10 Februari 2014

FOKUS, No Wang Sinawang ^^

di 09.34
Reaksi: 
Belum satu teori pun yang saya temukan mengenai kapan batas 'labil' seseorang bisa hilang. Labil disini saya maksudkan untuk memiliki kemapanan sikap, berfikir dan lebih mantapnya adalah punya prinsip.
Saya pribadi merupakan orang yang tidak cukup baik dalam memegang prinsip, baik dalam cita-cita, hubungan sosial maupun kemapanan berfikir. 
Diusia 'matang' ini pun saya merasa belum bisa menghalau fikiran itu. Sederhananya begini: 'Saat ini saya sedang s2 lalu ada teman yang sukses dibisnisnya, adapula yang sukses dengan bimbel atau usaha kecil-kecilan miliknya, ada juga teman yang menceritakan dunia kerjanya yang dilingkupi orang-orang hebat, dimana mereka sama sekali bukan golongan akademisi namun bisa sukses.
Hal-hal ini lalu 'menggoncang' fikiran saya, akan apa yang sudah dan akan saya lalui kedepannya.
'Galau' tapi saya kurang suka dengan istilah ini. 'Wang sinawang' istilah yang sedang saya dalami dan unik saja, sederhana dan tetap merunduk rasanya.
Pasti tidak hanya saya yang mengalami hal ini karena siapapun kita mempunyai naluri untuk menjadi baik bahkan terbaik dari yang baik. Namun yang suka kita lupakan adalah kita lupa start and finish kita, yups kita tidak fokus.
Sedikit cerita di asrama dulu (karena saya 'mantan' santri jadi boleh lah cerita ulang-ulang tentang kisah hidup saya), masa-masa MTs-MA yang merupakan usia-usia mencari jati diri adalah dorongan terbesar untuk menjadi lebih dari orang-orang sekitar. Saat itu yang sedang booming adalah guru bahasa inggris karena cara mengajar beliau yang very interesting bagi kami yang sangat-sangat asing dengan bahasa inggris.
Beliau mengajarkan bahasa Inggris dengan hal-hal yang 'aneh' out of box untuk saat itu. Bagaimana tidak untuk merangsang keaktifan kami beliau membuat beberapa strategi seperti nonton film bersama, sering menginap dikamar kami lalu menceritakan dunia perkuliahannya atau aktifitas-aktifitas menyenangkan (menurut kami) yang ia alami di luar sana. Decak kagum itu wajar mengingat kami tak tahu apa yang ada diluar sana, point-nya adalah beliau sukses besar menjadi guru yang menyenangkan.
Imbas dari kekaguman itu berlanjut hingga beberapa dari kamipun sangat menggandrungi bahasa Inggris (terlihat positif bukan) ya walaupun melenceng dari tujuan utama sih karena yang kami gandrungi itu adalah film koreanya, hehee... tapi positif lo, saat itu prounonceation kami lumayan baik.
Suatu kali Ibu pengasuh tercinta saya ingat betul beliau mengatakan "Otak kita ini hanya bisa mengerjakan 1 hal saja (kudu FOKUS), jadi pilihan bagi kalian apakah ingin menjadi 'ahlul injliziyah' atau 'ahlul Qur'an'. Kalau hafal Qur'an dunia-akhirat saya jamin kalian selamat, kalau bisa bahasa Inggris apa semua santri-santri Ibu mau ke LN, mau jd TKW. (Saat itu belum bisa n berani jawab apa-apa hanya menunduk khusyuk)
Makjleb juga tuh saya dengernya, nyaris mulai hari itu porsi kegandrungan saya akan miss English yang menggoda saya kurangi. dan efek 'terjebak' harus menyelesaikan hafalan (saa itu). Tapi saya menghargai betul Pengasuh Pondok, walaupun background beliau bukan psikologi tapi nasehatnya hingga saat ini masih nempel. Saya yakin ini fadhilah Qur'an, seperti doa Nabi Musa di surat Maryam
Nah, kini setelah tak ada lagi Ibu Pengasuh jadi 'ngambang' lagi. Sedari awal sudah merancang cita mau ini dan itu, namun ketika mendengar orang lain sukses dengan cara 'A-B-C-D'nya saya jadi gamang lagi.
Hehe... katanya sih wajar 
Wang sinawang..
Beberapa hal yang menjadikan saya seperti ini sejak mengenal FB (bukan menyalahkan FB lho), yah tapi karena fasilitas upadate status dan bertambahnya teman-teman menjadikan FOKUS saya kabur, seakan Kompas yang saya pegang mulai kehilangan medan magnet kemana menuju. dan ini yang ingin saya obati. Nasihat Ustadzah saya diatas bahwa kita hanya bisa menekuni satu hal, Jika Qur'an yang FOKUS qur'an dulu, kalau Inggris ya Inggris dulu, Kalau nulis ya nulis dulu rupanya ada dalam Al Qur'an “Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain”. (QS. Al Insyirah: 7).
Mengapa? karena kita butuh FOKUS, tekun untuk menjalankan satu persatu. Baru saya fahami bagaimana ketika dulu kami diwajibkan hafal Qur'an sekaligus faham bhs Inggris, Arab, pinter menjahit, menyulam,  memasak, dan kreatifitas lainnya pasti hasilnya juga setengah-setengah.

