengapa? Haha.. ada mimpi besar saya yang ingin sekali diaminkan bersama
ah... aminkan saja dan kau tak perlu tahu
Menulis mimpi memang sesuatu yang terasa aneh mungkin bagi saya walaupun saya mengalami sendiri kekuatan mimpi. more than mimpi lo guys, tapi ditulis dan tempel ditembok yang sering kita lalui.
Hihii... saya pengen posting kapan-kapan ah
banyak banget cerita di Januari kemarin, mulai dari UAS semester 1 di Pasca UIN, lalu sempet gak sengaja ikut lomba hafalan anak2 (ada untuk dewasa juga koq) dan yah besok saya cerita lagi deh..n februari ini sudah masuk semester 2.
Mmm... ini dulu lah nanti posting dengan judul berbeda dan membedah cerita-cerita yang bisa jadi sejarah esok saya tua
Doa sama2 yuk
                     
Doa Mohon Ampunan Diri, Keluarga, Dan Orang-Orang Mukmin
“Rabbighfirlii wa li waalidayya wa li man dakhala baitiya mu’minan wa lil-mu’miniina wa laa tazidi al-zhaalimiina illaa tabaaraan”

“Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku, siapa pun yang memasuki rumahku dengan beriman, dan semua orang beriman, laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kehancuran. (QS Nuh [71]:28)”

