22 Juni 2015

Telat nikah Vs S3

di 00.00 0 komentar
Alhamdulillah kini sudah lulus tingkat magister Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga. Mendengar gelar yang disandang pastinya berat plus tanggung jawab secara keilmuan juga gak remeh temeh.  

Menghadiri pernikahan teman beberapa kakak kelas yang datang sambil menggandeng anaknya selalu berbisik, "Makanya sekolah jangan tinggi-tinggi, tar pada takut loh mau ngelamar". Trus hari H acara ketemu guruku dulu pun begitu, "Wes to, jangan lanjut S3 dulu pikirin nikah dulu". Kemarin pas main juga sapaannya gitu, "Kamu sih sekolah terus, laki-laki takut lah ngelamarnya". Masih banyak lagi sapaan teman-teman tiap kali ketemu.

Saat pelepasan wisuda, ada seorang dosen yang berkata, "Saya merasa tidak mendapat apa-apa di kampus, ketika S1 masih gamblang mau apa lalu saya lanjutkan S2, setelah S2 pun bingung mau ke luar negri nilai TOEFL ngepres plus saingan yang tak terkalahkan. Akhirnya karena bingung dan merasa belum paham apa yang saya dalami di S2 saya lanjutkan S3. 

Pesan ini sangat berkesan pada saya pribadi, tapi betul loh begitu lulus seakan 'bingung' ilmu. Banyak sekali yang disampaikan tapi seakan kita tak tahu apa-apa, dan semakin bingung maka harus mengejar tingkat diatasnya.

Sapaan teman-teman sejenak bikin emosi naik juga tapi apa gunanya, lalu coba saya alihkan jadi motivasi untuk melanjutkan S3 walaupun masih terseok-seok banget. Memang sesuatu yang besar tak bisa diraih dengan instan. Bulan juni tgl 24 ini penutupan pendaftaran, tapi saya proposal, rekomendasi pun belum ada. Memang pengen menunda sebentar sambil menyiapkan beberapa hal.

Mendengar S3 saya juga merinding, terlalu jauh dan sangat tinggi sedang kapasitas saya apalah. Mereka yang S3 biasanya yang punya jam terbang tinggi, jurnal dan paper bertebaran hingga internasional dan pajangan buku di toko-toko. Paradigma itu sih dulu, sekarang banyak loh yang muda-muda freshgraduete udah ambil kuliah S3. Tapi prinsip, 
"Jika ada manusia yang bisa berarti kita pun bisa".
Entah pendidikan tersebut untuk bekerja atau sebagai Full time mother di rumah, namanya menuntut ilmu itu wajib. Ilmu akademik menurut saya menjadi wajib ketika seseorang mampu meraihnya, mampu dalam artian a) biaya b) mampu berfikir. Disayangkan sekali jika hidup yang sekali ini tak sempat mencicipi ilmu tingkat akhir tersebut. Sekali lagi pliiis deh jangan kait-kaitkan jodoh dengan mencari ilmu, ga ada relevansi sama sekali. Mo di kompromikan juga dua teks itu ga ketemu. Jodoh= nikah, lahir, meninggal, rezeki semua takdir Allah yang tentukan. Menuntut ilmu adalah kewajiban tiap orang (fardhu ain) yang tidak seorang pun punya hak melarang orang mencari ilmu.   
Allah Ta'ala berfirman :   يَرْفَعِ  اللَّهُ الَّذِينَ  آمَنُوا مِنْكُمْ  وَ  الَّذِينَ  أُوتُوا الْعِلْمَ  دَرَج"Alloh mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian serta orang-orang yang menuntut ilmu beberapa derajat (Al Mujadaah: 11)
Hati-hati lo, Allah perintahkan kita cari ilmu, mosok ada manusia yang berani melarang. Bahkan menjudge jodoh seseorang karena ilmu padahal itu perintah Allah dan jodoh itu takdir. Semoga jadi pencerahan dan semoga dimudahkan Allah SWT, mohon doa dari pembaca sekalian saya bisa lanjut S3 dan berguna bagi nusa, bangsa, agama dan segera menikah #eh. 
Abaikan tiap celaan, cibiran dan balik jadi pengungkit semangat.

