19 Desember 2011

Kerucut Pengalaman Edgar Dale (Cone of Experience)

di 22.07
Reaksi: 

Berbicara tentang media dan pengalaman-pengalaman yang dibangunnya, kita dapat berpedoman pada Kerucut Pengalaman Edgar Dale (Cone of Experience). Pada gambar di bawah ini juga diperlihatkan keterkaitan dengan konsep Bruner (enactive, iconic, and symbolic learning). "The cone of Experience" from Audio-Visual Methods in Teaching, 1st Edition, by Edgar Dale, 1969. (Digambar ulang oleh saya untuk mendapatkan ketajaman gambar).
ini :

Dapat kita amati, ada tahap-tahap bentuk penyajian pesan melalui media untuk mendapatkan pengalaman belajar senyata mungkin. Pada Kerucut Pengalaman Dale, kita memulai pemelajar (orang yang melakukan kegiatan belajar) sebagai partisipan dalam pengalaman aktual, lalu beranjak ke pemelajar sebagai pengamat dari kejadian aktual, lalu ke pemelajar sebagai pengamat dari sebuah hal/kejadian melalui medium, dan akhirnya ke pemelajar yang mengamati simbol-simbol yang merepresentasikan sebuah hal/kejadian. Dan itulah yang menurut saya paling menantang, mengembangkan sebuah media pembelajaran yang dapat digunakan para pemelajar untuk mengamati sebuah hal/kejadian.


          Di buku Teknologi Pembelajaran karangan Seels dan Richey tertulis : "Dale berkeyakinan bahwa simbol dan gagasan yang abstrak dapat lebih mudah dipahami dan diserap manakala diberikan dalam bentuk pengalaman yang kongkrit. Kerucut Edgar Dale ini menyatukan teori pendidikan John Dewey dengan gagasan-gagasan dalam bidang psikologi yang tengah populer pada masa itu. Kerucut pengalaman merupakan upaya awal untuk memberikan alasan tentang kaitan teori belajar dengan komunikasi audio visual (Dale, 1946)." Secara umum, semakin kita menapaki ke atas kerucut Pengalaman Dale, akan mendapati media yang lebih abstrak, dan lebih banyak informasi yang dapat di padatkan ke dalam periode waktu yang singkat. Memakan waktu yang lebih banyak jika pemelajar melibatkan diri ke dalam pengalaman langsung yang nyata, pengalaman buatan, atau pengalaman yang didramatisir jika dibandingkan dengan penangkapan informasi dalam sebiah tape video, rekaman audio, serangkaian simbol visual (gambar), atau serangkaian simbol verbal.
Seorang calon pilot akan mendapatkan pengalaman terbaik jika ia mencoba mengemudikan pesawat aslinya, tapi itu akan memakan resiko dan waktu yang besar. Akan lebih aman jika ia belajar melalui simulator pesawat. Atau untuk memulainya cukup menarik juga jika ditampilkan video yang memperlihatkan proses seorang pilot yang menerbangkan pesawat. Salah satu klasifikasi yang dapat menjadi acuan dalam pemanfaatan media adalah klasifikasi yang dikemukan oleh Edgar Dale yang dikenal dengan kerucut pengalaman (Cone Experience). Kerucut pengalaman Dale mengklasifikasikan media berdasarkan pengalaman belajar yang akan diperoleh oleh peserta didik, mulai dari pengalaman belajar langsung, pengalaman belajar yang dapat dicapai melalui gambar, dan pengalaman belajar yang bersifat abstrak.
Menurut Edgar Dale, media mempunyai kadar pengaruh yang bertingkat. Saya setuju dengan teorinya tentang ‘Cone of Experience’ yang menjelaskan bahwa berdasar pengaruh/efektifitas media.  Namun, demikian masing-masing punya kekurangan disamping kelebihan yang ada. Seorang guru yang baik harus ahli menghadirkan atau menyajikan materi menggunakan berbagai media tersebut disesuaikan dengan sikon.
Dari gambar tersebut dapat kita lihat rentangan tingkat pengalaman dari yang bersifat langsung hingga ke pengalaman melalui simbol-simbol komunikasi, yang merentang dari yang bersifat kongkrit ke abstrak, dan tentunya memberikan implikasi tertentu terhadap pemilihan metode dan bahan pembelajaran, khususnya dalam pengembangan Teknologi Pembelajaran

          Pemikiran Edgar Dale tentang Kerucut Pengalaman (Cone of Experience) ini merupakan upaya awal untuk memberikan alasan atau dasar tentang keterkaitan antara teori belajar dengan komunikasi audiovisual. Kerucut Pengalaman Dale telah menyatukan teori pendidikan John Dewey (salah satu tokoh aliran progresivisme) dengan gagasan – gagasan dalam bidang psikologi yang tengah populer pada masa itu. Sedangkan, James Finn seorang mahasiswa tingkat doktoral dari Edgar Dale berjasa dalam mengusulkan bidang komunikasi audio-visual menjadi Teknologi Pembelajaran yang kemudian berkembang hingga saat ini menjadi suatu profesi tersendiri, dengan didukung oleh penelitian, teori dan teknik tersendiri. Gagasan Finn mengenai terintegrasinya sistem dan proses mampu mencakup dan memperluas gagasan Edgar Dale tentang keterkaitan antara bahan dengan proses pembelajaran..

0 komentar:

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 

Lima Belas Menit Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review