8 November 2013

Menyiapkan Calon Penulis dari TPA

di 22.27
Reaksi: 
TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an) menjadi salah satu alternatif belajar bagi anak-anak disore hari yang sudah ada sejak lama. Namun seiring berkembangnya zaman, kondisi yang ada tidak lagi seantusias zaman nenek kita dulu. Anak-anak sekarang selain disibukkan dengan les-les yang “dianggap” menunjang masa depannya mulai dari les bahasa inggris, musik, les mata pelajaran sekolah, ikut karate, pencak silat, sanggar tari dan sebagainya juga tergiur oleh aneka permainan sampai gadget yang menyenangkan.

Perkembangan tekhnologi sedemikian rupa mengakibatkan banyaknya pilihan bagi anak yang menyita waktu serta membuatnya tidak aktif. Lembaga seperti TPA harus punya stategi bagaimana menarik minat santri untuk tetap datang TPA.

Salah satu yang saat ini ingin terapkan adalah menulis. Menulis apapun yang mereka bisa mulai dari puisi, cerita, pengalaman dan nanti saya bantu kirim ke media. Memang sulit, mengingat anak-anak saya ini hidup di desa dan akses dari orang tua kurang begitu baik. Awalnya mereka kebingungan ketika saya minta untuk menulis apapun yang mereka suka. Sedikit memang yang suka atau bisa dibilang anak-anak tidak tau menulis itu mulai dari mana dan akan menulis apa.

Saya pun mengakui bahwa menulis memang tidak mudah apalagi jika tak terbiasa. Untuk membiasakan mereka menulis sesulit apapun itu peru strategi dan latihan keras. Iming-iming dimuat dimedia massa yaitu selain bangga namanya masuk majalah/koran juga mendapat uang jajan tambahan ternyata menambah antusias mereka, bahkan beberapa anak langsung ingin menulis dan ada juga yang menggambar.  Banyak sekali koran/ majalah yang menerima tulisan anak TK-SD usia TPA seperti: majalah Bobo, KR minggu pagi, Annida, Majalah Mombi (untuk TK dan SD), Kompas Anak (Rubrik anak tiap hari Minggu yang menerima karangan, puisi, dan resensi buku khusus untuk rubrik, Majalah Aku Anak Saleh yang menerima cerpen anak islami dan banyak lagi alternatif lainnya.

Kondisi TPA yang sepi memang terjadi dibanyak tempat, dengan berbagai kendala dan hambatan. Namun bukan solusi jika harus menyalahkan zaman, karena tanpa bisa dibendung zaman akan terus bergulir dan teknologi akan tumbuh sedemikian pesatnya. Kalaupun menyalahkan pemerintah yang tidak kunjung mengucurkan dana untuk operasional, maka sampai kapan kita menunggu dana tersebut turun. Perlu kreatifitas dan kerja keras serta kerja ikhlas guru TPA dalam mengajar. Para penulis besar bisa kita munculkan dari TPA, sebagai selingan mengaji mereka pun bertambah wawasan tentang kepenulisan. Bila guru-guru TPA lepas tangan dan acuh terhadap kurikulum yang berkembang di TPA maka siapa lagi yang akan peduli dengan generasi emas ini?



Sri purwaningsih Romadhon
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga

0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 

Lima Belas Menit Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review