So, untuk kembali mengaktifkan Fokus dalam fikiran ada beberapa tips! 
  • Rancang ulang rencana (cita-cita), pisahkan mana yang urgent dan mana yang kurang 
  • Bagian yang urgent segera dipecah mana yang paling prioritas dan mendesak dan mana yang tidak
  • Yang paling mendesak langsung di desain bagaimana cara kerjanya, misal ya: Saya ingin menulis buku dari skripsi S1 kemarin, lalu mulai menentukan langkah bagaimana mencari bahan tambahan, kemana? apa perlu surat izin atau tidak, temui kembali subjek yang diteliti, tambahkan hal yang perlu,  lalu susun sebaik-baiknya setelah jadi temui dosen psikologi bu A atau siapapun yag berkaitan. setelah mendapat saran coba ajukan kepenerbit.
  • Setelah proyek pertama cukup mendapat titik terang dan bisa dikatakan 90% beres lalu berlanjut pada rencana selanjutnya dan terus begitu. Intinya jangan ditinggalkan yang lebih urgent
  • Sekali lagi pakai "KACA MATA KUDA" jangan banyak melihat orang disekitar, FOKUS-FOKUS-FOKUS,
  • Perbanyak doa, dan jadikan list no. 1 adalah menghafal Qur'an. Jangan tanya apa manfaatnya bagiku? kerjakan saja dan tunggu keajabiannya.
Jangan habiskan waktumu untuk membuka-buka, membaca-baca status orang yang tidak penting, apalagi menambah pikiran negatif. Ingat, waktu yang Allah kasih untuk orang kafir dan orang muslim sama, kita yang mengolahnya. 
Jangan cemburu dengan rezeki orang lain, karena setiap kita ada jalannya. Wang sinawang, kita lihat orang lain rezekinya berlimpah ruah tetapi kita jua tak pernah tahu berpa limpahan ujian yang ia terima.
Jadilah orang bersyukur agar selalu Allah berikan rasa cukup dalam hati sehingga rezeki terus ditambah (QS.Ibrahim; 7). karena sifat manusia tidak akan puas sehingga tanah yang menutupinya (dikubur) sudah dapat 1 gunung emas tetap saja kurang pengennya 2-3 lagi
Terakhir mari berdoa 
'ALLAHUMMA A'INNI ALA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI IBADATIK'
Ya Allah, bantulah aku untuk selalu berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dg baik padaMu

للَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الْقَبْرِ
Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari sifat kikir, aku berlindung pada-Mu  dari hati yang lemah, aku berlindung dari dikembalikan ke umur yang jelek, aku berlindung kepada-Mu dari musibah dunia dan aku berlindung pada-Mu dari siksa kubur.”


0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 

Lima Belas Menit Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review