19 April 2011

Meneguhkan Identitas Budaya Nasional

di 21.15
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini

Meneguhkan Identitas Budaya Nasional
Oleh: Drs. Joko Widodo, M.Si.
(Pembantu Rektor III Universitas Muhammadiyah Malang)
Gonjang-ganjing  dan saling klaim budaya antara Indonesia dan Malaysia telah reda. Hal itu tidak berarti untuk seterusnya. Ledakan-ledakan kemarahan dan emosional masih berpotensi muncul setiap saat. Konsekuensi sebagai bangsa serumpun, bertetangga dekat  dan perbedaan-perbedaan yang mulai terlihat dan terasa. Khususnya, perbedaan yang berkaitan dengan kondisi sosial dan ekonomi dan pembangunan SDM.
       Indonesia adalah negara besar.  Negara dengan pulau terbanyak di dunia (17.504), lebih dari 740 suku bangsa, serta tidak kurang dari 583 bahasa daerah dengan 67 bahasa induk. Jumlah penduduk Indonesia menurut BPS pada tahun 2009 ini berjumlah 231 juta. Melihat data tersebut sebenarnya kurang beralasan kalau harus cemburu  dan bereaksi secara berlebihan terhadap klaim budaya negara lain. Lebih-lebih dengan kematangan, kedewasaan serta warisan tak ternilai yang telah diberikan pemuda Indonesia pada 1928 silam.
        Dengan ”Sumpah Pemuda”nya pada 81 (delapan puluh satu) tahun yang lalu, dengan segenap kepercayaan diri yang tebal, keberanian yang menyala-nyala di bawah tekanan penjajah, serta di balik kondisi heteroginitas suku, budaya, golongan, aspirasi politik, dan agama, mereka tanpa ragu-ragu menyuarakan satu tekad: bertanah air, berbangsa, dan berbahasa satu, bahasa Indonesia. Tanpa kesadaran yang kuat, kepercayaan diri, kebersamaan serta kerelaan menepiskan kepentingan pribadi dan golongan, maka peristiwa itu tidak akan pernah terwujud. Dan itu merupakan warisan budaya yang tidak ternilai harganya.
       Rasa cemburu yang muncul dalam berbagai bentuk seperti marah, mudah tersinggung, sampai dengan tindakan-tindakan reaktif lainnya, biasanya dapat diakibatkan oleh dua hal. Pertama adalah karena rasa cinta/ sayang yang berlebihan sehingga memunculkan takut kehilangan atau pun direbut orang lain. Rasa cinta itu merupakan modal positif asal disertai dengan usaha-usaha pemeliharaan dan pengembangan, sehingga secara kualitas akan semakin meningkat. Kedua adalah karena rasa ketidakpercayaan diri, keterbatasan, ketidakmajuan, serta berbagai kelemahan dan ketidakberdayaan dibanding dengan kompetitor. Cemburu dalam konteks budaya sebenarnya juga perlu asal dilatari rasa cinta, telah melakukan pemeliharaan terhadap warisan budaya (national heritage), penanaman nilai-nilai, serta berbagai kegiatan konstruktif lainnya. Ketidakpercayaan diri serta berbagai perasaan sejenis yang muncul karena melihat kelebihan-kelebihan kompetitor, tidak perlu memunculkan sikap yang sangat reaktif, apalagi anarkhis. Lebih-lebih apabila telah menyadari demkian banyak kebanggan nasional yang telah dimiliki bangsa Indonesia.


