19 Juni 2015

Taruna AlQur'an Putri (Silaturahmi Part 2)

di 22.00
Reaksi: 
Lanjutan dari postingan sebelumnya, kunjungan saat itu ke Taruna membuat dada kembali berdesir. Terlebih ketemu Nofi, pathner saya yang suka menanggung malu akibat kebiasaan saya yang suka berhutang, just you and i understand it.
Duduk di pelataran kantor kami tertegun menyaksikan Taruna masa kini jauh dari bayangan akan seindah ini. Hilir-mudik santri yang ke kelas dua lantai, perpustakaan yang full buku baru dan terawat, tengok ke belakang ada ruang makan khusus dengan kursi (kami dulu ngeleseh dimana-mana dengan nampan isi 3-5 orang), ada mesin cuci khusus pengering bagi santri, masak dengan gas dan dibantu Ibu dapur, serta fasilitas lainnya yang jauh dari kami para pendahulu (tua banget ya). Poinnya bukan di fasilitas itu. 
Mushola plus ruang belajar kadang ruang bobok  *tempodulu
klo Mushola rame, sy milih belajar disini smp pindh tidur juga *msh eksis ini
Berdasarkan hasil obrolan dengan bu Baroroh (kepsek MTs-Aliyah) nilai UN dan UAMBN anak-anak ini meningkat tiap tahunnya melampaui sekolah-sekolah negri yang lebih bonafid dan lebih dulu berdiri. Hasil tahfidzpun mengejutkan, mulai tahun ini target yang ditetapkan minimal 5 juz pertahun sehingga diharapkan anak pulang membawa 30 juz. Amazing, mereka mampu bahkan beberapa sudah hatam 30 juz di kelas 3 Aliyah dan kelas di bawahnya. Setelah UN pun anak-anak di khususkan murojaah atau mencapai target bagi yang belum.
Ini yang oke saya bilang, fasilitas Ok tapi prestasi Ok. Bu Baroroh bilang “Jamanmu kae yo apik kok (Zaman kamu dulu juga bagus kok)” tahun ini kita menolak hampir 200 anak dengan sekolah yang putra, (kelas saya dulu 80 orang pas kelas 1 eh sisa 19 orang di kelas 6, seleksi alam). Saya jawab, “Bayangkan bu, mau UN kami belajar hanya kumpulan soal tidak ada buku paket apalagi teknologi, harus tetap jaga malam dan piket”. UN pun numpang karena sekolah kami dalam tahap perintisan. Benar-benar saat itu hanya kekuatan doa yang berlaku karena secara kelengkapan alat tempur kami kurang. Bu Baroroh bilang “Masa kalian masa perjuangan, mungkin ini hasilnya dari pahitnya perjuangan”. Tapi si Nofi bilang, “beda ning, tahan banting dan akhlaknya beda”. Haha.. tiap zaman ada emasnya sendiri-sendiri.
Intinya, suatu pembelajaran memanglah harus didukung oleh fasilitas memadai, SDM berkualitas dan sinergi. Utamanya lagi harus ada point plusnya, kalau hanya UN tertinggi saja udah biasa, tapi tambah istimewa jika hafidzoh pula. Mungkin bisa jadi inspirasi bagi yang lain, adek-adek yg habis UN lalu di "asingkan" di suatu tempat untuk menghafal selama menunggu pengumuman. Keren kan, daripada galau mengguita lebih baik kejar setoran :D

Good job buat adek-adekku sekarang, we proud all of you.




0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 

Lima Belas Menit Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review