27 Desember 2013

LAHIRKAN INDONESIA BARU LEWAT GURU HEBAT

di 09.12 0 komentar
Memperingati hari guru 25 November, sejak mari kita ingat sosok guru-guru yang mengajar kita baik sekolah formal maupun non formal. Pendidikan menjadi sorotan sebagai tolak ukur maju tidaknya suatu peradaban, ketika suatu keadaan dirasa tidak lagi seperti lazimnya maka sosok dibalik pendidikan yang dicari, guru.
Diantara suksesnya proyek sertifikasi, masih ada saja insan-insan mulia yang belum merasakan bahkan mendapatkan gaji yang kecil. Memang mereka bukan PNS namun, bukankah kewajiban mencerdaskan bangsa dalam undang-undang pun tak dikatakan hanya kewajiban PNS kan?
Jadi Guru Sukses, Walau Gaji Minim.
Ibu Pamela, pemilik seluruh usaha pamela mulai dari usaha retail, SPBU, toko besi, salon dan sebagainya. Beliau bercerita bahwa salah satu yang menjadi syarat sebelum menikah dari suaminya adalah bu Pamela mau diajak bekerja, namun tetap mengurus keluarga dengan baik.  Juga Ustad Sunadi berkeinginan untuk berdakwah tetapi  tidak menuntut bayaran, jadi harus ada pemasukan untuk memenuhi  kebutuhan hidup sehari-hari. Kisah ini saya dengar dari beliau sendiri saat mengisi acara Relawan dan Wirausaha di UIN Sunan Kalijaga kemarin bersama pak Heri Zudiyanto yang juga pengusaha. Pembagian tugas ini rata, saya yang cari dunia dan pak Sunardi cari akhirat untuk kita nikmati bersama di dunia-akhirat.
Konsep nrimo ing pandum rupanya sudah boleh kita singkirkan. Bagaimana mau mengajar dengan baik bila gaji pas-pasan, tugas sekolah banyak sedang rumah tangga kacau karena penghasilan tak cukup. Para guru tak dilarang berwirausaha, yang penting tidak melalaikan tugas utamanya untuk mengajar. Mengapa? Bila menunggu pemerintah memberi santunan ya sampai kapan menunggu hal yang tak pasti. Kalau PNS mungkin tidak lagi masalah, namun guru di Indonesia lebih banyak yang swasta dari pada pegawai negeri. Maka guru harus mandiri tak boleh hanya mengeluh.
Jadilah pengusaha. Negeri ini kebanyakan politikus dari pada pengusaha. Indonesia mungkin belum ada setengah persen yang jadi pengusaha dibanding negara lain yang jauh diatas kita,”kata Pak Heri Zudiyanto saat menjadi pembicara.
Betul memang, suguhan televisi setap harinya menayangkan perkembangan kasus-kasus yang melingkupi elit politik, tidak salah bila kita pun berasumsi politikus di negara ini sungguh banyak dibanding pengusaha.
Mengapa tak coba mengusut sebab Indonesia rendah jumlah pengusaha? Ternyata lagi-lagi pendidikan jawabannya. Pendidikan kita kurang mendukung adanya dunia usaha. Sejak TK kita telah disuguhi berbagai pelajaran yang cukup memberatkan otak  anak. Sejatinya anak kecil dibebaskan fikirannya tetapi TK pun sudah dibebani PR dan les-les lain karena tuntutan jenjang berikutnya  yang mensyaratkan anak harus sudah bisa baca, menguasai menghitung, menulis dan sebagainya. Sebagai bandingan tengkolah Jepang yang begitu menghargai usia emas anak TK, dibiarkan sambil diarahkan bakatnya mau apa tanpa harus dipaksa bisa membaca dan berhitung.
Memang jika memimpikan pengusaha Indonesia bermunculan, semua aspek harus turut mendukung. Terutama pendidikan yang terasa sekali sejak anak usia sekolah
Modal jadi pengusaha
Hal menarik dari yang disampaikan Pak Heri, mantan walikota Yogyakarta ini. “Saya ingin bagaimana dengan produk batik saya orang tampak gagah dan cantik, juga dengan jilbab yang ditoko saya, wanita terbantukan untuk menutup auratnya. Modal utama saya jualan batik bukan uang, hanya kepercayaan. Selama setahun menjadi karyawan saya bertekad tidak ingin menjadi karyawan selamanya, karena ada jatah menjualkan batik dengan sistem bayar dibelakang saya pun selalu membayar tepat waktu hingga pemilik usaha menjadi yakin bahkan meminta agar saya bawa lebih” jelas beliau. Sederhana, banyak yang berkata usaha butuh modal besar, namun beliau membuktikan bahwa kepercayaan adalah modal utama yang selalu dipegangnya hingga kini dan juga niat untuk bermanfaat bagi sesama. Ketika ada yang bertanya bagaimana menghadapi pesaing, “jangan takut, yang abadi didunia ini adalah perubahan, jadi terus berinovasi, berproses dan belajar.
Kalau rumus dari bu Pamela hanya 3 N, Niroke, Niteni, Nambahi atau mirip rumus ATM = Amati, Tiru, Modifikasi. Intinya siap jatuh bangun dan belajar dari pengalaman.
Guru Usaha Apa?
Banyak lahan yang bisa dimasuki guru, utamanya bermula dari hobi. Mungkin ada yang suka masak, suka menjahit, merajut dan sebagainya bisa membuat sesuatu yang mungkin sekarang dianggap remeh tapi siaa sangka kelak menjadi besar.
Manfaat yang saya bayangkan ketika guru “sosok yang digugu lan di tiru” ini berwirausaha, maka anak didik pun akan termotivasi. Ini strategi menambah jumlah pengusaha Indonesia, untuk Indonesia lebih baik. Jadi tidak ada lagi minset cita-cita jadi pegawai, jadi dokter, jadi pilot tapi cita-cita plus, dokter plus pengusaha, guru plus pengusaha, atau pegawai plus pengusaha. Sosok penuh arti inilah yang jadi acuan murid, guru.