Budaya Nasional
       Salah satu kebanggaan nasional (national pride), adalah bahasa nasional, bahasa Indonesia sebagaimana telah dicetuskan dalam Sumpah Pemuda 81 tahun yang lalu. Kebudayaan Indonesia adalah seluruh kebudayaan lokal dari seluruh ragam suku-suku di Indonesia. UUD 1945 telah menjelaskan bahwa kebudayaan nasional adalah 1) buah usaha budi rakyat Indonesia, 2) kebudayaan lama dan asli di daerah, serta 3) kebudayaan yang bertumpu pada ciptaan-ciptaan baru. Merujuk kembali kebesaran Negara Indonesia sebagaimana di atas, sanggupkah menghitung, mengetahui dan sudah merasa memiliki berbagai budaya dari berbagai suku bangsa yang ada di Indonesia?
       Indonesia memiliki berbagai unsur kebudayaan yang unik dan khas yang bersumber dari heteroginitas bangsa. Tujuh unsur kebudayaan  sebagaimana dikemukakan Koentjaraningrat, adalah sistem religi dan upacara keagamaan, sistem organisasi kemasyarakatan, sistem Ilmu pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem sarana kehidupan, sistem teknologi.  Dengan demikian dapat dilihat, bahwa tari “Pendet”, “Reyog”, lagu “Rasa Sayange” adalah sebagian kecil  (kesenian) dari harta kebudayaan Indonesia, bak butir-butir pasir di laut budaya yang luas. Sudahkah sebagai anak bangsa telah melakukan upaya-upaya menghormati dan merasa memiliki kekayaan budaya daerah/ suku lain sebagai bagian dan keseluruhan budaya bangsa Indonesia? Melakukan pemeliharaan, pelestarian, dan pengembangan? Tetapi sebanyak apapun jika tidak ada kepedulian, kepemilikan, serta kebanggaan, juga akan hilang sebagaimana buih-buih dilautan.
Globalisasi dan Perawatan Budaya Nasional
       Era globalisasi yang ditandai oleh adanya saling kebergantungan (interdependence) antarnegara. Hal ini suatu hal yang tidak bisa dihindari, sebagai konsekuensi dari semakin longgarnya batas negara. Dunia menjadi tanpa batas (borderless), yang ditandai dengan tidak terhambatnya arus orang, barang dan jasa. Globalisasi juga ditandai dengan semakin bebasnya arus informasi dan komunikasi menembus batas-batas teritorial negara, membawa pengaruh dalam berbagai bidang. Komunikasi dan interaksi yang tidak dapat dibatasi oleh batas geografis dan teritorial, memungkinkan terjadinya interaksi dan keterpengaruhan.Termasuk di dalamnya adalah pola kepribadian, gaya hidup, dan kesenian. Semakin lemah suatu negara maka akan semakin besar dia terpengaruh dan bergantung. Sikap pragmatis, individualis, materialis dan hedonis merupakan hal-hal yang terbawa juga dan berpengaruh pada masyarakat.
        Saling pengaruh adalah proses yang wajar namun menjadi catatan tersendiri jika daya tahan rapuh. Internalisasi nilai-nilai yang terbentuk bertahun-tahun  yang membentuk budaya, akan tergerogoti oleh nilai-nilai luar karena tidak adanya komitmen kuat. Akhirnya, kebudayaan yang terbentuk melalui proses panjang, terus menerus dan dimulai dari kebiasaan-kebiasaan serta dari satuan-satuan kecil (individu, kelompok) sampai kepada satuan yang besar (suku, bangsa), akan hilang dan tergantikan oleh budaya luar secara pelan-pelan tapi pasti.
