26 Maret 2015

Wisuda= Tenggat Waktu Yang Tercapai

di 23.22
Reaksi: 
Cepat sekali waktu berlalu. Jadi ingat logo di tembok kos vida, 
“Jangan mengira waktu berlalu begitu cepat, mungkin kau yang bergerak begitu lambat”. 
Kurang lebih begitulah bunyinya. Tapi saya pun mengamini, cepat sekali waktu di lalui di kampus UIN ini. Masuk bulan September 2013, kini kami sudah harus di wisuda ahad besok. Antara senang, bangga, serta galau jadi penyempurna rasa ini. Ya, strata magister menuntut kami memiliki kompetensi yang lebih dari sebelumnya. Itulah yang membuat saya takut, takut melangkah karena beban di pundak semakin berat. Takut menatap karena di depan banyak ranjau menanti. Takut ini, takut itu. Mungkin perasaan yang wajar dialami para wisudawan. Bahkan banyak yang bilang, “Wisuda adalah gerbang pengangguran”. 
sumber
Pemeo ini tidak begitu saya fikirkan. Sebagai muslim yang baik kita percaya bahwa :

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberinya rezeki (QS. Hud: 6)
Jadi bisa-bisa ikut musyrik seseorang bila ikut meyakini bahwa wisuda adalah gerbang pengangguran, karena ia tidak percaya Allah Ar Rozzaq. Bahwa rezeki adalah rahasia sebagaimana ajal, lahir, jodoh, bahagia dan sedih. Kita hanya harus menggapainya dengan usaha keras. Bahwa rezeki bukan hanya pekerjaan dibalik kursi yang penuh formalitas, tidak ada definisi pekerjaan termulia dalam kitab manapun dan tidak ada satu pekerjaan tercela disudut dunia manapun. Tinggi rendahnya seseorang bukan karena pekerjaan yang dimilikinya. Hanya soal persepsi saja, bagi tiap mata punya hak melihat mana yang terbaik diantara yang baik.
Ketakutan para wisudawan bukanlah takut hanya sedikit risau dengan berbagai anggapan masyarakat dan orang tua yang terlalu berharap banyak pada anaknya. Untuk itulah sebagai teman, kakak, sahabat, adik, orang tua dari teman-teman yang di wisuda  selayaknya jangan memberi pertanyaan yang menjustifikasikannya bahkan menyudutkan, parahnya mengecilkan hatinya. Besarkan asanya untuk menyempurnakan daftar mimpinya. Sesungguhnya ia pun tidak bisa menjawab pertanyaan itu, “Akan jadi apakah engkau setelah ini?, Hanya Allah lah yang sanggup menjawab. Untuk itu, jangan jadikan wisuda adalah akhir belajar. Ia hanya tenggat waktu belajar yang tercapai dan maut lah batas seseorang belajar.
                                                                                                                         -Jumat, Jelang Gladi Bersih

0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 

Lima Belas Menit Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review