13 Januari 2012

Guru dan Pendidikan karakter

di 08.45
Reaksi: 

              Pengalaman adalah guru yang terbaik. Peribahasa tersebut menunjukkan bahwa sebenarnya dalam belajar kita tidak harus mencari guru, lalu muncul pertanyaan apakah guru itu  harus orang atau pengalaman (dalam artian alam, lingkungan baru dan lain-lain) dalam pembelajaran? Ini memang pertanyaan fislosofis yang mengecohkan/ memiliki banyak tafsir. Tapi sejatinya guru/ pendidik adalah sarana transformasi ilmu kepada abak didik. Itulah mengapa guru dituntut memiliki sejumlah keahlian (professional) dalam mengajar agar dapat menyampaikan ilmunya dengan tekhnik yang benar bukan asal-asalan. Mengapa penting? Karena anak didik kelak diharapkan menjadi penerus bangsa yang benar , merekalah yang melanjutkan kehidupan.   
            Jika mereka terdidik dengan baik, harapannya bangsa ini menjadi bangsa yang baik.  Memiliki murid yang cerdas, santun dan taat beragama merupakan cita-cita luhur seorang pendidik atau lebih akrabnya kita sebut guru. Namun, untuk mewujudkannya  tidak seperti membalikkan telapak tangan. Perlu usaha keras, semangat tinggi serta kompetensi yang memadai sebagaimana persyaratan menjadi seorang guru. Tugas yang diemban memang memang tidak ringan namun tidak mustahil untuk diwujudkan bila ada kesungguhan dan kerja keras.
Guru dan pendidikan karakter merupakan sebuah kesatuan yang butuhkan untuk mewujudkan bangsa yang berkarakter pula.

Pendidikan karakter
           pengertian pendidikan dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam pasal Pasal 1 butir 1 UU Nomor 20 Tahun 2003 dijelaskan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.
         Menurut Thomas Lickona pendidikan karakter adalah sebagai berikut: “Character education is the deliberate effort to help people understand, care about, and act upon core ethical values”. “Pendidikan karakter adalah usaha sengaja (sadar) untuk membantu manusia memahami, peduli tentang, dan melaksanakan nilai-nilai etika inti”. Berkenaan dengan pentingnya pendidikan ini, kita diingatkan bahwa “Education comes from within; you get it by struggle and effort and thought” (Napoleon Hill). Pendidikan datang dari dalam diri kita sendiri, kita memperolehnya dengan perjuangan, usaha, dan berfikir.
Dari gabungan pengertian tersebut kita memahami bahwa pendidikan karakter merupakan usaha yang dijalankan terus menerus (mulai dari anak memasuki sekolah sampai ke jenjang berikutnya) guru/ pendidik mempunyai tugas menanamkan karakter, nilai-nilai luhur, memahami, memupuk dan membiasakan baik untuk guru itu sendiri dan meluas pada murid yang tentu harapannya manfaat yang diberikan akan sampai pada masyarakat.

Unsur-unsur pendidikan karakter
     Thomas Lickona mengatakan ada 7 (tujuh) unsur pendidikan karakter, yaitu:
  1. ketulusan hati atau kejujuran (honesty);
  2. belas kasih (compassion);
  3. kegagahberanian (courage);
  4. kasih sayang (kindness);
  5. kontrol diri (self-control);
  6. kerja sama (cooperation);
  7. kerja keras (deligence or hard work).
            Tujuh karater inti (core characters) itulah, menurut Thomas Lickona, yang paling penting dan mendasar untuk dikembangan pada peserta didik selain sekian banyak unsur-unsur karakter yang lain. Jika kita analisis dari sudut kepentingan restorasi kehidupan bangsa kita menurut istilah Ir. Sutawi, M. P, maka ketujuh karakter tersebut memang benar-benar menjadi unsur-unsur yang sangat esensial. Katakanlah unsur ketulusan hati atau kejujuran, bangsa saat ini sangat memerlukan kehadiran warga negara yang memiliki tingkat kejujuran yang tinggi. Membudayanya ketidakjujuran merupakan salah satu tanda dari kesepuluh tanda-tanda kehancuran suatu bangsa menurut Lickona.
Selain tujuh unsur karakter yang menjadi karakter inti menurut Thomas Lickona tersebut, para pegiat pendidikan karakter mencoba melukiskan pilar-pilar penting karakter dalam gambar dengan menunjukkan hubungan sinergis antara keluarga, (home), sekolah (school), masyarakat (community) dan dunia usaha (business).
            Tentu kita mengharapkan ketujuh nilai tersebut dapat tertanam kuat dalam jiwa anak sehingaa tertancam kuat dalam dirinya. Dengan mencuatnya kasus Siami bocah SD dari Surabaya yang berteriak lancang membongkar praktek contek masal kita makin bertanya-tanya, apakah bisa merubah sistem UN dengan adanya pendidikan karakter lalu lebih mengedepankan kejujuran?, belum lagi masalah kekerasan, tawuran antar sekolah, bahkan pelecehan dalam kendaraan yang sekarang marak terjadi. Apakah cukup hanya guru yang berperan dalam pendidikan karakter?

0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 

Lima Belas Menit Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review