14 Desember 2013

Melihat Wartawan Dan Kebebasan Pers Indonesia

di 16.52 0 komentar
Judul                 : Wartawan Dan Kebebasan Pers Ditinjau Dari Berbagai Perspektif
Cetakan           : I, Oktober 2013
Penerbit           : UNY Press
Tebal               : 166 halaman
ISBN               : 978-602-7981-22-5
 Artis dengan modal ketampanan atau kecantikannya bisa menjadi terkenal diseluruh pelosok negeri tanpa ia pernah kunjungi satu persatu wilayah tersebut. Modal untuk menjadi terkenal terutama bagi orang biasa sebenarnya mudah yaitu lewat dunia literasi. Ya, menulis adalah jawaban untuk menjadi terkenal, tentu bukan sekedar terkenal tetapi berbagi manfaat hanya lewat lembaran kertas. Kebebasan pers sekarang ini tidak lagi dibatasi, dengan mengusung demokrasi, kebebasan mengeluakan pendapat maka semua orang berhak “bicara”, bahkan tulisan  tidak bisa dituntut ke pengadilan tapi dibalas pula dengan tulisan.
Saat ini siapapun boleh menulis, bukan hanya wartawan yang terikat dengan aturan media tempat ia bekerja. Adanya citizen journalism menjadikan siapapun boleh mengolah berita dan mempublikasikannya lewat media cetak maupun elektronik. Hanya saja setiap calon-calon wartawan ini perlu memahami seluk beluk tentang jurnalistik secara lengkap agar bisa menyajikan bertita yang berimbang.
Buku karya bapak Hamdan Daulay ini sangat tepat menjawab segala pertanyaan dan bisa menjadi panduan dalam memahami dunia literasi khususnya setiap kita yang ingin menjadi wartawan dan mengetahui segala hal yang berkaitan dengan jurnalistik. Kode etik jurnalistik sangat perlu dilihat dari kacamata Islam yang menjadikan nilai plus buku ini. Mengapa penting? Seorang jurnalis muslim harus memiliki kode etik tersendiri sesuai tuntunan ajaran Islam. Dengan demikian umat Islam yang sedang menghadapi cobaan berupa hinaan, cemoohan dan intimidasi dari kelompok-kelompok yang tidak menyukai Islam akan kembali bangkit  melalui media massa Islam (hal. 25).
Dari pernyataan diatas juga terlihat adanya koridor yang harus dipatuhi, tidak sekedar bebas tanpa batas. Hak dan kebebasan pers esensinya tidak absolut dan tidak terbatas. Deklarasi HAM tahun 1948 pasal 29 dan UUD pasal 28, intinya kebebasan berekspresi termasuk kebebasan pers mempunyai batas-batas tertentu untuk saling menghargai antar umat beragama, ras, suku, dan bangsa (hal.32).
Sebagai wartawan yang malang melintang di dunia kepenulisan, pak Hamdan memberikan tips dan trik bagaimana menulis di media massa yang beliau khususkan di Koran Kedaulatan Rakyat dimana sebagian tulisan-tulisan beliau sering terbit melalui media itu. Tentu penting untuk diketahui bagaimana karakteristik media yang kita ingin tuju, aspek apa saja yang perlu dperhatikan ketika menulis artikel atau opini, yang tidak jarang sebagai penulis pemula kita sering kecewa karena tulisan kita tidak jua terbit. Memang pemula dituntut untuk sabar dan sungguh-sungguh untuk menjadi penulis yang prodktif. Hal menarik lainnya adalah minimnya penulis wanita diharian ini (hal. 49), ini juga pemantik bagi kita semua agar lebih semangat menuangkan ide di media massa dari pada sekedar berceloteh sia-sia di media sosial (fb, twitter,dsb) selain berbagi manfaat juga honor yang diterima lumayan.
Menulis sebagai sarana dakwah dengan jangkauan tak berbatas  merupakan sarana edukasi yang efektif. Konflik kerukunan umat beragama yang sering memanas dapat dimediasi oleh media (hal.127). Pembaca media massa tidak hanya para orang tua atau orang-orang terdidik, saat ini diwarung-warung kopi, bengkel, warung bakso dan mi ayam pun tersaji koran sebagai teman duduk menunggu pesanan. Jadi jangan dianggap remeh, jika serius ingin memperbaiki bangsa jangan memikirkan hal-hal diluar jangkauan, mulailah dengan menulis siapapun kita dan dari latar belakang apapun. Siapa yang memegang media maka dunia ditangannya agaknya bisa terbukti jika kitapun memulai.


 

Lima Belas Menit Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review