       Arus budaya global dengan segala plus dan minusnya, merupakan tantangan besar bagi penataan nilai-nilai budaya dan watak bangsa (nation and character building). Hal ini merupakan persoalan serius, jika tidak ingin kehilangan nilai-nilai dan budaya adi luhung yang sudah terbentuk berabad-abad. Peningkatan daya tahan dan komitmen harus dilakukan secara sistematis, terintegrasi dan holistik. Tidak hanya lewat jalur pendidikan, tetapi juga non pendidikan. Formal dan informal. Antardepartemen dan lintas departemen.
     Sudah saatnya antara Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbubpar) lebih meningkatkan kinerja dan kerja samanya dalam memelihara, merawat dan mengembangkan kebudayaan. Kebudayaan bukan semata-mata kesenian. Kesenian hanyalah sub sistem kebudayaan. Di dalamnya terdapat pengendapan tata nilai, penggalian, pelestarian dan pengembangan sehingga kebudayaan sebagai identitas nasional tetap eksis. Di situlah peran Depdiknas yang dahulu merupakan satu kesatuan dengan kebudayaan ketika masih bernama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Nasional (Departemen P dan K).
       Pendidikan tidak hanya dituntut untuk menghasilkan manusia-manusia cerdas dan siap berkompetisi secaram global. Melahirkan generasi yang berkepribadian kuat, kepemimpinan yang tangguh serta merawat, mengembangkan dan mengawal identitas budaya nasional juga merupakan suatu keharusan. Apalagi di tengah-tengah gencarnya serbuan dan arus bandang budaya asing yang belum tentu sesuai dengan karakter bangsa. Juga di saat kondisi bangsa yang sedang mengalami berbagai dekadensi akibat faktor internal maupun eksternal.
      Diperlukan strategi budaya untuk menangkal dan memfilter produk budaya asing yang tidak sesuai. Penanaman nilai-nilai keindonesiaan melalui jalur pendidikan serta pelibatan masyarakat secara luas adalah salah satu solusinya. Penanaman kebanggaan, inventarisasi, sosialisasi dan saling tukar apresiasi produk-produk budaya etnik yang beraneka ragam, sangat penting untuk menumbuhkan kepemilikan dan kebersamaan. Alangkah indahnya jika saudara-saudara  di Papua dapat menikmati pertunjukan Ketoprak, senang makan gudeg, menikmati ronda malam dan kerja bakti di Jogyakarta. Atau rekan-rekan Jawa yang menikmati dan fasih, ketika mendendangkan “Apuse”, “Butet”, gemar makan bubur Manado, serta menemukan keasyikan ketika ikut tradisi “bakar batu”. Diperlukan langkah-langkah nyata, terpadu, dan terus-menerus agar terbentuk mental, kepribadian dan kemauan kuat untuk merawat dan mengawal identitas budaya nasional. Tidak hanya oleh pemerintah, tetapi juga segenap anak bangsa. Dan dimulai dari diri sendiri, lingkungan terkecil, dan akhirnya keseluruhan.  (Ditulis pada jurnal Ilmiah Bestari edisiseptember-Desember 2009 No.42/Th.XXII).