20 Juni 2015

Kepsek Teladanku, (Taruna Al Qur'an Putri, Part III)

di 23.58 0 komentar
Lanjutan dari TA part II, kali ini tentang kepala sekolah saya yang super besar perjuangannya untuk memajukan sekolah. Pelajaran berharga ini sayang disimpan sendiri, siapa tau anak cucu baca buat panutan dan cermin.
Saya: “Ibu ni kemana-mana harus ngetrans atau dulu kol kuning, kok bisa bu dari di Bantul dulu hingga kini di Jogja terus saja berjuang”.Ibu Kepsek: “Urip ki dilakoni karo sinau, aku ki mbodo ngerti ra”. 
Translete: Hidup ini dijalani dan sambil belajar, aku berusaha tanya kalau tidak tau gak mengapa dianggap bodoh, wong memang gak tau.
Canggih pikirku, sebagai kepsek beliau tak pernah mengeluh capek walaupun berangkat pagi pulang petang bahkan magrib. Kalau mikir dunia apa coba untungnya, tapi beliau mengejar yang lebih mulia dari semua itu. Zaman saya kamar jadi all in one, buat istirahat, makan dan sekolah. Waktu sekolah kami harus angkat2 meja dan waktu tidur kami harus gotong meja keluar. Kini, gedung dua lantai jadi bukti perjuangan beliau. Kegesitan beliau memilah milih mencari celah bagaimana memanage keuangan yang tidak di support seperti sekolah Negeri, untuk membayar gaji guru, menggenapi fasilitas dan memanage pembelajaran senyaman mungkin tanpa mengeluh pada pemerintah. Saya yakin, bukan hanya karena beliau tapi kerja tim dan beliau leadernya.
gambar

Saya merasakan betul jadi seorang yang harus antar jemput karena Ibu saya di rumah juga harus dibonceng kemana-mana. Dengan jarak yang tidak dekat tapi semangat tak pernah luntur, kemanapun kami pergi beliau mengiringi. Tips dan sarannya selalu simpel, “Urip ki dilakoni”. Kemarin juga pas saya tanya, apa resep anak-anak sekarang lebih tinggi pencapaiannya dibanding saya dulu. Ibu Cuma bilang, “
Aku tu gak pernah suruh-suruh mereka belajar, ya tak bilangi kalau nilai rapot jelek kan siapa yang malu. Kalo bagus juga kan siapa yang bangga rapotnya di lihat orang. Just simple, mereka yang butuh ilmu, mereka harus berjuang sendiri. Aku (bu kepsek) taunya urus yang di luar itu ex: ke kemenang, dinas pendidikaan, pokoknya urusan diplomasi lah.
Prediksi saya, namanya juga anak hasil saringan dari yang yang terbaik (saat PPDB), konon kabarnya banyak yg rangking kelas pastilah secara IQ diatas rata-rata walaupun IQ bukan penentu sebenarnya tapi sumbangannya IQ pada orang sukses di dunia probabilitasnya hanya sekitar 6-20%. masih perlu di lengkapi oleh EQ, SQ, CQ, AQ dan klasifikasi kecerdasan lainnya . Tiap dipuji si Ibu selalu bilang: 
“Bukan aku yang hebat, aku ini gak bisa apa2, anak-anak itu yang berjuang sehingga sekolah dan nama pondok menjadi hebat”
Yah, pasti ada hero di setiap laga pastinya. Hahaha..

*Resep ibu mau saya pinjam buat mengarungi bahtera dunia yang makin berat ini. Tolong doakan guru saya ini ya Ibu Dra. Nasyiatul Baroroh, semoga beliau selalu dalam RahmatNya, sehat wal afiat dan umur panjang untuk menebar kebaikan sebanyak-banyaknya.


