14 Desember 2013

Optimis Memajukan Pendidikan Tanpa TIK

di 16.48
Reaksi: 



Guru TIK resah karena terpaksa harus mengajar mata pelajaran yang tak sesuai keahliannya. Menyusul adanya peraturan akan diberlakukannya kurikulum 2013 resmi pada Juli 2014 mendatang. Guru Tekhnologi dan Informasi dan Komunikasi (TIK) Kulonprogo resah berkaitan akan dihapuskannya mapel TIK dalam kurikulum 2013. Penghapusan ini menurut ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Slamet Supriyanto akan menghilangkan jam mengajar guru sebagai syarat sertifikasi dan kedepannya menimbulkan generasi gagap tekhnologi  (Republika, Jumat 8/11).
Pemerintah pun rupanya belum memberikan penjelasan mengenai guru-guru TIK ini padahal disejumlah sekolah di Kulonprogo seperti SMP 1 wates, SMP 1 Samigaluh, SMP 2 Lendah, SMP 1 Galur, serta SMP Kanisius Kalibawang telah menghapus TIK dari kurikulumnya.  Bahkan yang lebih meresahkan adalah bagaimana masa depan mahasiswa yang sedang kuliah atau berencana masuk kuliah jurusan TIK? Tentu jadi polemik bagi kampus dan mahasiswa itu sendiri teutama orang tua yang punya harapan besar anaknya menjadi guru.
Pada kurikulum 2013, sejumlah pelajaran dijenjang SMP akan dihapus, misalnya biologi dan fisika akan menjadi satu dalam mata pelajaran IPA. Sedangkan geografi dan sejarah akan dilebur menjadi IPS. Tidak hanya IPA dan IPS yang dilebur menjadi satu tetapi mata pelajaran TIK akan ditiadakan di jenjang SMP dan SMA.


Mindset Enterpreneur
Menarik perkataan Shibusawa Eiichi “Jika engkau seseorang yang berkemampuan, jadilah pedagang. Namun jika engkau mutunya setengah-setengah jadilah pegawai”. Penulis pun berfikir agar para dosen TIK di kampus tidak lagi mendoktrin mahasiswanya hanya menjadi pekerja tetapi harus didorong menjadi seorang enterpreneur. TIK mempunyai ladang usaha yang luas, betapa tidak semua aspek saat ini berkaitan dengan tekhnologi tentu peluang lulusan jurusan ini punya banyak pilihan mengembangkan bakatnya. Beberapa kampus TIK yang penulis perhatikan, di Jogja misalnya ada AMIKOM dimana mereka telah dibekali ilmu agar jangan punya mimpi jadi pegawai tapi jadilah pemilik usaha. Bahkan diantara mereka banyak yang mempunyai usaha-usaha kecil seperti servis komputer, jual modem, konter HP, usaha percetakan dan lain sebagainya tentunya ini dimulai semenjak kuliah.
Tentu perihal tidak masuknya TIK kurikulum 2013 menjadikan para mahasiswa dan orang yang ingin masuk jurusan TIK harus lebih berbangga diri. Jepang dengan tekanan alam yang tidak semakmur Indonesia menjadikan mereka butuh peneliti yang sangat banyak untuk menopang kehidupannya, dan kini mereka unggul dengan tekanan itu. Rakyat Jepang mempunyai satu sikap hidup yang dinamakan makoto atau diterjemahkan kesungguh-sungguhan dan dalam bahasa Inggrisnya Sincerety, yaitu sikap yang menjunjung tinggi kemurnian dalam batin dan motivasi dan menolak adanya tujuan yang semata-mata hanya berguna bagi diri sendiri. Sikap makoto tidak menyukai cara berfikir dan berbuat yang semata-mata pragmatis, yang dipentingkan sasaran yaitu dilakukan dengan kejujuran dan kesungguhan serta kegagalan bukan masalah. yang dijadikan titik pusat bukan hasil tapi perbuatannya itu.
Menurut Rhenald Kasali: sukses bukan sesuatu yang datang begitu saja. Ia harus diperjuangkan dengan mata dan hati yang bersih, pikiran jernih, dan semangat tak kenal lelah. Dalam dunia bisnis, sukses mengandung pengorbanan. Ia tak dapat diraih dalam sekejap, butuh waktu, melekat pada orang yang merintisnya, tidak dapat di copy begitu saja, namun sekali diperoleh ia dapat dimultigunakan pada kegiatan bisnis yang lain. Jatuh bangun untuk melatih otot adalah biasa. Tetapi sekali otot menjadi kuat, ia mampu menopang badan yang berat. Ada 5 kunci sukses: reputasi dulu, tumbuh dari bawah, masuk dalam bidang yang dikuasai, antikerumunan, dan modal adalah pelengkap.
Juga kita tidak asing dengan kata-kata "Sembilan dari sepuluh pintu rejeki ada dalam perdagangan". Terlepas dari itu hadis sahih atau bukan namun spiritnya sebagi motivasi perlu ditanamkan. Baginda Rasulullah saw yang agung pun telah mencontohkan sejak kecil beliau ikut berdagang hingga keluar negeri (Syam), menggembala di usia belia dan besarnya dipercaya saudagar Khadijah yang selanjutnya menjadi istrinya.  
Kurikulum tanpa TIK
Jikapun pemerintah telah ketok palu dan tak bisa berubah keputusan tersebut, sebagai rakyat kita wajib taat. Hanya saja memang sulit sekali mendambakan generasi yang dapat mengalahkan Mark Zuckerberg dan lainnya. Namun sebagai pendidik, orang tua tak boleh patah arang ikut mendidik anaknya agar tanggap teknologi bukan sekedar memfasilitasi tanpa kontrol. Jangan hanya memasrahkan pada guru di sekolah yang notabene harus mengurusi sekian puluh anak dalam satu kelas. Akhirnya kita hanya berdoa dan berusaha agar dapat menghadapi globalisasi, pasar bebas dan ekonomi dunia dengan bekal iman dan takwa, tak perlu merisaukan TIK yang dihapuskan namun tetap waspada dan mengambil peran penting dalam mendidik anak.





0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 

Lima Belas Menit Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review