QS. AL BAQOROH 267 TENTANG INFAK

di 21.09
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Infak merupakan bukti solidaritas muslim terhadap saudaranya yang lain. Dengan infak, kemslahatan hidup bermasyarakat menjadi damai, karena tidak ada jurang pemisah si kaya dan si miskin karena semua saling memperhatikan dan  saling membantu. Al qur’an dalam banyak ayatnya banyak membahas tentang infak.
Namun, dari itu semua, apa sebenarnya yang dimaksudkan al-Quran dengan kata infaq itu sendiri?
Menarik satu pengertian dari kata infaq tak semudah yang kita bayangkan. Pernah, para penafsir di era Sahabat memperdebatkan makna kata infaq dalam satu ayat wa mimmâ razaqnâhum yunfiqûn (dan dari rezeki yang Aku [Allah] berikan kepada mereka, mereka ber-infaq).
            Ibnu Abbâs mengatakan, yang dimaksud dengan infaq di situ adalah zakat, zakat wajib. Alasannya, kata yunfiqûn di situ “sepaket” dengan kata yuqîmûn al-shalâh, mendirikan salat. Salat adalah ibadah wajib, maka urut-urutannya kemudian, ya, zakat wajib, yang diungkapkan dengan kata infaq itu.
            Ibnu Mas’ûd tidak demikian. Infaq di situ adalah infaq seorang lelaki kepada keluarganya, nafkah keluarga. Islam merupakan agama yang rahmah, infak adalah kegiatan yang dilakukan dengan mengeluarkan harta secara sukarela, tidak ada batasan dan paksaan berapa nominal yang harus dikeluarkan. Jika semua orang Islam sadar akan hal ini pasti kehidupan kita akan semakin tenang karena terpenuhi kebutuhan-kebutuhan terutama orang yang kurang mampu.
B.     Rumusan Masalah.
1.      Apa itu infak?
2.      Bagaimana asbabunnuzul QS. Al- Baqoroh 267?
3.      manfaat (kemaslahatan) infak bagi sesama?
BAB II
PEMBAHASAN
A.    QS. Al Baqoroh 267
$ygƒr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä (#qà)ÏÿRr& `ÏB ÏM»t6ÍhŠsÛ $tB óOçFö;|¡Ÿ2 !$£JÏBur $oYô_t÷zr& Nä3s9 z`ÏiB ÇÚöF{$# ( Ÿwur (#qßJ£Jus? y]ŠÎ7yø9$# çm÷ZÏB tbqà)ÏÿYè? NçGó¡s9ur ÏmƒÉÏ{$t«Î/ HwÎ) br& (#qàÒÏJøóè? ÏmÏù 4 (#þqßJn=ôã$#ur ¨br& ©!$# ;ÓÍ_xî îŠÏJym ÇËÏÐÈ  
 “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, Padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”
- Penafsiran kata-kata sulit
®    Ath- thayyib: yang baik dan disenangi. Lawan katanya adalah dibenci
®    Wa la tayammamu: janganlah kalian bertujuan
®    Tughmidu: permudahlah dan bermaaflah kalian
®    Hamidun: yang berhak dipuji atas nikmat-nikmat-Nya yang agung.
B.      Asbâbun Nuzûl Surat al-Baqarah(2), ayat: 267
Imâm at-Tirmidzî meriwayatkan dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh Sunan at-Tirmidzînya (4/77):
“Telah bercerita kepada kami(at-Tirmidzî) ‘Abdullâh bin ‘Abdurrahmân, katanya (Abdullâh bin ‘Abdurrahmân): “ telah mengabarkan kepada kami(Abdullâh bin ‘Abdurrahmân) ‘Ubaidullâh bin Musa dari Israil dari as-Suddî dari Abi Malik(al-Ghifari/namanya: Ghazwan) dari al-Barra’ tentang ayat ini.
“Katanya(al-Barra’): “ayat ini turun tentang kami (kaum Anshar). Kami (kaum Anshar) adalah pemilik kebun kurma. Dan setiap orang membawa dari kurmanya sesuai kadar banyak dan sedikitnya. Ada yang membawa setandan atau dua tandan lalu menggantungkannya di Masjid. Sementara itu penghuni shuffah(pelataran Masjid/ta’mir Masjid) tidak memiliki makanan, lalu salah seorang dari mereka (Ta’mir Masjid) jika ada yang membawa setandan kurma dia(salah seorang dari Ta’mir Masjid) memukulnya dengan tongkatnya, maka berguguranlah busr(kurma yang belum matang) dan tamr(kurma matang) kemudian dia(salah seorang dari penghuni Ta’mir Masjid) memakannya. Ada juga mereka(kaum Anshar) yang termasuk dari kalangan orang-orang yang tidak menyukai kebaikan membawa setandan kurma jelek dan sangat buruk atau setandan kurma yang sudah rusak/patah, lalu menggantungnya. Maka Allah turunkan ini. 
“Kata beliau(al-Barra’) dalam at-Tuhfatu: “seandainya salah seorang dari kamu dihadiahkan sesuatu yang sama seperti yang dia berikan(orang yang memberikan kurma yang jelek) tentulah dia(salah seorang Ta’mir Masjid) tidak mau menerimanya kecuali dengan memicingkan mata atau malu. Katanya(orang yang memberikan kurma yang jelek): “kemudian sesudah itu salah seorang dari kami(yang membawa kurma yang jelek) mulai membawa yang baik yang ada padanya(yang ia miliki)”.[1]
C.     Makna Infaq
            Makna infaq itu sangat luas, Infaq tidak sekedar menyisihkan harta untuk penbangunan masjid, madrasah atau santunan fakir miskin. Ternyata apa yang diberikan seorang suami untuk istrinya itu bagian dari infaq yang akan memperoleh pahala sebagaimana sebuah hadits shohih :
Dari ibnu Mas
ud rodliyallohu anhu dari nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda : apabila seorang lelaki mengeluarkan infaq yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya atas dasar ihtisab (mengharap pahala) maka ia mendapatkan pahala shodaqoh [HR Bukhori Muslim]
seorang kafir yang mengeluarkan uang untuk memperjuangkan kekafirannya itu juga bagian dari infaq akan tetapi infaq yang akan mengantarkan pelakunya ke dalam siksa yang tidak akan berakhir

