30 Agustus 2014

IKAPI itu apa ya?

di 06.56
Reaksi: 

Hari ke-5 [29 Agustus 2014]

IKAPI

Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), jujur saya baru buka webnya pas membuat tulisan ini.

Sejarah singkat yang saya paste dari webnya


Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) adalah asosiasi profesi penerbit satu-satunya di Indonesia yang menghimpun para penerbit buku dari seluruh Indonesia. Ikapi didirikan pada tanggal 17 Mei 1950 di Jakarta. Para pelopor dan inisiator pendirian Ikapi adalah Sutan Takdir Alisjahbana, M. Jusuf Ahmad, dan Nyonya A. Notosoetardjo. Pendirian Ikapi didorong oleh semangat nasionalisme setelah Indonesia merdeka tahun 1945.

Ikapi kemudian dibentuk sebagai organisasi profesi penerbit buku berasaskan Pancasila, gotong royong, dan kekeluarga. Atas kesepakatan para pendiri Ikapidiangkatlah Achmad Notosoetardjo sebagai Ketua pertama Ikapi, Ny. Sutan Takdir Alisjahbana sebagai wakil ketua, Machmoed sebagai sekretaris, M. Jusuf Ahmad sebagai bendahara, dan John Sirie sebagai komisaris. Pada masa awal tersebut bergabung tiga belas penerbit sesuai dengan buku yang disusun Mahbub Djunaidi dan versi lain dari Zubaidah Isa menyebutkan jumlah empat belas penerbit bergabung pada masa awal Ikapi tersebut. Namun, baik Mahbub maupun Zubaidah tidak menyebutkan siapa saja penerbit yang bergabung tersebut.


 Lima tahun setelah berdiri, Ikapi mampu menghimpun 46 anggota penerbit yang sebagian besar berdomisil di Jakarta dan sisanya di Pulau Jawa dan Sumatra. Ikapi dipusatkan di Jakarta sebagai ibu kota negara. Dalam sejarah perkembangannya, Medan sebagai salah satu kota basis penerbitan di Indonesia telah lebih dulu memiliki organisasi yang menghimpun penerbit dan pedagang buku lokal sejak 1952. Organisasi itu bernama Gabungan Penerbit Medan (Gapim) dengan 40 anggota dan 24 di antaranya adalah pedagang buku. Ikapi kemudian merangkul Gapim melalui kunjungan ketua Ikapi ke Medan pada September 1953. Gapim bersedia melebur ke dalam wadah Ikapi sehingga terbentuklah Ikapi Cabang Sumatra Utara pada Oktober 1953 dengan 16 anggota sebagai cabang Ikapi pertama.


 Kongres Ikapi I diadakan pada tanggal 16-18 Maret 1954 di Jakarta. Kongres I ini mengesahkan terbentuknya cabang-cabang Ikapi untuk wilayah Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Sebagai organisasi penerbit, Ikapi juga meluncurkan majalah di bidang perbukuan bernama Suara Penerbit Nasional yang diluncurkan pada bulan Maret 1954. Namun, majalah ini hanya bertahan enam nomor dan selanjutnya tidak terbit lagi.


 Kini Ikapi telah berusia 63 tahun dan selama itu periode kepemimpinan terus berganti dengan berbagai dinamikanya. Berikut ini data-data sejarah Ikapi. Sekretariat Ikapi berada di Gedung Ikapi, Jalan Kalipasir, No. 32, Cikini-Jakarta Pusat.

Bisa dibilang, belum semuanya akrab dengan istilah IKAPI. Masyarakat lebih mengenal penerbit buku dari pada kepengurusan dibelakangnya. Ini mungkin disebabkan kurangnya sosialisasi dan himbauan dari IKAPI sendiri. Kalau melihat iklan di tivi yang begitu gencarnya, saja suka berfikir “mengapa banyak hal baik yang kurang di sosialisasikan lewat media itu ya?”.


Coba deh, masyarakat kita lebih suka duduk pasif depan tivi dari pada membuka buku yang perlu energi ekstra untuk memegang, membaca, membuka lembar perlembar. Hanya segelintir orang yang memang punya kesadaran lebih yang peduli akan hal ini.

Peran IKAPI tentu sangat besar dalam perbukuan. Harapannya, kedepan lebih meningkatkan sosialisasi melalui kampus, sekolah-sekolah, masyarakat desa, ibu-ibu PKK serta TPA-TPA di pelosok. Karena saya sendiri sedang mencoba menggiatkan santri TPA untuk menulis, dan ternyata mereka bisa. Selama ini yang mereka kira, menulis hanyalah aktifitas orang tertentu saja dan mereka tidak punya hak. Sosialisasi bisa dalam banyak hal, kunjungan, bantuan buku, seminar, roadshow gemar membaca, lomba-lomba dan gerakan lainnya sangat perlu dikenal masyarakat. Ternyata masyarakat desa tempat saya pun mengakui kalau mereka ingin maju, hanya saja mereka tidak tau bagaimana caranya kerena dulu tidak sekolah. inilah yang perlu kita sentuh dengan buku dan bacaan yang bermanfaat.


Jika saya menjadi anggota IKAPI, hal pertama adalah memberdayakan desa sendiri. Seperti mas gola gong yang memulai rumah baca dan memberdayakan lingkungan sekitarnya. Saat ini saya mencoba mengajukan berbagai bantuan buku dan diapresiasi oleh Diva Press. Harapannya jika sudah terbentuk taman baca, maka anak lebih tertantang menulis. Kasian sekali jika mereka dipaksa menulis tapi tak ada rujukan sepertiapa menulis itu. Setelah desa saya maju lalu sosialisasi ditingkatkan kedaerah lain sambil menularkan semangat baca-tulis, mengadakan berbagai lomba, lalu menggalakan menulis-baca lagi. Saya punya mimpi akan ada antologi-antologi bersama anak-anak desa yang bercerita tentang apa saja yang mereka mau dan yang mereka mimpikan juga.  






0 komentar:

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 

Lima Belas Menit Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review