19 Juni 2015

Taruna AlQur'an Putri (Silaturahmi Part 2)

di 22.00 0 komentar
Lanjutan dari postingan sebelumnya, kunjungan saat itu ke Taruna membuat dada kembali berdesir. Terlebih ketemu Nofi, pathner saya yang suka menanggung malu akibat kebiasaan saya yang suka berhutang, just you and i understand it.
Duduk di pelataran kantor kami tertegun menyaksikan Taruna masa kini jauh dari bayangan akan seindah ini. Hilir-mudik santri yang ke kelas dua lantai, perpustakaan yang full buku baru dan terawat, tengok ke belakang ada ruang makan khusus dengan kursi (kami dulu ngeleseh dimana-mana dengan nampan isi 3-5 orang), ada mesin cuci khusus pengering bagi santri, masak dengan gas dan dibantu Ibu dapur, serta fasilitas lainnya yang jauh dari kami para pendahulu (tua banget ya). Poinnya bukan di fasilitas itu. 
Mushola plus ruang belajar kadang ruang bobok  *tempodulu
klo Mushola rame, sy milih belajar disini smp pindh tidur juga *msh eksis ini
Berdasarkan hasil obrolan dengan bu Baroroh (kepsek MTs-Aliyah) nilai UN dan UAMBN anak-anak ini meningkat tiap tahunnya melampaui sekolah-sekolah negri yang lebih bonafid dan lebih dulu berdiri. Hasil tahfidzpun mengejutkan, mulai tahun ini target yang ditetapkan minimal 5 juz pertahun sehingga diharapkan anak pulang membawa 30 juz. Amazing, mereka mampu bahkan beberapa sudah hatam 30 juz di kelas 3 Aliyah dan kelas di bawahnya. Setelah UN pun anak-anak di khususkan murojaah atau mencapai target bagi yang belum.
Ini yang oke saya bilang, fasilitas Ok tapi prestasi Ok. Bu Baroroh bilang “Jamanmu kae yo apik kok (Zaman kamu dulu juga bagus kok)” tahun ini kita menolak hampir 200 anak dengan sekolah yang putra, (kelas saya dulu 80 orang pas kelas 1 eh sisa 19 orang di kelas 6, seleksi alam). Saya jawab, “Bayangkan bu, mau UN kami belajar hanya kumpulan soal tidak ada buku paket apalagi teknologi, harus tetap jaga malam dan piket”. UN pun numpang karena sekolah kami dalam tahap perintisan. Benar-benar saat itu hanya kekuatan doa yang berlaku karena secara kelengkapan alat tempur kami kurang. Bu Baroroh bilang “Masa kalian masa perjuangan, mungkin ini hasilnya dari pahitnya perjuangan”. Tapi si Nofi bilang, “beda ning, tahan banting dan akhlaknya beda”. Haha.. tiap zaman ada emasnya sendiri-sendiri.
Intinya, suatu pembelajaran memanglah harus didukung oleh fasilitas memadai, SDM berkualitas dan sinergi. Utamanya lagi harus ada point plusnya, kalau hanya UN tertinggi saja udah biasa, tapi tambah istimewa jika hafidzoh pula. Mungkin bisa jadi inspirasi bagi yang lain, adek-adek yg habis UN lalu di "asingkan" di suatu tempat untuk menghafal selama menunggu pengumuman. Keren kan, daripada galau mengguita lebih baik kejar setoran :D

Good job buat adek-adekku sekarang, we proud all of you.




Taruna Al Qur'an Putri (silaturahmi part 1)

di 01.00 0 komentar
Beberapa waktu kemarin  saya silaturahmi ke pondok Taruna Al Qur’an Putri. Hajatnya sih simple, cuma titip kado buat adek kelas yang akan menikah karena minggunya tidak bisa berangkat. Selalu deh, setiap akan melangkah ke “rumah pertama” ini pasti deg-degan ampun kayak mau bertemu siapanya gitu. “Rumah Pertama” adalah tempat saya dan teman-teman di tempa hidup dunia-akhirat (dalem banget bahasanya) hehe.

