2 November 2013

Jadi Pendidik Cerdas dengan Tekhnologi

di 09.41
Reaksi: 
Teknologi merupakan angin segar bagi dunia pendidikan. Tak terelekkan lagi alat komunikasi seperti HP tidak sedikit bentuk dan ragam desainnya, bahkan dalam hitungan hari sudah muncul lagi jenis HP yang baru. Itu baru HP, kini bak jamur di musim penghujan berbagai tablet, ipad, laptop mini dan lain sebagainya saling bersaing untuk memunculkan yang terbaik. Angin segar ini haruslah ditangkap para pendidik khususnya dalam pembahasan ini. Mengapa? Inilah sarana efektif salah satu media yang manfaatnya sangat besar, rugi sekali bila disia-siakan oleh pendidik.

Kenapa harus media teknologi?

Tak dapat dihindari lagi semua lini kehidupan kita berhubungan dengan tekhnologi. Untuk absen saja para guru di sekolah mulai dasar hingga dosen di perguruan tinggi sudah menggunakan finger print (absen sidik jari) yang memudahkan kerja staf Tata Usaha, contoh kecil betapa dekatnya teknologi dengan kita. Tidak seperti dahulu seseorang bisa saja mengelabui dengan tanda tangan palsu atau “titip” ke teman. Tes kerja atau tes masuk sekolah (SMP, SMA dan perguruan tinggi) juga sudah menggunakan CBT (Computer Based Test) yang dipercaya lebih akurat dan tak ada kongkalikong antara petugas dan siswa yang di tes. Teknologi hadir bukan untuk dihindari, menghindari sama saja kembali ke zaman purba dan anti progresif (kemajuan). Tetapi manfaatkan ia sebijak mungkin untuk membantu kerja kita, meminimalisir “lupa” dan meringkankan tugas-tugas untuk mencapai target berikutnya.
Gambar dari www.google.com
Seorang guru atau dosen misalnya sangat terbantukan dengan adanya laptop atau tablet dalam menyusun rencana belajar. Mengupdate info yang selalu berubah juga menjadi aktifitas wajib bagi para pendidik, tentu sangat memalukan bila guru atau dosen tersebut “kudet” dalam istilah Raditya Dika (kurang update) dengan info-info saat ini karena anak-anak antuasias ketika diawal pembelajaran guru menyuguhkan peristiwa aktual tentang apapun, ini stategi menarik minat anak. Pendidik merupakan anutan siswa yang perkataan dan perbuatannya digugu dan dititu (didengar dan dijadikan panutan) maka haruse seiring sejalan tahu realita apa disekitarnya. 

Internet juga dapat digunakan sebagai media pembelajaran jarak jauh sebagai selingan dalam belajar, dimana tidak lagi dibatasi ruang dan waktu. Dalam pembelajaran jarak jauh ini guru/dosen tidak perlu bertatap muka dan para siswa juga bisa berada dimanapun selama ia masih terhubung dengan internet. Di sisa waktu atau sambil menunggu aktifitas lain, pendidik juga dapat membuat slide presentasi dengan segera tanpa perlu menunggu waktu untuk duduk depan komputer. Dengan sentuhan jari di tablet/ipad sebuah slide presentasi atau bahan ajar siap digunakan.

Siswa atau mahasiswa yang mengeluhkan mahalnya biaya kursus dapat diberi solusi dengan internet. Contohnya untuk les bahasa inggris di suatu lembaga tepatnya di Jogja untuk 1 paket (conversation) saja sudah butuh biaya 1 juta minimal, belum untuk paket yang lain (prounoncation dan Toefl) bisa jadi 3 juta lebih yang menjadikan anak enggan ikut les dengan alasan biaya mahal. Sekarang bukan zamannya lagi berkata mahal, bahkan youtube dan sosial media lain jadi sarana efektif untuk belajar. Atau ketika membutuhkan info beasiswa maka selain info dari sekolah juga penting untuk searching internet mencari sekolah-sekolah berkualitas di luar negeri. Anak-anak kita banyak yang mampu hanya saja info-info beasiswa ini yang sering tidak “terbaca” oleh pendidik