Sesungguhnya orang-orang yang kafir menginfakkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. mereka akan menginfakkan harta itu, kemudian menjadi penyesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan [al anfal : 36]
D.    Tafsir Surat al-Baqarah(2), ayat: 267
Pengertian secara Mujmal
            Di dalam ayat-ayat yang lalu Allah memberikan gambaran yang seharusnya bagi orang yang mengeluarkan infak harta ,yakni harus ikhlas karena Allah, berniat mensucikan diri dan menjauhkan perasaaan riya’. Setelah Allah menjelaskan sikap yang seharusnya dipakai oleh orang yang menginfakkan hartanya, yakni tidak menyebut-nyebut amalnya dan tidak menyakiti, maka gambaran Allah itu sangat jelas, yang didalamnya terkandung tuntunan yang berkait dengan  si pemberi infak dan cara-cara memeberikannya.
            Lalu Allah menjelaskan tentang jenis harta yang akan diinfakkan oleh yang bersangkutan. Yakni, harta tersebut dri jenis yang paling baik dan disenangi oleh pemberi,agar nasihat infak dijalan Allah ini menjadi bulat dan sempurna. 
$ygƒr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä (#qà)ÏÿRr& `ÏB ÏM»t6ÍhŠsÛ $tB óOçFö;|¡Ÿ2 !$£JÏBur $oYô_t÷zr& Nä3s9 z`ÏiB ÇÚöF{$#
Infakkanlah harta kalian yang paling baik, seperti emas dan perak, barang dagangan serta hasil bumi: bebijian, buah-buahan atau yang lainnya.                                                                                                            

Wala tatamannaawul khobitsa minhu
-          Janganlah kalian bermaksud mengkususkan barang yang jelek dan buruk untuk diinfakkan seperti dalam cerita asbabunnuzul ayat ini.
Segolongan salaf berpendapat bahwaayat ini berkenaan dengan zakat wajib, sementara yang lain berpendapat bahwa ini mencakup zakat wajib dan sedekah sunnah[2]
Wa lastum bi akhidzihi
Seseorang haruslah memilih yang baik-baik untuk diinfakkan. Dan tetntunya, semua orang tidak akan menerima yang baik kecuali orang yang tidak waras. Memberi hadiah yang jelek berarti tidak menghormati pihak yang diberi. Akan halnya orang yang mau menerimanya dengan mata terpejam, penerimaannya itu karena ia takut atau sangat membutuhka. Sedangkan Allah tidak membutuhkan infak kalian, dan bagi-Nya tidak perlu berbasa-basi.
Wa’lamu annallaha ghaniyun hamid
Sungguh Allah Maha Kaya, tidak membutuhkan infak. Allah memerintahkan kalian berbuat seperti itu hanya untuk kemaslahatan kalian sendiri. Janganlah kalian mendekatkan diri kepada Allah dengan barang-barang tertolak dan jelek. Allah Maha terpuji atas karunia-karuniaNya[3].
                                                                                                                                                      
                                                                                                                                                      

                                                              



[1] Riwayat Imâm  at-Tirmidzî  dalam al-Jâmi’ ash-Shahîh Sunan at-Tirmidzînya (4/77) Kata at-Tirmidzî: Hadis di atas berkualitas shahih hasan gharib. Ibnu Majah juga meriwayatkan dalam Sunan Abî Dâwudnya(1822). Ibnu Jarîr juga meriwayatkan dalam Jâmi’ul Bayâni Fit Ta’wîlil Qur’âninya(3/82). Ibnu Katsîr juga menisbakan dalam Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adzîmnya(1/320) kepada Ibnu Abî Hâtim dan al-Hâkim(2/285) dan kata beliau(Ibnu Katsîr): “shahih menurut syarat Muslim”, dan disetujui oleh adz-Dzahabî dalam Mîzan al-I’tidalnya.