Taruna yang sekarang berkembang jauh dari Taruna yang dulu kami tempati. Masih teringat jelas bagaimana saya akhirnya menentukan diri harus mondok dan menghabiskan waktu SMP-SMA di sini. Pilihan untuk mondok hingga saat ini masih banyak di pertanyakan orang. “Kenapa sih mbak kok sadar saat itu harus mondok? Milih Taruna pengen jadi Hafidzhoh ya mbak? Heh.. Malu saya kalau di tanya alasan itu lagi. Pernah saya jawab di blog ini sebelumnya bahwa hanya satu alasan utama tanpa embel-embel cita-cita lainnya yaitu phobia boso Jowo. Aneh, tapi itulah sikon saat itu saya adalah siswa pindahan akibat konflik Poso yang berkepanjangan, konon kata teman-teman di sana hingga saat ini masih saja konflik itu berlanjut.

Menata Niat
Telatnya saya adalah tidak sedari awal mondok sadar akan kewajiban mengapa berkerudung, mengapa harus belajar ilmu agama setelah seharian sekolah, mengapa kita kudu mati-matian menghafal Al Qur’an, mengapa oh mengapa. Saat itu orang tua pun bingung mencarikan dimana sekolah SMP yang tak ada materi bahasa Jawa yang mustahil ditemukan. Atas petunjuk Allah melalui seorang tukang kayu (saat ini telah menjadi seorang pemimpin aliran tertentu) akhirnya di tunjukkan lah ke Taruna.

Pemirsa pasti tau dong artis Terry Putri, nama dia saja cuplik karena sejenak saya kagum dengan keputusannya berhijab. Tau kan ya bagaimana style dia sebelum berkerudung? Kebetulan saya suka gosip jadi cukup updet masalah ini, niatnya mau ambil ibroh tapi eh mudharatnya lebih banyak. Saat diberondong dengan berbagai pertanyaan kenapa berhijab? Apa tidak takut rezeki setelah menutup aurat? Satu jawaban dia: “Kita mah jadi manusia taat dulu, masalah rezeki, tenar, itu bonus aja dari ketaatan bukan tujuan. Nah lo, saya pun ikut memakai “rumus” mbak ini dalam melihat pengalaman saya merasakan mondok. Saat mondok memang tidak ada niat khusus namun alhamdulillah banyak hal saya dapatkan, 1. The Real Life, Pengalaman hidup dari bawah 2. Be a leader, pemimpin buat diri sendiri dan untuk umat (santri lain, hehe) 3. Menghafal Al Qur’an (sampai saat ini masih megap-megap kewalahan) 4. Mengerti ilmu agama (walau belum sampai tahap paham sih) dan lain-lain.