Saya pernah menghadiri seminar “Pemburu Beasiswa” yang dihadiri kak Nadia K Hakman dan kak Nur Febriani Wardi penulis buku best seller “Haram Keliling Dunia” menceritakan bagaimana sekolah mereka di luar Negeri berkat beasiswa tersebut. Di kampus-kampus luar negeri segala aktifitas perkuliahan serba internet, mulai dari mengirim tugas, absen, diskusi, jurnal terbaru, buku-buku ilmiah hingga populer, sharing dengan dosen dan sebagainya. Cerita menarik dari kakak-kakak ini yaitu pola pengiriman tugasnya ada deadline (tenggat waktu), seperti lomba menulis ini misal yang deadlinenya 31 oktober 2013 begitu pula dengan mahasiswa disana bila terlambat 1 detik saja dari ketentuan jam maka ia tidak dapat mengirimkan tugasnya, hebat ya. 

Sebagai mahasiswa mereka juga mendapat pasword dari pihak kampus sehingga bisa mengakses sebanyak mungkin jurnal baru yang meminimalisir mendapat ilmu yang “basi” ibarat makanan. Karena ilmu (termasuk juga tekhnologi) selalu update setiap hari bahkan menit setiap orang di belahan dunia melakukaan penelitian lalu mempublikasikan di jurnal sehingga dapat dilanjutkan oleh peneliti berikutnya. Kalau tidak membaca tentu pendidik akan tertinggal dan menggunakan ilmu yang “basi” tadi. Ternyata ini kunci suksesnya negara-negara maju, mereka sangat perhatian dengan ilmu bahkan dana penelitian disiapkan negara berapapun yang dibutuhkan. Beberapa jurnal online yang penting bagi para pendidikan diantaranya EMERALD, EBSCO, CENGANGE, Oxford Islamic Studies (bagi pendidikan Islam dan wacana ke-Islaman) dan lain sebagainya. Didalamanya berisi ratusan hasil penelitian yang selalu baru dan memberi “warna” dalam memperbaiki pendidikan.

Peran orang tua dalam pemanfaatan teknologi.

Ada ketakutan-ketakutan berlebihan dari sejumlah orang yang bahkan menghindarkan putra-putrinya dari teknologi. Tidak boleh membawa HP seperti teman-teman lainnya, tidak ada televisi di rumah, tidak boleh menggunakan internet. Untuk pengkondisian mungkin bisa jadi ada yang membenarkan, tetapi disayangkan sekali bila ini dilakukan oleh orang yang mempunyai pendidikan. Utamanya bila ingin meredam efek negatif tekhnologi bukan dengan cara menutup seluruh akses informasi, gunakan jalur-jalur edukatif dengan baik.

Cara yang wajib dilakukan orang tua adalah membimbing putra-putrinya, selalu melakukan dialog dengan baik tentang keseharian anak (terbuka), menjadikan orang tua teman akrab anak. Juga yang terpenting adalah orang tua menguasai lebih dahulu teknologi tersebut. Sebutlah HP bagi anak usia SD bila pun sangat diperlukan maka orang tua harus lebih tahu tentang pemanfaatan HP mulai dari fitur, aplikasi,serta bagian lain sehingga dapat mengawasi aktifitas anak dengan Hpnya juga dapat memblokir situs-situs atau aplikasi yang tidak bermanfaat.

BJ Habibi pernah berkata: kita harus jadi pemain, jangan hanya jadi penonton globalisasi. Habibi tidak sekedar berkata tapi membuktikan dengan dedikasi yang tinggi membuat ia diakui Jerman. Kini, ketika menutup mata terhadap teknologi kapan mimpi menguasai dunia terwujud? 


0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 

Lima Belas Menit Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review