[2] Tafsir Fathul Qodir, Imam Asy- syaukani (jakarta: pustaka Azzam 2009) hal 159
[3] Terjemah Tafsir Al-Maraghi, Syekh Ahmad Mustafa Al-Maraghi(Bandung, Toha Putra). Hal: 67-70

SAP METOPEN

di 21.03
Reaksi: 
0 komentar Link ke posting ini


SATUAN ACARA PERKULIAHAN


Ranah Integrasi-Interkoneksi:

A.   Filosofis : Pada level filosofis dasar integrasi-interkoneksi diterapkan dalam menjelaskan konsep, landasan berpikir, pengembangan teori dan analisis dalam sebuah penelitian kependidikan Islam.
B.    Materi : Pada level materi dasar integrasi-interkoneksi diterapkan dalam mendeskripsikan dan menjelaskan subyek dan obyek penelitian, serta pengumpulan data penelitian.
C.   Strategi : Pada level strategi dasar integrasi interkoneksi diterapkan dalam menjelaskan proses pengumpulan data penelitian. Dalam menyampaikan materi kuliah metodologi penelitian pendidikan, proses integrasi-interkoneksi dilakukan melalui pengembangan materi, diskusi, stimulus contoh hasil penelitian, tugas mandiri dan presentasi.

Mata Kuliah Pendukung Integrasi-Interkoneksi: yaitu semua mata kuliah yang diprogramkan oleh program stu-
            di, kecuali mata kuliah Bahasa Arab, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia.

Deskripsi Matakuliah: Metodologi penelitian Pendidikan merupakan matakuliah yang diberikan kepada mahasiswa agar memiliki memampuan dan ketrampilan melakukan penelitian, baik penelitian lapangan maupun kepustakaan; meliputi: pendekatan etnografi, hermenetika, semiotic, penelitian sejarah, studi kasus, penelitian analisis kuantitatif, penelitian eksperimen, dan penelitian tindakan kelas (PTK).


Standar Kompetensi :
            Mahasiswa memiliki pengetahuan dan ketrampilan melaksanakan penelitian dalam bidang kependidikan,    khususnya pendidikan agama Islam, melalui penelitian kepustakaan, penelitian lapangan,  penelitian eksperimen, dan penelitian tindakan kelas (PTK) .


PERTEMUAN
Ke-
KOMPETENSI
DASAR

INDIKATOR
POKOK BAHASAN/
MATERI
AKTIFITAS
PERKULIAHAN

EVALUASI
SUMBER BELA-
JAR/RUJUKAN
1
2
3
4
5
6
7

1 – 8
(800 MENIT)

a. Memahami ruang lingkup, sifat dan jenis penelitian bidang kependidikan

a. Menjelaskan pengertian ruang lingkup, sifat dan jenis penelitian bidang kependidikan

b. Merumuskan penelitian kependidikan Islam






c. Mengidentifikasi penelitian kependidikan Islam

a. Pengertian dan ruang    lingkup penelitian pendidikan
b. Sifat dan jenis penelitian pendidikan.

a. Bidang dan daerah     penelitian   kependidikan Islam
b. Ruang liingkup, sifat  dan jenis penelitian kependidikan Islam.



a. Persoalan-persoalan penting dalam penelitian kependidikan Islam
b. Penelitian kualitatif
c. Penelitian Kuantitatif
d. Pen. Tindakan Kelas
e. Tahapan-tahapan penelitian

- Ceramah, diskusi
  Kerja kelompok    dalam kolabora-
   tif learning.