kamar santri tempo dulu

  • The real life

Lulus SD umum yang suka pakai celana dan kaos pendek, rambut suka di kucir tiap sekolah lalu tiba-tiba harus berkerudung rapet. Umur segitu sudah harus menata hidup sendiri, piket, masak mulai dari 'mecel' (memecah) kayu menjemur hingga masak dengan kondisi seadanya, nyuci di kali yang tiba-tiba bisa banjir kalau di merapi sono hujan. Nyetrika pakai areng dan harus pesan ke piket masak, makan yang cuma seadanya racikan sendiri, kadang ayam disuwir hingga tak terlihat wujudnya, menyaksikan terong berenang-berenang di baskom. Antri mandi berjam-jam walaupun bangun jam 4. Piket yang kadang luasnya bikin pegel pinggang dan lainnya lagi keluhan yang dirindukan saat ini.
Kubah Masjid TA yang masih exis
  • Be a leader
Alhamdulillah pernah “tak sengaja” jadi leader buat seluruh santri. Tak punya pengalaman, kedudukan, pangkat namun di uji dengan pahit manisnya jadi leader. Tak sepenuhnya sukses namun pembelajaran mendalam hingga saat ini terus membekas dan tak hilang
  • Menghafal Al Qur’an
Kurikulum utama adalah tahfidz, mau tidak mau suka tidak suka ya harus menghafal. Itulah mengapa kalau ditanya bagaimana cara menghafal atau teman-teman curhat sulitnya menghafal atau parahnya memuji2 maka Cuma bisa dijawab: “Wajar, kalau kamu mondok seperti saya pun pasti bisa lebih banyak dari yang saya dapat". Kami benar-benar di gembleng dan itu di dukung oleh lingkungan (semua wajib menghafal). Ada konsekuensi bila tak sampai target minimal 2 juz yaitu tinggal kelas. Siapa jal yang mau, kalau kalian di posisiku saat itu pasti melakukan hal yang sama. Itulah yang saya sesalkan kenapa dulu tak serius dan menganggap ini kewajiban. Nyeselnya sekarang
Ke kelas ada yang menghafal, ke kantin, ke halaman bahkan ke kali pun ada yang cari keheningan untuk meluluskan niat menghafal. Bu Umar pernah berkata: 
“Kalau di Pondok jadi baik, tetap bagus ngaji dan ibadahnya itu wajar karena lingkungan mendukung. Tapi kalau setelah hidup di luar pondok bahkan bisa lebih baik di banding pencapaian saat itu nah itulah justru yang hebat”. 
So its not because i’m a wonderful woman, its just work, trust me.. hehe
  • Diajari ilmu agama
Kerasa banget seletalah di luar begini, kalau dulu kan mengandalkan ada pengajar yang nanti ngajar tentang ilmu nahwu, shorof, tarjim, imla-khot, usul fiqh, fiqh, ulumul hadis, serta pembahasan kitab2 akhlak dan lainnya. Sayangnya dulu itu gak serius, kalau yang ngajar ustadz dan pakai tabir sering ditinggal tidur(penyakit santri, kenapa mata jadi berat banget alasan padet jadwal).

Pada intinya menata niat atau rechange niat tuh jadi penting. Bagi saya, indikator kesuksesan sebuah kegiatan adalah niat. Sukses tidaknya, tercapai atau tersendatnya sesuatu bermula dan dinilai dari niat. Hebatnya lagi niatlah yang membedakan amalan menjadi pahala atau sia-sia (Hadis Niat, riyadhus solihin no.1). setidaknya rechange niat kita dalam melakukan sesuatu andaikata saat melakukannya kita lalai menata niat. Kembali lagi itu mah niat untuk full ibadah, niat untuk memperdalam Islam sebagaimana kewajiban yang seharusnya. Plus-plus diatas mah bonus dari Allah SWT, kata mbak Terry.



18 Juni 2015

Tarwih Live Makkah #iisinsomnia

di 23.00 0 komentar
Beberapa hari ini ritme tidur jadi aneh, dulu zaman S1 tidui jam mulai magrib sampai jam 23.00 WIB buat kerja tugas, belajar, makan dsb. Pas kuliah magister udah mulai normal tuh bangunnya bisa jam 03.00 WIB (pas ada tugas aja, he).

Eh sekarang kambuh, tidur jam 20.00 nanti jam 23.00 dan bangun sampai subuh. Kayak hari ini, terpaksa lembur bingung mau apa. tapi coba positif thinking, selama ini ngaku gak punya waktu belajar, nulis, baca etc padahal udah di tulis di list to do, hehe..

Nah, mumpung romadhon bisa sekalian ibadah kan. Tidak hanya solat saja, bisa ngaji, mbaca-baca buku, makan, ngeblog atau denger solat tarawih live makkah di radio Rodja sambil menuggu waktu sahur. saya aja gak sengaja, nemu disini http://www.radiorodja.com/
Karena di Makkah mereka baca sekitar 1 juz setiap malam, sehingga sekalian ikut murojaah, belajar tahsin dan cara orang arab ngaji.

atau dengar MQ http://mqfmnetwork.com/

Ayo bikin target romadhonmu, mau hatam berapa kali? 60 kali kah seperti Imam Syafii?


