13 Januari 2012

Contoh Pengalaman Penyelenggaraan Pendidikan Non-Formal Melalui Radio

di 00.30
Reaksi: 


             Pengalaman-pengalaman ini sengaja diambil dari sejumlah  pengalaman yang tidak dilaporkan oleh WilburSchramm dan kawan-kawan dalam New Educational media In Action, sekedar untuk ilustrasi titik tolak pembahasan.
  A. Radio Jawatan Pendidikan Masyarakat
            Pada tahun 1951  Jawatan Pendidikan Masyarakat pada Kementrian Pendidikan dan Pengajaran, menyelenggarakan suatu program siaran radio untuk pendidikan masyarakat yang sasarannya adalah pelajar demobilisan, yang setelah masa kemerdekaan mengalami banyak masalah baik untuk kembali kebangku sekolah maupun untuk menyesuaikan diri dengan masyarakat.
            Siaran dipancarkan dari pemancar jawatan sendiri di Jakarta dengan radius pemancar efektif 10 km. isi siaran diambil dari pelajaran SMA dan bahan-bahan actual dalam masyarakat. Pada mulanya siaran ini mendapat respon bagus dari masyarakat. Namun, hanya dapat bertahan 2 tahun.
Kesulitan-kesulitan yang dihadapi diantaranya: 
1. Kurang baiknya perencanaan karena hanya dibuat rencana jangka pendek dan tidak melibatkan semua pihak.
2. Kurang berjalannya koordinasi yang ada dengan jawatan-jawatan lain. 
3. Kurangnya tenaga terlatih baik pada produksi maupun penggunaan.
4. Kurangnya bahan penyerta siaran sehingga radio lebih banyak berdiri sendiri.
5. Kurangnya dana untuk pembinaan. 
       B. Radio Sutatenza di Columbia
            Usaha ini dimulai pada tahun 1947 dan mulai secara terbatas oleh dana dan keperluan suatu misi keagamaan. Program ini ditujukan untuk para petani-petani di desa. Melalui Radiophonic Schools of Sutatenza ini disiarkan pelajaran-pelajaran dalam: 
1. Dasar-dasar kesehatan
2. Kemampuan baca tulis
3. Berhitung 
4. Perhatian dan keagamaan.
            Dalam pelajaran baca tulis, radio terutama berfungsi untuk menimbulkan motivasi untuk belajar baik sendiri maupun berkelompok. Dengan keberhasilan ini maka sasaran dan program diperluas dan timbullah masalah dan kenyataan baru, antara lain:
  1. Kedudukan petani yang terpencar dan perbedaan latar belakang kebudayaan mereka menyebabkan berbedanya tingkat penerimaan dan reaksi mereka. 
  2. Diperlukan radio lebih banyak lagi untuk kelompok kecil. 
  3. Bahan pelajaran yang kurang sesuai dengan tingkat pengetahuan dan kecerdasan pendengar.
  4. Kurangnya pemimpin awam 
  5. Kurang khusus dan jelasnya kebutuhan yang ada pada masyarakat pendengar 
  6. Kurang sesuainya metode pengajaran. 
Pelajaran Yang dapat ditarik:
  • pendidikan melalui radio harus merupakan kebulatan sistem penyajian (total delivery system). beberapa komponen penting dalam sistem penyampaian ini adalah: 
  1. kurikulum (segala kegiatan yang diberikan kepada anak didik)
  2. acara dan metode siaran yang diatur
  3. tempat kegiatan belajar yang dilengkapi dan diawasi oleh seorang Pembina Pendidikan.
  4. monitoring kegiatan dan kemajuan anak.
  5. evaluasi kemajuan
  • isi pendidikan non-formal merupakan response dari kebutuhan khusus dan umumnya jangka pendek, jadi meihat kebutuhan dan mnyesuaikan dengan target, tujuan dan kurikulum.
 dari uraian diatas maka untuk menemukan apa yang dapat dilakukan  melalui radio dalam pendidikan non-formal, kita perlu memutuskan:\
  1. komponen apa yang diperlukan adanya
  2. tujuan khusus yang akan dicapai 
  3. cara pembawaan isi (treatmen of program content) bagaimana yang akan dilakukan.
makin sederhana putusan dan pilihan kita, makin sederhana kegiatan yang dilakukan dan makin sederhana pula (kurang efektif) hasil yang kita capai. sekali lagi mengambil keputusan kita harus terikat (commited) sampai diperoleh umpan balik (feedback) dan pelajaran dari pengalaman

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Ada kesalahan di dalam gadget ini
     

    Lima Belas Menit Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review