- Ceramah, diskusi,
   Kerja kelom[ok dalam kolaboratif learning.
-  Kerja mandiri  dalam independent learning.

- Ceramah, diskusi, kerja kelompok dalam skill development
- Ceramah, diskusi, kerja kelompok dalam skill development

- Sikap, tampilan, tugas.

- Sikap, tampilan,
   Tugas.

- Tugas mandiri


- Tugas Mandiri





- Evaluasi formatif dan tugas kelompok

- Evaluasi Formqatif dan tugas kelompok
- Tugas mandiri

Buku wajib 1
Buku wajib 3
Buku anjuran 3
Buku anjuran 2


Buku wajib 2
Buku wajib 3
Buku wajib 6
Buku anjuran 2





Buku wajib 2 Buku wajib 3
Buku wajib 5
Buku anjuran 2
Buku anjuran 4

9 – 12
(400 menit)

b. Mendeskripsikan urgensi dan fungsi metodologi penelitian dalam bidang penelitian kependidikan Islam.

a. Menjelaskan dan menemukan masalah
     penelitian kependidikan Islam : kualitatif, kuantitatif, dan PTK

b. Merumuskan latar    belakang masalah, identifikasi dan rumusan masalah, serta tujuan penelitian

a. Memilih masalah penelitian
b. Studi pendahuluan: urgensi dan kepentingan
c. Identifikasi masalah
d. Rumusan masalah
e. Tujuan penelitian
f. Tinjauan penelitian
g. Landasan teoritik

- Ceramah, diskusi,kerja kelompok dan skill development
- Idem

- Ceramah, diskusi, kerja kelompok dalam skill development
- Idem

- Diskusi kelompok dan tugas membuat kertas kerja
- Idem

- Diskusi kelompok, tugas membuat kertas kerja
- Idem

Buku wajib 1


Buku wajib 2    

Buku wajib 3

Buku wajib 5
Buku wajib 6 Buku wajib 8
Buku anjuran 2


13 – 18
(600 menit)
c. Mendeskripsi-
    kan penelitian
    kependidikan
    Islam, melalui
    penelitian ke-
    pustakaan, pe-
    nelitian lapang-
     an dan peneliti
     an eksperimen
     (laboratorium)
a. Menjelaskan dan merumuskan penelitian kepustakaan, penelitian lapangan (kualitatif dan kuantitatif) dan penelitian tindakan kelas (PTK)

b. Merumuskan dan menggunakan pendekatan,  teknik dan instrumen pengumpulan data dalam penelitian kependidikan Islam
a. Landasan teori dan anggapan dasar
b. Tinjauan pustaka
c. Pemilihan pendekatan penelitian
d. menentukan jenis penelitian


a. Hipotesis, variable, sumber data, populasi, sample dan teknik sampling
b. Penyusunan instrument penelitian, dan validitas-reliabilitas
c. Pengumpulan data kualitatif dan data kuantitatif
d. Penelitian studi kasus, etnografi, tafsir budaya (hermeneutic), semiotic, penelitian sejarah, penelitian kuantitatif, penelitian eksperimen, dan Penelitian Tindakan Kelas.
- Ceramah, diskusi, kerja kelompok dalam collaborative learning
- Idem
- Idem
- Idem

- Demontrasi, stimulating discussion, dan skill development
- Idem

- Idem



- Idem

- Performent dan tugas membuat kertas kerja dan tugas mandiri
- Idem

- Idem
- Idem

- Tugas kelompok dalam kelas, performent, tugas mandiri
- Idem

- Idem


- Idem
Buku wajib 1
Buku wajib 2
Buku wajib 3
Buku wajib 4
Buku wajib 5
Buku wajib 8
Buku anjuran 2


Buku wajib 1
Buku wajib 2
Buku wajib 3
Buku wajib 4
Buku wajib 5
Buku wajib 6
Buku wajib 7


