“Lima belas menit. Aku terus tersenyum sembari menyusuri
lima belas menit. Menunggu di depan pembatas rel sambil memandangi lampu yang
berkedip2 lalu memberi senyuman pada petugas yang setia melambaikan tangan pada
masinis kereta, adalah hal yang menyenangkan sambil menikmati sapuan angin
kereta yang melambai sambil berpesan “sayang..kamu harus bahagia”. Perjalananku
berlanjut ditemani sepoi angin yang membelai syahdu menyusuri indahnya rimbunan
padi, terus tersenyum membawa anganku padamu. Ingin kuceritakan pada alam bahwa
aku bahagia hari ini, petak sawah membawa imajinasiku ingin berguling-guling
sambil meneriakkan “Aku bahagia”........... yah aku memang harus bahagia “
“Lima belas menit, serasa aku tak ingin ia berlalu. Yang membawa
anganku padamu, rinai hujan siang tadi mengatakan padaku bahwa “Aku harus
bahagia” rasakan hangatnya hujan ini, jangan keluarkan mantelmu karena hujan
bukan untuk dihindari. Ini rahmat-Nya untukmu siang ini yang memijat lembut
pundakmu saat kau lelah menempuh waktu lima belas menit.
“Lima belas menit, kian terasa cepat. Dikala itu pun aku
tersadar, bahwa tidak baik aku secepat ini. Lalu ku kurangi kecepatanku untuk
menempuh lima belas menit.
Aku takut terlalu cepat sampai, aku takut tidak siap dan terburu-buru. Entah mengapa, akhir-akhir ini aku semakin ingin memperlambat waktu lima belas menit, ada yang berubah padaku. Entah lah apa itu aku pun tak tau. Namun, hanya lima belas menit yang bisa menjawab semuanya. Tapi anehnya, kadang aku suka menambah kecepatan untuk menempuh lima belas menit.
Aku takut terlalu cepat sampai, aku takut tidak siap dan terburu-buru. Entah mengapa, akhir-akhir ini aku semakin ingin memperlambat waktu lima belas menit, ada yang berubah padaku. Entah lah apa itu aku pun tak tau. Namun, hanya lima belas menit yang bisa menjawab semuanya. Tapi anehnya, kadang aku suka menambah kecepatan untuk menempuh lima belas menit.
“Ingin ku jadikan Lima belas menit terindah dalam hidupku
bersama Revo yang setia menemaniku sebagai bukti tulusku padamu. Mungkin kau
berkata tak perlu bukti apalagi kwitansi, namun bagiku semua darimu menjadi
berarti. Kita harus adil, berbagi suka dan duka, berbagi cinta lewat lima belas
menit. Cinta yang menyegarkan dahaga, cinta yang membawa makna bahwa lima belas
menit bukan sekedar kata sederhana. Lima belas menit yang penuh makna bagi kau
dan aku.. #with love
0 komentar:
Posting Komentar