19 Februari 2014

Kurikulum 2013 Tanpa TIK, Mungkinkah Pendidikan Maju?

di 12.29
Reaksi: 
Menyusul adanya peraturan akan diberlakukannya kurikulum 2013 resmi pada Juli 2014 mendatang, sejumlah pihak merasa resah. Guru Tekhnologi dan Informasi dan Komunikasi (TIK) yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) TIK Kulonprogo resah. Mapel TIK tidak masuk dapalm kurikulum 2013. Para guru TIK mempertanyakan nasibnya karena akan diberlakukannya kurikulum 2013 bagi sekolah yang telah melaksanakannya, guru TIK harus mengajar mapel yang bukan bidangnya (KR Jumat 8/11).
Bahkan yang lebih meresahkan adalah bagaimana masa depan mahasiswa yang sedang kuliah atau berencana masuk kuliah jurusan TIK? Tentu jadi polemik bagi kampus dan mahasiswa itu sendiri teutama orang tua yang punya harapan besar anaknya menjadi guru.
Pada kurikulum 2013, sejumlah pelajaran dijenjang SMP akan dihapus, misalnya biologi dan fisika akan menjadi satu dalam mata pelajaran IPA. Sedangkan geografi dan sejarah akan dilebur menjadi IPS. Tidak hanya IPA dan IPS yang dilebur menjadi satu tetapi mata pelajaran TIK akan ditiadakan di jenjang SMP dan SMA.
Mengapa dihilangkan
Menurut Menteri Pendidikan bapak M Nuh bahwa pelajaran yang dihilangkan sebenarnya sudah terintegrasi pada mata pelajaran yang lain. Padahal kurikulum sekolah per-mata pelajaran itu sudah punya beban masing-masing bagi guru, sangat di sangsikan bila setiap guru harus mengajarkan TIK dalam lingkup pembelajarannya yang sudah padat materi. Mungkin memang bisa seorang guru memasukkan pelajaran TIK dalam materinya tetapi pasti sangat berbeda bila diampu langsung oleh guru yang memang ahli dan kompeten dalam TIK.
Yang jadi pertimbangan selanjutnya adalah masalah usia psikologis anak. TIK dihilangkan pada anak usia SMP dan SMA. Sejatinya usia SMP (12 atau 13 tahun) merupakan masa-masa pubertas peralihan dari SD yang masih anak-anak menuju ke masa remaja yang butuh dukungan bukan hanya dari guru agama di sekolah tetapi adanya panduan dari guru TIK menjadi penting mengenai bagaimana mereka beretika dengan tekhnologi. Miris sekali mendengar berita di TV maupun media cetak seperti KR ini yang memberitakan pelecehan seksual anak SMP, penyebaran video asusila oleh anak SMP juga yang notabene mereka jiwa-jiwa polos yang mencari jati diri dan ini butuh di rangkul oleh guru TIK.

Menghadapi globalisasi tanpa TIK
TIK adalah pelajaran penting menurut saya sebagai kunci menembus globalisasi. Bangsa kita baru saja kebakaran jenggot akibat AS membobol sistem informasi beberapa negara termasuk Indonesia. Nah, apabila anak bangsa dijauhkan dari teknologi dengan tidak adanya bimbingan khusus di kelas apakah masih boleh bermimpi untuk menguasai dunia sedangkan informasi saja masih kebobolan?
Pemerintah selalu menggaungkan agar anak bangsa maju, mampu berprestasi hingga ke tingkat Internasional dengan berbagai karya mereka dan ini susah sekali bila tak ditopang oleh tekhnologi.
Teknologi dan Informasi terus berkembang, bahkan setiap detiknya bermunculan gadget baru yang menyuguhkan berbagai fitur bagi anak. Siapa lagi yang diharapkan dapat mengontol anak karena tidak semua orang tua paham dengan tekhnologi, beberapa mungkin sibuk dan tidak sempat atau yang lebih parahnya orang tua tidak begitu paham dengan teknologi yang ada sekarang sehingga tidak ada kontrol yang baik.
Pernah diramalkan ditahun-tahun berikutnya semua pekerjaan akan dilakukan oleh robot, Jepang sendiri sudah memunculkan berbagai robot yang dirancang menggantikan peran manusia. Lalu Indonesia bagaimana menyiapkan diri menghadapi globalisasi?
-KR-
 


0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 

Lima Belas Menit Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review