14 Desember 2013

Memutus Rantai Korupsi lewat Pendidikan

di 16.50
Reaksi: 


9 desember merupakan hari anti korupsi internsional. Seluruh negara memperingati dengan berbagai aksi, sejak kemarin sejumlah aktivis yang tergabung dalam Gerakan Pemuda Anti Korupsi peringati Hari Anti Korupsi seDunia di Bundaran HI, Jakarta, Ahad 8/12. Aksi kampanye tersebut dalam rangka menyambut peringartan Hari Anti Korupsi seDunia yang jatuh pada tanggal 9 Desember.
Korupsi mungkin menjadi lagu lama yang tak pernah usang. Bagaimana tidak Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat selama kurun waktu 2003-2013, sebanyak 296 kasus korupsi pendidikan dengan indikasi kerugian negara sebesar Rp619,0 miliar telah ditangani oleh pihak Kepolisian, Kejaksaan, dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ini baru melihat pendidikan saja, belum aspek lain seperti ekonomi, sosial, politik dan sebagainya. Dari penelusuran ICW, Dana Alokasi Khusus (DAK) merupakan sektor primadona yang paling sering dikorupsi dengan jumlah kasus sebanyak 84 kasus. Dari jumlah tersebut, kerugian yang dialami negara terbesar Rp265,1 miliar.
Yang menarik, dari tindak pidana korupsi di dunia pendidikan, baik di Kemendikbud maupun di perguruan Tinggi. setiap tahunnya jumlah kasus tidak pernah mengalami peningkatan, Namun, kerugian yang diderita negara luar biasa cukup besar. Untuk 2013, meskipun baru 16 kasus yang ditangani, namun kerugian negaranya sudah mencapai Rp121,2 miliar.(Okezone.com)
Bahkan beberapa media melansir Indonesi negara terkorup kedua. Lagi-lagi pendidikan yang jadi punggung perjuangan mencetak anak bangsa yang digerogoti tikus-tikus korupsi. Bagaimana mau maju?
 Pendidikan adalah senjata paling ampuh mengubah dunia (Nelson Mandela)
Itulah kata Nelson Mandela seorang pahlawan Apertheid yang baru saja berpulang namun jasanya tak kan hilang dimata rakyatnya. Benar memang, harusnya korupsi bisa diberantas dengan pendidikan. Jusuf Kalla pernah mengatakan: salah jika menganggap para koruptor adalah hasil dari pendidikan tinggi, ketika menyoroti banyaknya korutor yang sebagian besar merupakan orang berpendidikan tinggi bahkan kelas professor. Ibaratnya pisau, punya dua sisi. Satu sisi bisa membantu memudahkan pekerjaan dapur tapi lain sisi bisa sebagai alat kejahatan (membunuh, intimidasi) yang semuanya bergantung si pengguna pisau. Begitu pula pendidikan, tidak ada satu orangpun guru atau dosen yang mengajarkan perilaku korupsi.
Bagaimana harusnya pendidikan?
Pendidikan bukan untuk disalahkan tapi dikoreksi untuk dibenahi bersama. Tanggung jawab moral lebih besar karena pendidikan bukan sekedar pengajaran guru ke siswa, banyak aspek lain yang harus turut peduli dan membenahi. Karena sejatinya pendidikan bukan hanya sekolah. Sekali lagi, pendidikan bukan hanya sekolah. Jika ideologi selama ini pendidikan hanya sekolah dimana anak hanya sekitar 8 jam saja disekolah, lalu 16 jam yang lebih banyak ini kuasa siapa?
Koreksi pertama, sejak TK anak sudah di”paksa” untuk belajar baca, tulis, hitung (calistung). Beberapa penelitian neurosains memandang bahwa jika diusia ini anak sudah diharuskan membaca padahal otak mereka belum siap maka bisa “lelah” sebelum waktunya. Memang belum diteliti lebih lanjut bagaimana pola pendidikan para koruptor dimasa lalunya, tapi pasti ada pengaruh. Jika sejak awal otak sudah diperas bekerja sebelum siap maka kelelahan itu terwujud dari tidak maksimalnya kerja dan hasil yang direncanakan.  Pendidikan Jepang kita tahu sangat memperhatikan usia-usia ini, diikuti apa yang menjadi “passion” nya bukannya dipaksa mengikuti kurikulum. Tetapi pasti bertolak belakang dengan realita karena SD kelas 1 membaca seakan menjadi kewajiban ketika anak mendaftar, orang tua akan sigap mencari bimbingan belajar yang bisa membuat anaknya bisa membaca. Padahal kita telah merenggut kebebasannya.  
Aspek lain yang harus menjadi perhatian pun pendidikan dalam keluarga. Pendidikan terbaik anak adalah dari orang tua, tak terbantahkan bahwa pendidikan orang tua akan melekat sepanjang hidup anak. Pengalaman dalam keluarga pula yang akan dibawa anak di masa depannya. Untuk itu sinergi membangun keluarga yang perhatian terhadap pendidikan anak sangat penting untuk mewujudkan mimpi melihat Indonesia gemilang.

0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 

Lima Belas Menit Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review