Buku wajib 9
Buku wajib 10 Buku wajib 11
Buku anjuran 2
Buku anjuran 3

19-24
(600 menit)

d. Memahami data penelitian kuantitatif dan kualitatif, dan memahami analisis data dalam penelitian kependidikan Islam

a. Mengidentifikasi dan menafsirkan data penelitian

b. Mengolah data hasil penelitian hasil



c. Melakukan analisis data hasil penelitian


d. Membuat desain rencana penelitian dan laporan hasil penelitian

a. Koding, editing, dan tabulasi data


b. Pengolahan data kuantitatif
c. Pengolahan data kualitatif

d. Teknis analisis kuantitatif/statistic
e. Teknik analisis kualitatif
a. Membuat proposal penelitian
b. Membuat laporan hasil penelitian


- Demontrasi, stimulating discussion, skill development, dan performent
- Idem

- Idem


- Idem

- Idem
- Idem

- Idem

- Tugas
   kelompok dan
   tugas mandiri


- Idem

- Idem


- Idem

- Idem

- Idem

- Idem

Buku wajib 1
Buku wajib 2
Buku wajib 3
Buku wajib 4
Buku wajib 5
Buku wajib 6
Buku wajib 7
Buku wajib 8
Buku wajib 9
Buku wajib 10
Buku wajib 11

Buku anjuran 3
Buku anjuran 4
 

  Komposisi Penilaian:
Aspek Penilaian
Prosentase
Kehadiran dan tampilan
20 %
Tugas kelompok dan mandiri
15 %
Ujian Tengah Semester (Mid)
25 %
Ujian Akhir Semester (UAS)
40 %
Jumlah Penilaian
100 %
   
    Daftar Referensi wajib:

1.       Arif Furchan, Pengantar penelitian Dalam Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya, 1982
2.       Dedy Mulyana, Metodologi Penelitian Kualitatif,Penerbit Rosda, Bandung, 2001
3.       Fred N., Kerlinger, Asas-Asas Penelitian Behavioral, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 1995
4.       James P., Spradly, Metode Etnografi, Tiara Wacana, Yogyakarta, 1977
5.       Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Remaja Rosda Karya, Bandung, 1994
6.       Masri Singarimbun dan Sofyan Effendi, Metode Penelitian Survey, LP3ES, Jakarta, 1989
7.       Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif- Kualitatif dan R& D, Alfabeta, Bandung, 2007
8.       Sukardi, Metode Penelitian Pendidikan dan Penelitian Tindakan Kelas, Bumi Aksara, Jakarta, 2003
9.       Suharsimi Arikunto, Penelitian Tindakan Kelas, Yogyakatra, 2007
10.   Vokel, E.L., Educational Research, MacMillan Publishing Co., Inc., New York, 1983
11.   Guilford, J.P., Benjamin Fruchter, Fundamental Statistics in Psychology and Education, McGraw Hill, Inc., Singapore, 1984

Daftar Referensi Anjuran:

1.       James P., Spradly, Metode Etnografi, Tiara Wacana, Yogyakarta, 1997
2.       Koentjaraningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, Gramedia, Jakarta, 1983
3.       M. Amin Abdullah, dkk., Rekonstruksi Metodologi Ilmu-Ilmu Keislaman, Suka Press, Yogyakarta, 2003
4.       Miles, Matthew B., A. Michael Huberman, Analisis Data Kualitatif, UI Press, Jakarta, 1992
5.       Palmer, Richard E., Hermeneutika, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2005
6.       Vredenbregt, I., Metode dan Teknik Penelitian Masyarakat, P.T. Gramedia, Jakarta, 1980
7.       Rochiati Wiriaatmadja, Metode Penelitian Tindakan Kelas, Remaja Rosdakarya, Jakarta, 2008.

              
Disusun Oleh:
Diperiksa Oleh :

Disahkan Oleh:

Dosen Pengampu




Suyadi, M.A..


Penanggungjawab Keilmuan




Drs. Moch. Fuad

Ketua Jur./Program Studi




Muqowim, M.Ag.

Dekan




Dr. H. Hamruni, M.Si






Ada kesalahan di dalam gadget ini
 

Lima Belas Menit Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review