Saat bingung mengambil hukum

di 01.00 0 komentar
Hampir romadhon, mulai muncul beberapa pertanyaan teman-teman seputar puasa dan hukum di dalamnya. Ada yang tanya bagaimana hukum fidyah bagi wanita hamil, bagaimana jika keluar darah dengan ciri begini begitu, cara menghitung masa suci, bolehkan utang puasa di bayar fidyah, bolehkah puasa romadhon yang belum diqodho lalu bertemu puasa romadhon lagi status hukumnya bagaimana.

Jujur, saya bukan ahli ilmu agama yang mampu memberi kepastian hukum. Bukan pula ulama yang pandai membaca membaca kitab dan mengolah dalil. Bukan juga lulusan dari Konsentrasi Qur’an Hadist. Tapi dari pertanyaan-pertanyaan itu saya belajar menjawab semampunya. Jikapun memang terlalu beresiko maka saya bilang, ustad A, B hingga Z berpendapat begini, dalil yang dipakai ini, derajatnya ini.
Sebaiknya memang jika tidak tahu atau ragu sebaikanya minta mereka tanya pada Ustadz yang lebih terpercaya. Tapi bagaimana jika mereka mendesak untuk diberi jawaban. Cara saya yaitu menyandarkan pada mereka yang lebih ahli seperti syekh utsaimain, syaikh bin baz, atau ulama-ulama Indonesia sendiri seperti Aagym, Ustadz Miftah, dan lainnya. Mengapa? Karena mereka yang paham dalil dan tingkat kesholehannya lebih baik karena hidupnya selalu berkaitan dengan buku dan kitab.
Kalaupun ada hadist yang saya tahu atau kitab yang membahas maka sampaikan sebisa kita diterima ataupun tidak oleh penanya. Kewajiban seorang muslim adalah menebarkan ilmu walau satu ayat, namun kehati-hatian pun perlu jadi pijakan. Namun lantas jangan menjadikan kita sebagai orang yang menyembunyikan kebenaran. Ancaman bagi mereka yang tidak menebarkan ilmu pun ada, seperti hadis:Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
من سئل عن علم فكتمه ألجم يوم القيامة بلجام من نار

“Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu, kemudian ia meyembunyikannya, maka kelak ia akan dibungkam mulutnya dengan api neraka.” (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Al-Baihaqi dan Al-Hakim)
Lalu? Menjawab bisa salah dan diam pun salah. Prinsip Islam mengajarkan seseorang yang tidak tahu dia dihukumi tidak berdosa namun ada keharusan untuk mencari ilmu untuk menutupi ketidaktahuannya. Sebagaimana keutamaan orang berilmu dalam surat al Mujadalah:Lalu siapa yang berhak menjawab? Ingatkah kita bahwa di zaman Rasulullah SAW tidak ada batasan mencari ilmu, bukan berdasar tingkatan capaian akademik seseorang, bukan ketinggian pangkat atau jabatan. Dimanapun seorang ulama yang terkenal memiliki syarat diterimanya hadis seperti jujur, tsiqoh, dhobit, akan terus diburu untuk diambil ilmunya. Contohnya Imam Bukhari yang terkenal hadisnya shahih melalui hal yang sama dan di dahului shalat sunnah 2 rakaat setiap kali akan menuliskan hadisnya.
Seorang mujtahid (orang yang berijtihad) tidak sembarang. Ijtihad adalah proses pengambilan hukum ketika dalil dari Al Qur’an, Al Hadis, Ijma dan Qiyas hukumnya longgar, atau mungkin terjadi khilafiyah mengenai tafsirnya selama tidak ada hukum yang kuat (wajib) yang ditetapkan Al Quran maupun al Hadis. Bisa juga karena kondisi yang dialami sekarang berbeda dengan zaman dulu yang diriwayatkan Nabi SAW. Syarat menjadi mujtahid pun tidak main-main, setidaknya orang tersebut hafal Al Qur’an dan faham tafsirnya, mengerti Hadis, faham bahasa Arab. Imam al Ghazali menyatakan mujtahid mempunyai dua syarat, yaitu:
  • Mengetahui dan menguasai ilmu syara, mampu melihat yang zhanni di dalam hal-hal yang syara dan mendahulukan yang wajib.
  • Adil, menjauhi segala maksiat yang mencari sifat dan sikap keadilan (`adalah). Menurut Asy Syathibi, seseorang dapat diterima sebagai mujtahid apabila mempunyai dua sifat, yaitu mengerti dan paham akan tujuan syari`at dengan sepenuhnya, sempurna dan menyeluruh. Mampu melakukan istimbath berdasarkan faham dan pengertian terhadap tujuan-tujuan syari`at tersebut.
Menurut Dr. Wahbah az Zuhaili, seorang mujtahid mempunyai dua syarat yang harus dimiliki, yaitu mengetahui apa yang ada pada Tuhan dan mengetahui atau percaya adanya Rasul dan apa yang dibawanya juga mukjizat-mukjizat ayat-ayat Allah.Al-Syatibi berpendapat bahwa mujtahid hendaknya sekurang-kurangnya memiliki tiga syarat: Syarat pertama, memiliki pengetahuan tentang Al Qur’an, tentang Sunnah, tentang masalah Ijma’ sebelumnya. Syarat kedua, memiliki pengetahuan tentang ushul fikih. Syarat ketiga, menguasai ilmu bahasa.Selain itu, al-Syatibi menambahkan syarat selain yang disebut di atas, yaitu memiliki pengetahuan tentang maqasid al-Syariah (tujuan syariat). Oleh karena itu seorang mujtahid dituntut untuk memahami maqasid al-Syariah. Menurut Syatibi, seseorang tidak dapat mencapai tingkatan mujtahid kecuali menguasai dua hal: pertama, ia harus mampu memahami maqasid al-syariah secara sempurna, kedua ia harus memiliki kemampuan menarik kandungan hukum berdasarkan pengetahuan dan pemahamannya atas maqasid al-Syariah. sumber

Dengan kompetensi yang mumpuni itu maka kekhawatiran dia salah berijtihad semakin kecil karena kapabilitasnya. Oleh karena itu mujtahid yang salah mendapat pahala 1 dan jika tepat maka pahala 2. Namun hanya Allah SWT yang tahu mana benar dan mana yang salah. Ijtihad boleh beda berdasar pada hasil pembacaan ayat Qur’an, hadis, ijma, qiyas serta pendapat-pendapat sahabat, ulama-ulama hingga ulama kontemporer. Kita sebagai makhuk bebas pun boleh memilih mana yang kita yakini untuk diambil sebagai dalil. Hakim seseorang adalah hatinya, maka bila ia cenderung pada satu pendapat janganlah memakai otak/nalar tapi hati nurani berdasar dalil yang kuat. Sebuah hadis dikatakan: bila seseorang menggunakan nalar maka ia tidak
Sebagai orang awam, kitapun berhak membaca kitab-kitab ulama dan terus memperbaiki diri, menambah ilmu teruatama bahasa arab yang menjadi pengantar membaca kitab asli dibanding terjemah. Tak ada batasan umur dalam belajar bahkan diharuskan seseorang terus belajar sepanjang hidupnya. Untuk jawaban diatas saya suka googling walaupun jangan serampangan juga dalam mengambil pendapat. Carilah website yang diasuh oleh ulama-ulama yang memang kompeten secara keilmuan diakui. Baiknya lagi jika mampu maka datangi kediaman ulama tersebut untuk menimba ilmu langsung. Karena keterbatasan sebagai manusia hendaknya berucap Wallahu a’lam bisshowab karena Allah lah hakim yang seadil-adilnya. 
Tanjungan, 1 Romadhon 1436 H
 

Lima Belas Menit Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review